Kisah Tangguh Perempuan Tunanetra Penjaga Owa Jawa di Sukabumi

Kisah Tangguh Perempuan Tunanetra Penjaga Owa Jawa di Sukabumi
info gambar utama

Owa Jawa (Hylobates moloch) merupakan salah satu jenis hewan primata yang terancam punah. Sebagai hewan endemik yang wilayah penyebarannya secara khusus hanya ada di Pulau Jawa khususnya bagian barat, hewan ini merupakan salah satu spesies paling langka sebagai satu-satunya jenis primata yang tidak memiliki ekor dari keluarga owa.

Klasifikasi terakhir IUCN pada tahun 2015 mencatat, jika hewan ini berada di status endangered atau terancam. Selain faktor perburuan dan eksploitasi berlebih yang menjadikan owa jawa sebagai salah satu objek perdagangan hewan, sebenarnya ada penyebab lain yang membuat populasi owa jawa semakin langka, yakni karena kesetiaan.

Secara umum owa jawa sebenarnya memang hanya memiliki populasi antara seribu hingga dua ribu ekor saja. Lain itu, owa jawa diketahui merupakan satwa yang selektif dalam memilih pasangan hidup dan termasuk satwa monogamik, di mana mereka hanya setia dengan satu pasangan untuk seumur hidupnya.

Apabila pasangannya mati, maka owa yang ditinggal mati tidak akan mencari pasangan lain dan akan hidup menyendiri sampai akhir hayatnya. Karakter itu lah yang membuat populasi owa jawa tumbuh secara terbatas.

Namun bukan sekadar ingin menyorot mengenai status kelangkaan owa jawa, kali ini hal yang tak kalah menyita perhatian adalah upaya pelestarian spesies hewan tersebut oleh salah seorang perempuan di Kampung Cimaranginan, Desa/Kecamatan Lengkong, Kabupaten Sukabumi, bernama Tini Kasmawati.

Imutnya Owa Jawa, Kera Endemik Pulau Jawa

Menjamin hidup owa jawa di tengah keterbatasan

Tini saat memberi makan owa jawa
info gambar

Bukan sosok baru yang dikenal oleh kalangan pelestari hewan, perempuan berusia 50 tahun yang akrab disapa Teh Tini ini diketahui sudah menghabiskan lebih dari 8 tahun hidup, untuk menjamin kehidupan owa jawa di habitat hutan dekat dengan lingkungan tempat tinggalnya.

Upaya menjaga kelestarian yang dilakukan mungkin terdengar sederhana, namun kondisi yang dimiliki Tini nyatanya membuat hal tersebut tampak lebih istimewa. Bukan berasal dari kalangan orang berada, Tini sendiri diketahui mengalami kondisi tuna netra, dengan sebelah mata yang masih bisa melihat dengan samar dan tidak terlalu jelas. Tini sendiri diketahui hidup dari usaha berjualan kopi di lingkungan dekat kantor Perum Perhutani di kota tempat tinggalnya.

Upaya menjamin kelangsungan hidup owa jawa yang dilakukan Tini berlangsung dengan dirinya yang memberi makan secara rutin terhadap kelompok hewan tersebut setiap harinya, sejak bulan Juni tahun 2014 silam.

“saya datang jam dua siang untuk makan siang mereka dan persediaan makan sore” jelas Tini, dalam video yang dimuat Sukabumi Update.

Tini juga mengungkap jika ia biasa menyiapkan makan pagi untuk para owa setelah waktu subuh, sementara itu warung kopi yang ia kelola biasa dititipkan kepada kerabat jika ingin memberi makan para owa, atau jika sama sekali sedang tidak ada yang bisa dimintai menjaga warung, dia akan menutup warung tersebut.

Padahal, menurut penuturannya penghasilan Tini dari berjualan kopi sendiri tidak seberapa, bahkan bisa dibilang lebih sering tidak sampai Rp50 ribu per harinya.

“Lebih sering di bawah Rp50 ribu dibanding di atasnya, (tapi) saya mencoba berbagi dengan mereka (owa jawa). Kalau untuk saya sendiri bisa makan apapun yang sekiranya bisa saya konsumsi, sementara mereka kalau enggak ada buah-buahan enggak bisa makan” jelasnya.

Karena itu, dari uang penjualan kopi Tini diketahui biasa membeli beberapa sisir pisang untuk sekelompok owa jawa yang ia rawat.

Owa Jawa: Si Cantik Karismatik Endemik Pulau Jawa

Malu dengan pendatang dari Belanda

Mengapa para owa yang hidup di alam bebas harus mendapatkan bantuan makanan dari Tini?

Rupanya hal tersebut didasari kondisi lingkungan di sekitar hutan itu sendiri karena persediaan buah yang terbatas, apalagi menurut penuturan Tini awalnya banyak owa yang masuk dan mengetuk-ngetuk atap pemukiman warga untuk mencari makan.

Dan lagi, sempat ada kejadian owa yang mati akibat tersengat sambungan listrik PLN yang tidak dilengkapi dengan lapisan pelindung.

Sementara itu hal lain yang membuat Tini hingga kini bertanggung jawab untuk menjamin kehidupan para owa adalah karena merasa malu setelah menerima kunjungan beberapa orang dari Belanda pada tahun 2014 silam.

Kala itu, ada sekelompok siswa dari Belanda yang melakukan perjalanan ke wilayahnya untuk mempelajari owa dan rela mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk melakukan penelitian, sementara Tini merasa malu dengan ketidaktahuannya akan satwa tersebut sebagai masyarakat setempat.

“Mereka yang datang jauh dari sana dengan biaya sampai ratusan juta begitu peduli, kenapa saya yang notabene lahir dan besar di sini tidak, padahal otomatis owa jawa yang ada di sini milik kita, milik orang Lengkong khususnya orang Indonesia” terang Tini.

Surili, Primata Endemik Penyebar Benih Pohon yang Berdampak Besar Bagi Lingkungan

Owa jawa yang dianggap keluarga

Owa jawa yang dirawat Tini
info gambar

Dengan kondisi penglihatan yang terbatas namun tetap bisa melihat dengan samar-samar, Tini mengaku masih bisa mengenali dengan baik setiap anggota dari kelompok owa jawa yang selama ini dia rawat, bahkan dari bentuk tubuh hingga karakternya ketika diberi makan. Lebih dari itu, Tini juga diketahui memberi nama atau julukan sendiri bagi keluarga owa tersebut.

“Yang ukuran sedang itu Tina jelas, yang paling kecil itu pasti Naruto. Kalau yang agresif mengambil makanan dari tangan saya lalu lari itu Abah, dan Ema biasanya cenderung lebih diam di atas pohon jika ada orang asing di sekitar dia” ungkap Tini panjang lebar.

Tini juga mengungkap mengenai satu ekor owa yang sebelumnya diketahui mati akibat tersengat kabel listrik saat mencari makan. Karena itu, dia berharap kedepannya PLN mau membungkus kabel-kabel tegangan tinggi agar kecelakaan serupa tidak kembali terulang.

Bicara lebih lanjut mengenai kelangsungan para owa jawa tersebut, Tini juga sempat berharap agar ada orang dermawan yang ingin memberikan bantuan kepada dirinya untuk membeli lahan di sekitar wilayah tersebut untuk ia jadikan lahan konservasi.

“Jadi di kemudian hari saat mungkin saya sudah enggak ada dan enggak ada orang lain yang berniat peduli terjun seperti saya, mereka (owa) enggak lagi kelaparan sampai mengetuk rumah penduduk atau sampai mati tersengat aliran listrik kerena mencoba mencari makan di luar sana” harap Tini, pada tahun 2019 lalu.

Memahami Peran Primata di Alam dan Upaya Cegah Kepunahan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini