Rumoh Aceh, Arsitektur Rumah Adat Tahan Gempa yang Awet 200 Tahun

Rumoh Aceh, Arsitektur Rumah Adat Tahan Gempa yang Awet 200 Tahun
info gambar utama

Rumah Aceh atau lebih dikenal dengan nama rumoh Aceh merupakan rumah adat dari masyarakat Aceh. Rumah adat ini telah digunakan masyarakat sejak lama, dan diwariskan secara turun-temurun kepada generasi penerusnya.

Rumoh Aceh bukan sekadar tempat hunian, tetapi merupakan ekspresi keyakinan terhadap Tuhan dan adaptasi terhadap alam. Oleh karena itu, melalui rumoh Aceh, bisa diketahui budaya, pola hidup dan nilai-nilai yang diyakini oleh masyarakat Aceh.

Moehammad Hoesin dalam buku Adat Aceh menyebut ketika anak perempuan telah menginjak umur tujuh tahun, maka sang ayah mulai mengumpulkan bahan-bahan kayu, bahan atap berupa daun rumbia atau daun nipah dan bahan-bahan lainnya.

Rumah dan perkarangannya menjadi miliki anak-anak perempuan atau ibunya. Nantinya rumah dan perkarangan ini tidak boleh di hukum waris. Jika seorang suami meninggal dunia, maka rumah ini akan menjadi milik anak perempuan atau istri.

“Itu sebabnya istri di adat Aceh disebut peurumah (yang punya rumah),” tulisnya.

Syair Smong, Kearifan Lokal yang Selamatkan Simeulue dari Tsunami Aceh

Menurut Hoesin, adat ini telah ada di Aceh semenjak Putroe Phang, istri Sultan Iskandar Muda membuat peraturan tersebut pada abad 17, untuk melindungi janda yang bila diceraikan oleh suaminya tetap bisa memiliki rumah.

Sementara itu untuk pembangunan rumoh Aceh dilakukan secara gotong royong yang disebut meurame, di bawah pimpinan seorang utoh (tukang kayu/kepala tukang). Jika rumah sudah berdiri, maka tugas dari utoh telah selesai.

Masyarakat Aceh juga mampu beradaptasi dengan lingkungan, hal yang terlihat dari rumoh Aceh yang memiliki bentuk panggung. Tiang penyangganya yang terbuat dari kayu pilihan, dindingnya dari papan, dan atapnya dari rumbia.

“Pemanfaatan alam juga dapat dilihat ketika mereka hendak menggabungkan bagian-bagian rumah, mereka tidak menggunakan paku tetapi menggunakan pasak atau tali pengikat dari rotan,” tulis Dr. Kamal A. Arif dalam artikel berjudul Keluhuran Seni Arsitektur Rumoh Aceh.

Pada zaman dahulu, dinding dan lantainya terbuat dari bambu, sehingga dapat diikat atau di jalin satu sama lain. rumoh Aceh juga dikenal sebagai the earthquake resistant house (rumah tahan gempa) dan mampu bertahan hingga 200 tahun.

Konsep Islami dalam arsitektur rumoh Aceh

Rumoh Aceh berbentuk rumah panggung. Besarnya rumoh Aceh tergantung pada banyaknya reuweung (ruang), ada yang tiga ruang, lima ruang, tujuh ruang, hingga sepuluh ruang.

Beranda muka disebut seurame keue, serambi belakang disebut seurame likot, bagian utama rumah ada pada bagian tengah yang dibuat lebih tinggi daripada lantai serambi. Bagian utama rumah ini disebut tungai.

“Pada bagian tungai ini terletak dua bilik (kamar) tidur, yaitu rumah inong dan anjong. Rumah inong adalah bilik peurumah (istri) sedangkan anjong adalah bilik untuk anak perempuan,” catat Kamal.

Kamal melihat hal ini merupakan bukti mulianya posisi peuramah dalam Adat Aceh. Karena keharmonisan rumah tangga adalah hal yang paling penting. Sehingga ditempatkan pada posisi yang paling utama, di tengah dan di lantai tertinggi.

Secara kasat mata, ornamen pada setiap rumoh Aceh mungkin akan terlihat sama. Tetapi jika ditelisik, ornamen pada satu rumoh Aceh akan tampak berbeda dengan yang lain. Perbedaan ini konon menjelaskan daerah rumoh Aceh itu berasal.

Sementara, pada bagian pancang untuk menyanggah bangunan rumah, biasanya terdiri dari 16-24 batang kayu. Bagian bawah rumah yang disebut dengan yup meh ini biasanya dipergunakan untuk memelihara ternak.

Jalan Pedang Daud Beureueh, Ulama Karismatik yang Masuk Hutan untuk Tagih Janji

Selain itu, bagian ini juga difungsikan oleh para ibu sebagai tempat untuk membuat songket. Pada masa lalu, penyangga pada rumoh Aceh bisa berfungsi agar binatang buas tidak dapat masuk ke rumah.

Setelah Islam datang, nilai-nilai ini langsung melekat kepada masyarakat Aceh sehingga memberi pengaruh cukup besar pada bentuk serta tata letak rumoh Aceh. Salah satunya, rumoh Aceh ini dibangun menghadap ke timur, dan sisi belakangnya menghadap ke barat.

Hal ini dikarenakan agar rumah selalu menghadap ke arah kiblat (mekkah), hal ini mencerminkan upaya masyarakat Aceh untuk membangun garis imajiner dengan kakbah yang berada di Mekkah, juga sebagai simbol orang yang menetap di rumah selalu menjalankan perintah agama.

Itu sebabnya pada tangga dan pintu utama masuk ke rumoh tidak diletakkan di barat, tetapi selalu berada di sebelah timur atau tengah. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu orang yang sedang salat menghadap kiblat.

Kuatnya pengaruh orientasi dan ritual agama Islam yang melekat bagi masyarakat menyebabkan dalam proses pembangunan rumah tradisional Aceh juga membutuhkan kehadiran seorang teungku atau tokoh agama.

Arsitektur rumoh Aceh yang meredup

Pada masa kolonial, penduduk Aceh mulai membangun rumah dengan cara yang sama dengan orang Belanda. Bentuk rumah dan bahannya berubah dan dibangun dengan cara baru yang kerap disebut rumah Belanda.

Menurut Kamal bila meninjau perkembangan arsitektur selama beberapa abad yang lalu, maka dalam membangun rumah bisa dilihat perubahan yang mendasar. Perubahan penting ini ialah pergeseran dari kerajinan tangan menjadi mekanisasi atau industri.

“Kalau dahulu arsitek menjadi pencipta tunggal dari ciptaannya, sesuai dengan asal katanya arki (utama) dan tekton (tukang), sekarang dia menjadi kordinator kreasi arsitektur. Apa yang dahulu merupakan kerajinan tangan murni sekarang bergeser menjadi hasil susunan komponen industri,” tulisnya.

Aristektur rumoh Aceh tradisional merupakan karya para utoh yang menurunkan keterampilan kerajinan tangannya dari generasi yang lebih awal ke generasi berikutnya. Rumah yang dibagun secara meruang membutuhkan kerja sama.

Melihat hal ini, jelas Kamal memperlihatkan bahwa masyarakat Aceh dalam membangun rumah melakukannya dengan penuh seni. kemampuan mereka membangun rumah ditonjolkan dengan suatu kerja sama yang terorganisir.

Mercusuar Willem Toren III, Jejak Seabad Monumen Navigasi Warisan Belanda di Aceh

Tetapi pergeseran ini, membuat budaya tektonika rumoh Aceh telah meredup, bahkan bisa dikatakan hilang. Apalagi dengan perkembangan zaman, membuat orang memilih membangun rumah secara efisien.

Makin mahalnya biaya pembuatan dan perawatan rumoh Aceh, maka lambat laun semakin sedikit orang Aceh yang membangun rumah tradisional ini. Akibatnya jumlah rumoh Aceh semakin hari semakin sedikit.

Padahal dengan perkembangan sustainable architecture menjadi sangat penting untuk mengembalikan pembangunan rumah tradisonal, salah satunya menghidupkan kembali arsitektur kayu atau bambu.

Warisan budaya tektonika rumoh Aceh telah mewariskan arsitektur berkesinambungan, yang secara periodik bisa menggantikan kayu yang telah lapuk dengan yang baru. Bahkan rumoh Aceh juga sangat fleksibel yang bisa dilepas-lepas dan dipindahkan lokasinya.

Secara keseluruhan rumoh Aceh memiliki tingkat budaya dan seni yang tinggi. Karena model bangunan ini bisa diterima oleh masyarakat Aceh dari zaman dahulu, dan dapat bertahan hingga saat ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini