Garap Platform Edukasi Seksual, Zhafira Aqyla Jadi Panelis di Istanbul Youth Summit Turki

Garap Platform Edukasi Seksual, Zhafira Aqyla Jadi Panelis di Istanbul Youth Summit Turki
info gambar utama

Tak dimungkiri jika di Indonesia hal-hal yang berkaitan dengan persoalan seksual masih menjadi perkara yang tabu untuk dibahas secara gamblang, terutama jika membahasnya dalam bentuk diskusi pada sebuah forum yang berpotensi mendatangkan audiens secara massal.

Padahal, topik seksual sendiri menjadi persoalan yang harus dipahami secara baik dan tepat oleh berbagai kalangan, khususnya generasi muda yang saat ini hidup di tengah perkembangan teknologi, di mana semua bentuk informasi maupun konten bisa diakses dengan mudah tanpa batas.

Beruntung walau masih terbilang sedikit dan jarang, kekinian sudah ada beberapa pihak yang ingin melakukan gerakan pemberian edukasi mengenai persoalan seksual dengan cara yang tepat, pendekatan yang cermat, dan metode yang dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat.

Adapun salah satu sosok yang aktif melakukan upaya tersebut adalah seorang perempuan muda bernama Zhafira Aqyla.

Lewat Lagu, Yacko Lawan Pelecehan Seksual di Jalanan

Sebarkan edukasi seksual untuk gen Z

Dalam menjalankan misinya Zhafira diketahui membentuk inisiasi Taulebih.id, sebuah sarana yang memanfaatkan platform media sosial untuk membagikan konten mengenai hal-hal yang berhubungan dengan aspek seksual, dan menyasar kalangan yang berada di kisaran usia 9-24 tahun, atau saat ini lebih populer dengan julukan generasi Z.

Sesuai dengan kepercayaannya, dalam menyebarkan edukasi yang dimaksud Zhafira mengedepankan prinsip pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual dari perspektif Islam. Di mana hal yang dibahas sebenarnya memiliki cakupan lebih luas dari pemahaman seksual itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sejak seseorang berusia dini.

Misalnya saja mengenai apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan terkait hal-hal yang bersifat privasi, meski berada pada satu lingkup keluarga di dalam rumah yang sama.

Meski terbilang baru di mana sarana edukasi ini terpantau baru digarap pada kisaran bulan November 2021 lalu, namun perkembangan yang diperoleh bisa dibilang disambut dengan cukup baik oleh masyarakat, karena setiap konten atau edukasi yang dibagikan kerap mendapat berbagai respons positif.

Zhafira mengungkap, jika platform edukasi mengenai pendidikan seksual mungkin bisa dibilang sudah banyak terbentuk, tapi menurutnya masih sedikit cendekiawan yang membahas dari perspektif Islam.

27 Steps of May dan Kampanye Digital Bahaya Pelecehan Seksual

Suarakan pentingnya edukasi seksual lewat IYS Turki 2022

Apa yang telah dilakukan oleh Zhafira rupanya bukan terjadi tanpa alasan, jika menilik latar belakang pendidikannya, Zhafira sendiri memang diketahui tengah menempuh pendidikan di Osaka University, dan memiliki fokus serta ketertarikan untuk mengembangkan riset terhadap edukasi seksual selama masa perkuliahan tersebut.

Berkat kegigihannya, Zhafira pada bulan Februari lalu mendapat kehormatan untuk menjadi panelis dalam gelaran Istanbul Youth Summit (IYS) 2022 yang berlangsung di Turki. IYS sendiri merupakan acara bergengsi Konferensi Tingkat Tinggi yang diselenggarakan oleh sejumlah kalangan yang tergabung di Yayasan Youth Break the Boundaries (YBB) di Istanbul.

Dalam kesempatan tersebut, selain membahas mengenai cerita pengembangan sarana edukasi seksual yang ia kembangkan, Zhafira juga membahas mengenai sistem pendidikan yang berlangsung di tiga negara yakni Jepang, Indonesia, dan Turki.

Yang menarik, Zhafira membahas mengenai salah satu fenomena yang terjadi dan tak terhindari saat pandemi menghampiri Indonesia, yakni perihal anak-anak perempuan yang terancam risiko pernikahan dini, dikarenakan orang tua mereka yang tidak bisa lagi menafkahi anak-anak dan keluarga di tengah sulitnya ekonomi, dan terpaksa memilih untuk menikahkan anaknya dengan laki-laki yang bisa menafkahi mereka.

Kondisi itu juga berjalan bersamaan dengan meningkatnya kasus kekerasan seksual dan pornografi yang ikut meningkat selama pandemi. Menurutnya, hal tersebut terjadi lantaran akses ke dunia digital sudah semakin mudah.

“Kami berusaha menawarkan solusi untuk permasalahan ini dengan membuat platform literasi tentang pendidikan seksual yang seharusnya didapatkan sejak dini,” ujarnya

Seperti yang telah disebutkan, jika tidak ada pihak penyaring atau yang berperan sebagai pemberi edukasi, maka generasi selanjutnya dikhawatirkan akan terpuruk ke arah yang salah.

“Kita memiliki kekuatan untuk mengikuti algoritma sosial media, oleh karena itu manfaatkanlah dengan bijak untuk menebarkan kebaikan dan kebermanfaatan bagi sesama,” pungkas Zhafira.

Pelecehan Seksual dan Urgensi Pengesahan RUU PKS

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini