Memahami Peran Gajah dan Orangutan Sebagai Spesies Kunci di Alam Liar

Memahami Peran Gajah dan Orangutan Sebagai Spesies Kunci di Alam Liar
info gambar utama

Tahun ini World Wildlife Day atau Hari Alam Liar Sedunia kembali diperingati untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi satwa dan melawan kejahatan terhadap flora dan fauna. Tahun ini, tema yang diangkat adalahh Recovering Key Spesies for Ecosystem Restoration atau Memulihkan Spesies Kunci untuk Restorasi Ekosistem.

Menurut catatan International Union for the Conservation of Nature (IUCN), lebih dari 8.400 spesies fauna dan flora liar sebagai terancam punah, sementara hampir 30.000 lebih dianggap terancam atau rentan. Hari Alam Liar Sedunia juga bertujuan untuk mendukung pemulihan habitat dan ekosistem khususnya pada spesies kunci.

Ekosistem akan sehat ketika spesies komponennya berkembang. Jika satu spesies kunci menghilang, seluruh ekosistem dapat terus mengalami penurunan bahkan terancam kematian. Aksi untuk melindungi spesies kunci harus terus dijalankan seiring dengan pemulihan pada seluruh ekosistem.

Hilangnya spesies, habitat, dan ekosistem yang terus berlanjut akan mengancam kehidupan seluruh kehidupan di bumi, dan tentunya berdampak pada kehidupan manusia. Orang-orang bergantung pada satwa liar dan sumber daya berbasis keanekaragaman hayati untuk memenuhi semua kebutuhan seperti makanan, bahan bakar, obat-obatan, perumahan, pakaian, bahkan mata pencaharian.

Dalam rangka memperingati Hari Alam Liar Sedunia, mari mengenali peran spesies kunci yang penting bagi alam liar.

Mengenal Penyu Belimbing, Si Pemakan Ubur-Ubur dan Penjelajah Lautan Tangguh

Peranan spesies kunci di alam liar

 Orangutan | @ Tristan Tan Shutterstock
info gambar

Spesies kunci merupakan spesies yang memiliki dampak besar terhadap lingkungan dan dapat memengaruhi ekosistem. Dapat dikatakan ekosistem bergantung pada spesies kunci dan bisa berubah bila mereka punah. Spesies kunci juga memiliki redundansi fungsional yang rendah dan jika mereka menghilang dari ekosistem, tidak ada spesies lain yang dapat mengisi ceruk ekologisnya.

Untuk hewan yang termasuk spesies kunci adalah yang memiliki pengaruh besar pada jaring makanan dari satu habitat ke habitat lain seperti orangutan dan gajah.

Konservasi habitat untuk spesies kunci memiliki dampak positif pada populasi bagi spesies lain karena mereka bergantung dan berbagi tipe habitat yang sama untuk kelangsungan hidupnya.

Gajah dianggap sebagai spesies kunci karena dampaknya terhadap lingkungan, ia juga merupakan spesies payung yang dapat membantu persebaran biji tanaman dan melindungi spesies-spesies kecil.

Pada zaman purba sekitar 11 juta tahun lalu, setidaknya ada enam genus atau sub genus gajah hidup di Indonesia, termasuk wilayah Sangiran, Flores, Sulawesi, dan Kalimantan. Namun, hampir semua spesies punah dan menyisakan gajah Sumatra dan gajah Kalimantan. Secara alami, mereka suka berteman, berkeliaran dalam kawanan keluarga, memakan rumput, daun, ranting, dan kulit kayu lebih dari 100 spesies tanaman.

Gajah makan sangat banyak dan bisa sampai 300 kg per hari. Kemampuan makannya menjadi keuntungan bagi alam dan erat hubungannya terkait interaksi dengan spesies lain. Tanaman di hutan dimakan oleh gajah dan membuat pohon-pohon terus produktif. Dengan tubuh yang besar, gajah berkeliaran di hutan dan membuka jalan bagi satwa lain.

Gajah juga membuang kotoran hingga 18 kali dalam sehari dan memberikan kontribusi bagi alam. Kotoran gajah dapat menjadi pupuk untuk menyuburkan tanah. Biji-bijian yang dimakan dan dibuang lewat kotoran akan tersebar di alam, tertanam di tanah, dan biji-biji tersebut akan kembali tumbuh lebih cepat. Ini karena biji yang terkandung dalam kotoran gajah telah diolah dalam sistem pencernaan dan punya kelebihan khusus.

Selain gajah juga ada orangutan sebagai spesies kunci yang memegang peranan penting di alam liar. Indonesia memiliki tiga spesies orangutan, yaitu Sumatra, Kalimantan, dan Tapanuli. Sebagai salah satu kerabat dekat manusia, orangutan memang dikenal punya kecerdasan tinggi.

Orangutan memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan personal dan merasakan emosi. Sebagai spesies kunci, orangutan punya peran penting dalam menjaga kesehatan ekosistem di habitatnya yaitu hutan tropis.

Spesies ini menyebar biji sambil mengonsumsi aneka buah-buahan di hutan, mencerna biji-bijian, dan menjelajah hutan sambil menyebar biji-bijian yang merupakan caranya dalam menjaga regenerasi hutan. Seperti yang dilakukan gajah, persebaran biji yang dilakukan orangutan juga akan merangsang pertumbuhan pepohonan yang berfungsi untuk menghasilkan oksigen dan menyerap karbondioksida.

Dengan melindungi orangutan, gajah, dan spesies kunci lainnya akan memberikan dampak besar bagi ekosistem dan kehidupan manusia.

Lutung Simpai, Surili Endemik Sumatra dan Kehidupannya di Alam Liar

Tantangan kehidupan spesies kunci di alam

Meski keberadaannya sangat penting bagi ekosistem, kehidupan spesies kunci juga tak lepas dari ancaman. Keluarga gajah berkeliaran di daerah yang luas untuk makan dan minum, tetapi habitatnya terus menyusut. Sejak tahun 1979, habitat gajah Afrika terus berkurang sampai 50 persen dan gajah Asia juga hanya memiliki 15 persen dari habitat aslinya.

Dengan berkurangnya habitat, spesies kunci semakin sulit menemukan makanan dan air untuk bertahan hidup. Semakin banyak gajah berjuang menemukan makanan dan mendekat ke wilayah dekat manusia yang berujung pada timbulnya konflik. Ditambah lagi, gajah juga terancam karena perburuan. Gadingnya diambil dan kulitnya dijual dalam perdagangan ilegal.

Di Indonesia, konservasi lahan menjadi permasalahan utama dalam konservasi gajah. Di Sumatra, , pada tahun 1990, luas hutan alam adalah 21,3 juta hektare, tetapi yang tersisa pada tahun 2014 hanyalah 10,8 juta hektare.

Untuk orangutan sendiri telah menjadi satwa dilindungi dan statusnya menurut CITES adalah Appendix I yang artinya tidak boleh diperdagangkan. Sayangnya, primata ini juga masih sering diburu karena dianggap hama.

Hilangnya hutan tropis di Kalimantan juga akan menimbulkan bencana ekologis yang berdampak pada masyarakat setempat dan seluruh penghuni planet. Jika hutan terbakar, simpanan karbon dalam jumlah besar akan terlepas ke atmosfer dan memperburuk dampak perubahan iklim. Kalau hutan sampai musnah, masyarakat akan kehilangan mata pencahariaan dan sumber daya tak ternilai.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini