Mengenal Ragam Spesies Kuskus Endemik di Alam Liar Sulawesi

Mengenal Ragam Spesies Kuskus Endemik di Alam Liar Sulawesi
info gambar utama

Beberapa orang mungkin sudah tidak asing dengan kuskus. Namun bagi sebagian lainnya yang belum biasa berjumpa dengan hewan satu ini, mungkin akan dibuat bingung karena bentuknya yang jika dilihat sekilas terlihat seperti kukang, terutama saat masih berusia kecil.

Apabila dilihat dari dekat, kuskus juga dinilai lebih mirip seperti kanguru versi mini karena memiliki kantung di bagian depan yang berfungsi sama, yaitu untuk tempat diam anak yang baru lahir sampai usia 8 bulan.

Namun yang jelas berbeda dengan kanguru, kuskus sendiri merupakan hewan yang memiliki sifat arboreal, atau menghabiskan hampir seluruh waktu hidupnya di puncak pohon, sehingga jarang dijumpai atau terlihat di permukaan tanah. Adapun alasan lain hewan ini lebih sering bersarang di puncak pohon adalah untuk mendapatkan perlindungan dari pemangsa darat.

Mendukung karakteristiknya sebagai hewan arboreal, kuskus juga dapat dikatakan sebagai hewan pemalas sekaligus pemalu. Pemalas karena mereka diketahui menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur, dan hanya beraktivitas keluar sarang saat merasa lapar kemudian mencari makanan.

Sementara itu julukan pemalunya muncul karena kuskus juga dikenal sebagai hewan penyendiri, kalaupun berkumpul mereka hanya terdiri dari induk dan beberapa anakan pada saat di luar masa kawin.

Berkenalan dengan Yaki, Monyet Hitam Berjambul Endemik Sulawesi

Mengenal 3 Kuskus endemik Sulawesi

Dari total enam genus kuskus yang ada di dunia, di Indonesia sendiri sebenarnya ada jenis kuskus yang beragam, di antaranya kuskus tutul, kuskus tanah, kuskus cokelat, kuskus hitam, dan masih banyak lagi.

Namun selain deretan jenis kuskus di atas, ada tiga kuskus endemik yang hanya bisa ditemukan di wilayah Indonesia Timur, lebih tepatnya Pulau Sulawesi.

Apa saja jenisnya?

Kuskus beruang sulawesi (Ailurops ursinus)

Kuskus beruang sulawesi
info gambar

Jenis kuskus pertama ini memiliki ukuran tubuh yang hampir sama seperti kucing, atau bahkan bisa lebih besar. Lebih detail, panjang badan hingga kepalanya bisa mencapai 54 sentimeter sementara ekornya 54 sentimeter. Untuk bobot, kuskus beruang sulawesi bisa mencapai 8 kilogram.

Fakta uniknya, ujung ekor kuskus sulawesi disebut sangat kuat bahkan sampai dapat digunakan untuk bergelantungan atau melilit batang dahan pohon saat mencari makan. Lain itu, ekornya juga dapat digunakan untuk menahan seluruh beban tubuhnya saat bergantung dengan posisi kepala di bawah.

Warna dasar tubuh bagian atas kuskus sulawesi adalah hitam pucat dengan rambut bagian punggung berwarna cokelat kehitaman. Seperti yang telah disebutkan, kuskus sulawesi sangat pendiam serta jarang bersuara, dan cenderung bersembunyi di balik dedaunan pohon saat merasa terancam.

Bukti jika hewan ini pemalas, pengamatan dari KLHK menyebut jika kuskus sulawesi menghabiskan 89,05 persen waktunya untuk tidur atau beristirahat, sedangkan sisanya digunakan untuk bergerak mencari makan.

Memiliki siklus melahirkan satu hingga dua kali dalam setahun, kuskus sulawesi banyak memakan dedaunan dan buah. Penyebarannya sendiri dapat dijumpai di seluruh Pulau Sulawesi termasuk Pulau Buton.

Kuskus beruang talaud (Ailurops melanotis)

Kuskus beruang talaud
info gambar

Berbeda dengan kuskus sulawesi, kuskus beruang satu ini dinamakan talaud karena memang wilayah persebarannya yang hanya dijumpai di Kepulauan Sangihe dan Talaud. Dari segi ukuran dan bobot, kuskus talaud nyaris tidak memiliki perbedaan dengan kuskus sulawesi.

Perbedaan baru dapat dilihat dari segi bulu atau rambut di mana kuskus talaud memiliki warna cenderung lebih kekuningan, dan daun telinganya cenderung lebih gelap.

Tidak jauh berbeda dari kuskus sulawesi, identifikasi kuskus talaud juga mencatat jika mereka menghabiskan 78,19 persen waktunya untuk istirahat atau tidur, dan sisanya untuk beraktivitas. Sedikit lebih ‘bersosialisasi’ kuskus talaud berjenis kelamin jantan dan betina biasanya hidup soliter atau berpasangan pada saat musim kawin.

Sebagai hewan folivora, kuskus talaud lebih banyak mengonsumsi ragam jenis daun-daunan terutama daun muda, dan hanya memakan bunga atau buah dalam jumlah terbatas.

Kuskus kerdil/tembung (Strigocuscus celebensis)

Kuskus kerdil
info gambar

Jenis kuskus satu ini baru merupakan kuskus terkecil jika dibandingkan dengan spesies kuskus endemik sulawesi lainnya. Karena itu pula, hewan satu ini dinamakan kuskus kerdil. Memiliki panjang tubuh hingga kepala di kisaran 29-38 sentimeter, dengan panjang ekor 27-37 sentimeter, bobot dari kuskus kerdil pun hanya berada di kisaran 1 kilogram bahkan kurang.

Perbedaan juga dapat dilihat dari warna kulitnya yang cokelat cenderung keputihan, dan jika dilihat dari dekat seperti sedikit memiliki totol-totol cokelat. Jika kuskus sulawesi menggunakan ekor kuatnya untuk bergantung, kuskus kerdil menggunakan bagian ekor tanpa bulunya untuk menjangkau makanan di titik-titik yang sulit dijangkau, sehingga membuat ekor tersebut nampak seperti kaki kelima.

Hal yang juga membedakan kuskus kerdil dengan dua kuskus endemik sulawesi di atas, hewan satu ini memiliki moncong yang sedikit lebih lancip dan ditumbuhi kumis berwarna putih. Selain itu di bagian atas kepalanya juga terdapat garis berwarna cokelat ke arah belakang.

Secara spesifik, kuskus kerdil lebih menyukai tinggal di pohon kelapa dan suka memakan buah kelapa yang masih sangat muda. Selain itu, mereka juga suka memakan daun-daunan, bunga, kulit pohon, dan jamur hutan.

Hal menarik lain dari kuskus kerdil adalah mengenai reproduksinya, kuskus kerdil memiliki masa kehamilan yang relatif singkat yakni hanya 20 hari, sama-sama bisa mengandung satu hingga dua kali dalam waktu satu tahun dengan sekitar tiga hingga empat anak yang lahir, tapi ternyata hanya satu anak saja yang akan mereka asuh.

Punya pola penyebaran yang lebih luas, kuskus kerdil dapat dijumpai di seluruh Pulau Sulawesi termasuk kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaud.

Dari tiga jenis kuskus endemik di atas, satu di antaranya yakni kuskus beruang talaud berada di status terancam puncah (critically endangered), sementara itu kuskus beruang sulawesi dan kuskus kerdil saat ini berada di status rentan (vulnerable).

Maleo, Burung Endemik Sulawesi yang Dikenal Setia Pada Pasangannya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini