Eksis Jadi Musisi dari Masa ke Masa, Thomas Ramdhan: Musik Itu Menyemangati Hidup

Eksis Jadi Musisi dari Masa ke Masa, Thomas Ramdhan: Musik Itu Menyemangati Hidup
info gambar utama

"Harapannya semoga para pencipta lagu, penulis lagu, pemusik, dan orang-orang seni itu hidupnya lebih baik, sejahtera, dan mendapatkan hak dari setiap karyanya."

---

Seiring dengan kemajuan teknologi, banyak hal di dunia ini berubah dan memberi dampak pada berbagai aspek dalam kehidupan. Tak hanya soal kemudahan informasi dan hal-hal yang berkaitan dengan internet, industri musik juga mengalami banyak perubahan.

Memasuki era digitalisasi, musisi semakin dimudahkan dengan kecanggihan teknologi, tetapi di satu sisi tantangan yang mereka hadapi juga berbeda.

Ada beberapa hal yang menjadi tantangan bagi musisi dan industri musik di Tanah Air, di antaranya adalah soal pembajakan yang terus bergulir, persoalan royalti, hingga kesejahteraan seorang seniman. Apalagi di masa pandemi ini, banyak hal juga berubah lagi. Musisi harus putar otak untuk bisa beradaptasi dan berkarya dalam segala keterbatasan.

Membahas seluk-beluk perjuangan musisi dan industri musik di Indonesia, GNFI telah berbincang-bincang dengan Thomas Ramdhan. Ia adalah pemain bas dari band Gigi bersama Armand Maulana, Dewa Budjana, dan Gusti Hendy.

Pria kelahiran Bandung, 5 Maret 1967 ini juga diketahui mengerjakan proyek pribadinya, baik itu solo maupun berkolaborasi dengan musisi lain sebagai tanda eksistensinya di dunia musik.

Menjadi musisi sejak tahun 1990-an, Thomas telah melewati masa yang berbeda. Dari proses rekaman yang rumit hingga merasakan kemudahan di tengah kecanggihan teknologi. Ia juga tahu betul bagaimana rasanya menjadi musisi dari zaman merilis karya dengan kaset hingga eranya platform digital seperti sekarang ini.

Lantas, bagaimana caranya bisa eksis dan terus bertahan di industri musik, apa saja tantangan yang ia hadapi, dan bagaimana ia beradaptasi dengan berbagai perubahan dari masa ke masa? Berikut rangkuman pembicaraan Dian Afrillia dengan Thomas Ramdhan, Rabu, (9/3/2022).

Menilik Kondisi dan Tren Industri Musik Nasional Saat Ini

Bagaimana perkembangan industri musik di Indonesia saat ini?

Untuk saat ini industri musik di Indonesia bisa dibilang sudah lebih maju. Musik sudah global dan bisa didengarkan orang dari mana saja.

Kalau dulu mungkin terbatas hanya orang di perkotaan yang tahu musik modern. Dari segi kuantitas pun sudah jauh lebih banyak, unik, dan musik sendiri sudah jadi industri yang besar.

Apakah ada perbedaan musik dulu dan sekarang?

Kalau di Indonesia, ada satu yang enggak berubah sampai kapanpun yaitu musik mellow. Negara ini audiensnya adem-ayem, ingin musik yang easy listening dan slow.

Lagu yang easy listening itu penting karena ada sebagian orang yang mendengarkan musik itu untuk dinikmati saja, tetapi memang ada juga orang yang mau berpikir soal isi lirik.

Di Indonesia, lagu dengan lirik tentang cinta memang selalu ada karena semua orang dari semua kalangan punya perasaan itu.

Untuk medianya sendiri sekarang sudah berbeda, di televisi nasional sudah jarang banget ada acara musik. Audiens kebanyakan pindah ke digital seperti Youtube.

Boleh diceritakan tentang proses pembuatan musik?

Sebenarnya proses itu bisa beda-beda setiap lagu. Saya bikin lagu ada yang cepat dan ada juga yang lama. Biasanya yang bikin lama itu karena saya merasa ada yang kurang pas. Jadi untuk prosesnya berbeda-beda dan yang pasti tidak sesederhana saat orang mendengarkannya. Bisa saja satu lagu selesai dalam satu bulan, bisa juga sampai empat bulan.

Untuk di proyek pribadi saya sendiri enggak ada target bisnis, jadi saya akan mengeluarkan sesuatu yang menurut saya layak untuk dikeluarkan.

Apa arti musik buat Anda?

Saya bermusik dari kecil dan waktu itu musik buat menemani di saat saya ada perasaan yang susah diungkapkan ke orang. Ketika mendengarkan lagu itu saya punya imajinasi sendiri.

Musik itu menyemangati hidup supaya ada yang bisa dituju. Musik itu tidak lepas dari mengungkapkan sesuatu dan musik itu buat saya adalah pembuka pertemanan. Saya bisa kenal sama orang hanya karena suka musik yang sama.

Perkembangan Musik Tradisi, Dewa Budjana: Musisi Etnik Indonesia Tidak Pernah Habis

Genre dan musisi favorit?

Saya terbuka sama semua jenis musik. Tidak ada yang favorit banget, saya mendengarkan jazz, rock, metal, rege, apapun kalau yang enak didengar kenapa enggak dan saya enggak melihat genrenya.

Menurut Anda, musik yang bagus itu seperti apa?

Ini sebenarnya kembali lagi ke pasar atau audiens, seperti apa yang enak didengar karena setiap orang pasti berbeda.

Kalau dari saya sebagai musisi, akan lebih detail ke elemen-elemen musik dan enggak meniru karya orang lain. Bagus buat saya itu yang enak didengar dan orisinal.

Bagaimana mengetahui sebuah karya itu orisinal?

Orisinalitas itu kembali ke wawasan orang yang membuat lagu, dia enggak dengan sengaja mengambil dari yang sedang top, misalnya. Kalau mengambil itu, notasinya sama. Kalau terpengaruh itu wajar, tetapi enggak ditiru sepenuhnya.

Bagaimana cara beradaptasi di era digital?

Kalau dari kacamata saya, dulu ngalamin jualan kaset dan compact disc (CD), sekarang ini semua sudah ada di handphone karena bergeser ke digital. Perangkat yang digunakan zaman dulu sekarang orang sudah enggak punya.

Bagusnya di digital ini jangkauannya jadi lebih luas. Tidak hanya didengar orang di Indonesia saja, kemungkinannya jadi banyak banget. Kalau dulu mungkin orang dari luar negeri yang ingin membeli CD harus dikirim dari Indonesia melalui jasa ekspedisi.

Sekarang, mendengarkan musik bisa dari platofrm digital karena distribusi musik jadi lebih besar dan bisa didengarkan dari mana saja.

Kalau dari proses rekaman sangat ada perbedaan. Sekarang ini semua lebih simple, dari perangkatnya pun enggak seribet zaman dulu. Biaya produksi juga jadi jauh lebih murah.

Kalau dulu itu rekaman harus sewa studio besar. Namanya kita sewa harus antre dan sulit dapat jadwal yang pas, akhirnya proses rekaman jadi lebih lama.

Sekarang ini, studio rekaman bisa dikerjakan dari rumah dan untuk perangkatnya bisa disesuaikan dengan bujet.

Sosok Pelestari Musik Sunda Asal Inggris Itu Bernama Simon Cook

Bagaimana cara tetap esksis dan bertahan lama di industri musik?

Kalau buat saya pribadi, kita dikasih sebuah gift dan kepekaan dalam mendengar. Kalau mendengar sesuatu langsung terbawa ke imajinasi. Kalau gift ini disia-siakan menurut saya dosa. Ketika kita dikasih, manfaatkan.

Juga harus ada passion karena akan menjadi penyemangat. Kalau untuk urusan bisnis, itu sudah hal lain, dan juga bagaimana daya juang kita untuk bisa bertahan.

Anda pernah mengeluarkan album Svmoth tahun 2018, apakah ada proyek pribadi lain?

Setelah Svmoth, ada beberapa single yang berkolaborasi dengan musisi lain dengan judul “Duit” dan “Selfish” bersama Deddy Lisan, “Pemilik Langit, Pencipta Bumi” bersama Anaking Ramdhan dan Beboy, “Waitin” bersama Iwa K dan Deddy Lisan, dan “Be Honest” bersama The Candle Light Children.

Karena ini memang proyek pribadi, jadi memang berbeda dengan yang ada di Gigi.

Untuk ke depannya, apakah ada keinginan untuk menggarap musik etnik?

Keinginan sih ada ya, musik-musik Jawa Barat yang memang saya pahami. Saya sudah biasa dengar dari kecil seperti calung atau reog, bukan sesuatu yang langka di telinga saya.

Kalau untuk kolaborasi itu enggak bisa dipaksakan karena harus menyesuaikan waktunya, karyanya, enggak bisa asal kolaborasi tapi enggak ada esensinya.

Keinginan tentu ada, karena kalau kita masuk ke sesuatu yang baru, otomatis kita jadi terangsang dengan imajinasi baru.

Mengembangkan Musik Etnik Indonesia Sebagai Kekayaan Budaya

Apa saja tantangan seorang musisi dalam bermusik?

Tantangan banyak ya, orang juga pilihannya banyak. Kalau dari pembuatan lagu itu ya memang ada prosesnya. Kendala juga dari sisi penjualan, termasuk soal royalti.

Misalnya ada musisi yang merilis lagu sendiri, kemudian tiba-tiba lagunya top secara enggak sengaja seperti di TikTok atau Youtube, apakah itu royaltinya sampai ke pembuat lagu?

Bagaimana soal pembajakan?

Pembajakan sekarang sudah beda ya. Kalau dulu di kaki lima, misalnya dari CD digandakan. Sekarang bajak tuh dia mendengarkan tanpa membeli secara resmi, jadi memang sudah bergeser.

Soal royalti, lisensi karya, dan kesejahteraan sebagai musisi, apakah mendapat bantuan dari pemerintah?

Enggak tahu ya. Saya enggak pernah mendengar bantuan apa, bentuknya seperti apa juga belum tahu. Kalau individu saya mungkin terlalu kecil di industri, tapi sebagai bagian dari Gigi juga belum terasa ya.

Harapan untuk industri musik di Tanah Air?

Harapannya semoga para pencipta lagu, penulis lagu, pemusik, dan orang-orang seni itu hidupnya lebih baik, sejahtera, dan mendapatkan hak dari setiap karyanya.

Bicara Musik Etnik dan Budaya Betawi, Ipank HoreHore: Kite Anak Muda Nyang Kudu Jagain Obornye

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini