Mengenang Hilman Hariwijaya, Penulis Cerita Ikonik Lupus yang Tutup Usia

Mengenang Hilman Hariwijaya, Penulis Cerita Ikonik Lupus yang Tutup Usia
info gambar utama

Kabar duka kembali datang dari dunia seni terutama di bidang kepenulisan tanah air, salah satu penulis kenamaan Indonesia yang merupakan pencipta karakter ikonik Lupus sebelum banyak dikembangkan ke dalam bentuk novel maupun film, yakni Hilman Hariwijaya meninggal dunia.

Hilman dikabarkan menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Rabu (9/3/2022) sekitar pukul 08:02 WIB. Kabar tersebut dibagikan oleh sang mantan istri yakni Nessa Sadin, yang menyampaikan kabar duka tersebut melalui akun media sosial instagramnya.

"Innalillahi wainnaillaihi rojiun. Telah berpulang Hilman Hariwijaya Rabu 9 Maret 2022 pukul 08.02 WIB. Mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya untuk almarhum," tulis Nessa.

Meski dalam keterangan tidak dijelaskan apa penyebab Hilman meninggal dunia, namun menurut pemberitaan yang beredar dirinya memang sempat berada dalam kondisi sakit liver dan mengalami stroke ringan dalam beberapa waktu terakhir.

Hal tersebut juga terkonfirmasi lewat unggahan terakhir pada akun instagram pribadi Hilman, yang memperlihatkan dirinya terbaring di atas kasur namun tetap nampak semangat berpose khas gaya pahlawan super bersama cucunya dalam beberapa foto.

Kepergian Hilman kali ini jelas meninggalkan duka tersendiri bagi masyarakat Indonesia khususnya penikmat bacaan dan tontonan Lupus yang populer pada masanya.

Bukan tanpa alasan, di tahun 2021 lalu Hilman sendiri menjadi sosok yang pertama kali mengonfirmasi kepergian rekan sesama penggarap karakter dan cerita Lupus yang telah lebih dulu berpulang, yakni Gusur Adhikarya.

Kisah Lupus, Cerita Romantika Pemuda Permen Karet yang Jadi Kenangan Masa SMA

Gemar menulis sejak dini

Hilman Hariwijaya
info gambar

Menjadi salah satu penulis kawakan tanah air, sedari kecil rupanya Hilman sudah memiliki angan-angan akan menjadi seorang penulis top. Sejak duduk di bangku sekolah, Hilman diketahui sudah gemar menulis dan bereksperimen membuat majalah sendiri yang berisi tulisan-tulisan pribadi.

Pria kelahiran tahun 1964 tersebut mendapat kesempatan untuk menerbitkan karya cerpen pertamanya berjudul "Bian, Adikku yang Tak Pernah Ada" pada tahun 1978, saat dirinya bergabung dengan koran anak-anak bernama KOMA, yang dikelola oleh penulis kawakan Indonesia lain, yakni Leila Chudori.

Karya Hilman tersebut ternyata berhasil memenangkan perlombaan kepenulisan yang diadakan majalah Hai, hingga akhirnya dia beralih ke majalah tersebut sebagai penulis cerpen, artikel musik, dan remaja.

Saat berkecimpung di majalah Hai, Hilman akhirnya menciptakan satu sosok karakter fiksi yang populer dan terus diingat hingga kini, yakni Lupus.

Awalnya Lupus sendiri baru ia hadirkan dalam bentuk cerpen yang menggambarkan kisah tentang seorang pelajar SMA yang aktif menulis sebagai wartawan sebuah majalah, senang mengunyah permen karet, cuek, dan sangat jahil.

Dianggap mewakili karakter remaja di era 1980-an, kolom tersebut akhirnya populer dan selalu dinanti hingga akhirnya diangkat ke dalam bentuk novel dan film, yang melibatkan seniman sekaligus penulis kawakan lainnya untuk berkolaborasi bersama Hilman, yakni Gusur Adhikarya dan Boim Lebon.

Berkat penggarapan novel Lupus pertama berjudul Lupus I: Tangkaplah Daku Kau Kujitak yang rilis pada tahun 1986, ketiganya juga kerap dikenal sebagai trio penulis novel Lupus.

Inilah Beberapa Novel Terbaik Indonesia yang Harus Kamu Baca

Karya Hilman di dunia kepenulisan

Sepanjang kepenulisannya dalam menggarap Novel Lupus, jika ditotal Hilman telah menulis serial Lupus ABG sebanyak 11 novel (1995-2005), Lupus Kecil 13 novel (1989-2003), dan Lupus 28 novel (1986-2007).

Salah satu bukti kepopuleran novel Lupus yang digarap oleh Hilman adalah angka penjualannya yang laris manis pada saat penerbitan seri pertama, di mana dalam jangka waktu dua bulan novel pertamanya berhasil terjual lebih dari 22.500 eksemplar.

Sementara itu, novel Lupus kedua dengan tajuk Cinta Olimpiade laku terjual 7.500 eksemplar dalam waktu tiga minggu.

Kepiawaian Hilman dalam bidang kepenulisan juga berlanjut dengan dirinya yang tetap dipercaya untuk terlibat menjadi penulis naskah film Lupus itu sendiri.

Selain itu, ia juga dikenal akan perannya sebagai penulis skenario untuk sejumlah film populer seperti Fantasi (2004), Dealova (2005), The Wall (2007), Anak Ajaib (2008), dan Security Ugal-ugalan (2017).

Tak terbatas untuk dunia perfilman, seiring berjalannya waktu hingga beberapa tahun terakhir sebelum jatuh sakit, Hilman bahkan masih diandalkan sebagai penulis untuk sejumlah tontonan sinetron yang tayang di beberapa stasiun TV tanah air.

Salah satu sinetron populer yang juga pernah mengandalkan Hilman sebagai peracik jalan cerita salah satunya adalah Cinta Fitri (season 2 dan 3).

Kepergiannya meninggalkan luka mendalam, lewat berbagai ucapan bela sungkawa yang disampaikan oleh rekan aktor dan aktris yang pernah terlibat dalam pekerjaan yang sama dengannya, Hilman banyak diakui sebagai sosok penulis legendaris di tanah air.

Karya Tulis Dono, Kritik Polisi Korup hingga Terbitkan Kumpulan Novel

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini