Tak Lagi di Singapura, kini Perusahaan Terbesar Asia Tenggara Ada di Indonesia

Tak Lagi di Singapura, kini Perusahaan Terbesar Asia Tenggara Ada di Indonesia
info gambar utama

Beberapa waktu lalu, Sea Ltd, perusahaan konglomerasi teknologi yang bermarkas di Singapura, kehilangan gelarnya sebagai perusahaan publik terbesar di Asia Tenggara setelah sahamnya jatuh ke level terendah dalam 18 bulan terakhir.

Sea Ltd yang merupakan perusahaan induk dari Shopee, SeaMoney, dan Garena tersebut ini terdaftar di bursa saham Singapura, Bursa Efek Frankfurt, dan Bursa Efek New York.

Selama beberapa lama, perusahaan tersebut menjadi perusahaan publik terbesar di Asia Tenggara, namun kini posisi itu diambil alih oleh PT Bank Central Asia (BCA) yang berpusat di Indonesia, setelah penerimaan deposito AS-nya merosot menjadi 120,52 dolar AS pada hari Rabu minggu lalu di New York.

Nilai pasarnya sebesar 66,9 miliar dolar AS turun dari puncaknya sebesar 202,6 miliar dolar AS pada Oktober 2021. Kala itu, Sea menjadi perusahaan publik terbesar di Asia Tenggara, jauh meninggalkan perusahaan-perusahaan lain.

Kini, perusahaan publik terbesar di Asia Tenggara adalah Bank Central Asia dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai 68,5 miliar dolar AS, lalu diikuti oleh DBS Group Holdings Ltd. Sementara Singapura yang berada di peringkat ke-3 dengan 66,1 miliar dolar AS.

Kantor Sea di Singapura | Sea Ltd
info gambar

Sea go public pada tahun 2017 dan dengan cepat menjadi perusahaan paling berharga di Asia Tenggara, yang kemudian memicu perdebatan di Wall Street mengenai apakah perusahaan gim, eCommerce, dan jasa keuangan itu akan menjadi the next internet giant (raksasa internet masa depan), atau hanya sedang mengalami gelembung teknologi global yang memang sedang booming.

Sea Ltd kehilangan lebih dari 16 miliar dolar AS nilainya dalam penurunan harian terbesarnya minggu lalu, setelah India tiba-tiba melarang gim seluler paling populernya, yakni Free Fire, dengan alasan bahwa investor Sea berasal dari China, yang kini sedang 'dimusuhi' india.

Kalangan investor bahkan kini semakin khawatir bahwa larangan itu mungkin hanya awal dari masalah Sea selanjutnya.

Franklin Dynatech Fund dan Blackrock Capital Appreciation Fund Inc., termasuk di antara manajer aset yang memangkas kepemilikan mereka di Sea pada Januari 2022 lalu. Demikian data yang dianalisis oleh Bloomberg.

Kantor BCA di Jakarta | BCA.co.id
info gambar

Saat Sea sedang dilanda masalah, BCA masih menjadi bank swasta terbesar dari sisi aset dan nasabah di Indonesia dan di lantai bursa. Nilai kapitalisasi pasar saham (market cap) bank tersebut merupakan yang terbesar yang sedikit lagi menembus Rp1.000 triliun.

Minggu lalu, market cap-nya mencapai Rp982,4 triliun, atau rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) dalam sejarah bank tersebut. Hal ini seiring penguatan harga BCA sebesar 1,9 persen ke posisi Rp8.050 atau tertinggi setelah stock split.

Tak hanya dari sisi market cap saja BCA menguat, Brand Finance belum lama ini merilis laporan 'BRAND FINANCE BANKING 500 2022', yakni daftar bank-bank dengan brand/merek terkuat di dunia, dan BCA menjadi merek terkuat di dunia.

Brand Finance menentukan kekuatan relatif sebuah merek melalui metrik yang seimbang dan mengevaluasi investasi pemasaran, ekuitas pemangku kepentingan, dan kinerja bisnis.

Disertifikasi oleh ISO 20671, penilaian Brand Finance tentang ekuitas pemangku kepentingan menggabungkan data riset pasar asli dari lebih dari 100.000 responden di lebih dari 35 negara dan di hampir 30 sektor.

Berdasarkan kriteria tersebut, BCA di Indonesia merupakan bank terkuat di dunia dalam peringkat Brand Finance Banking 500 2022, menyusul kenaikan +2,5 poin untuk mencapai skor Brand Strength Index (BSI) 94,0 dari 100 dan peringkat kekuatan merek AAA+ elit.

Dalam riset pasar awal Brand Finance, BCA mengungguli para pesaingnya dalam hal reputasi dan kualitas, dan mendapat nilai tinggi untuk value of money.

Sumber:

Bloomberg | Brand Finance BRAND FINANCE BANKING 500 2022 | Investor.ID

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini