Mengenal 3 Jenis Teknologi Pengelolaan Air yang Diterapkan di Indonesia

Mengenal 3 Jenis Teknologi Pengelolaan Air yang Diterapkan di Indonesia
info gambar utama

Ancaman krisis air bersih kian nyata, kini masyarakat di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia tidak cukup jika hanya mengandalkan proses pemanfaatan air bersih yang ada di lingkungan secara alami. Apalagi jika melihat kondisi sumber air dalam hal ini sungai atau ekosistem lain, yang nyatanya sudah mengalami kerusakan dan pencemaran cukup parah.

Karena kondisi tersebut, bukan hal aneh jika dari waktu ke waktu sederet teknologi dihadirkan untuk membantu percepatan proses pengelolaan sekaligus pengolahan air, agar dapat kembali dimanfaatkan secara terus-menerus.

Tentu, beda sumber air yang ingin didaur ulang dan tujuan pemanfaatannya, maka beda pula jenis teknologi dan proses pengelolaan yang digunakan. Misalnya, teknologi dan proses yang digunakan untuk mengelola air limbah rumah tangga, tentu tidak bisa disamakan dengan teknologi dan proses yang akan digunakan untuk mengelola air yang memang berasal dari dalam tanah, air gambut, atau bahkan air payau.

Meski jika dilihat secara umum ada banyak teknologi pengelolaan air yang digunakan di Indonesia, sebagai gambaran kali ini ada tiga jenis teknologi atau sistem pengelolaan air yang menarik untuk dibahas, yakni teknologi grey water, teknologi meralis dan merotek, serta Instalasi Pengelolahan Air (IPA) mobile.

Apa perbedaan dari ketiganya?

Indonesia Kaya Sumber Air Tapi Terancam Krisis Air Bersih, Apa Penyebabnya?

Grey water biorotasi

Ilustrasi sistem grey water biorotasi
info gambar

Sebelum membahas lebih jauh, masyarakat sejatinya perlu memahami terlebih dulu apa perbedaan dari black water dan grey water. Black Water adalah limbah rumah tangga yang berasal dari air bekas pembuangan yang ada di toilet, sedangkan grey water adalah air limbah domestik yang berasal dari air buangan kegiatan rumah tangga layaknya kegiatan cuci pakaian, masak atau mencuci peralatan masak, dan lain sebagainya kecuali yang berasal dari toilet (WC).

Dalam praktiknya, air limbah yang masuk kategori grey water ini nantinya akan diolah melalui sebuah sistem biorotasi yang mengandalkan instalasi biofolter dan tanaman sanita. Hasilnya, sistem tersebut dapat mengolah air limbah rumah tangga untuk digunakan kembali menjadi air bersih yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti mencuci mobil, menyiram tanaman, sampai air untuk toilet.

Sebenarnya, metode grey water bisa dibilang merupakan sistem yang paling sederhana dan bisa diterapkan instalasinya di setiap rumah. Dengan digunakannya metode ini, prinsip penghematan air akan lebih terjaga dan keberadaan air yang memang berasal dari alam akan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan air yang lebih penting, salah satunya kebutuhan air minum.

Alamnya Kaya Mineral, Masyarakat Indonesia Minum dari Mata Air

Meralis dan merotek

Memiliki dua nama yang hampir sama, dan jika dilihat dari segi alat instalasi keduanya juga hampir serupa, perbedaan yang bisa dilihat dari kedua metode pengelolaan air satu ini adalah sumber air yang diolah dan peruntukkannya.

Untuk meralis, instalasi satu ini hadir dengan wujud kompak sehingga tidak membutuhkan lahan yang terlalu luas, dan memiliki fungsi untuk mengubah air limbah menjadi air bersih--namun bukan untuk diminum. Karena bentuknya yang kompak, instalasi teknologi meralis memang lebih diperuntukkan untuk mengelola dan mengendalikan sumber daya sekaligus permasalahan pencemaran air di kawasan perkotaan.

Lain halnya dengan merotek, teknologi satu ini baru secara spesifik diperuntukkan untuk mengolah air baku baik yang berasal dari tanah, air gambut, atau air payau, menjadi air siap minum yang diolah menggunakan sistem membran ultra filtrasi.

1.000 Sambungan Gratis Air Minum

Instalasi Pengolahan Air (IPA mobile)

IPA mobile
info gambar

IPA mobile adalah instalasi pengolahan air dengan sistem mobile yang dapat digunakan untuk mengolah air baku yang bersumber dari sungai menjadi air bersih. Karena menyandang julukan mobile, sesuai namanya instalasi satu ini dapat berpindah dan biasanya banyak dijumpai sebagai bagian dari tindakan dan solusi tanggap darurat atas peristiwa bencana yang menimbulkan kondisi krisis air bersih.

Adapun IPA mobile yang selama ini kerap dijumpai di beberapa wilayah biasanya memiliki kemampuan memproduksi air bersih dengan kapasitas 5 liter per detik atau 18 ribu liter per jam.

Untuk satu unit instalasi teknologi satu ini, air yang dihasilan dapat memenuhi kebutuhan air dalam jumlah besar mulai dari air minum, MCK untuk 500 kepala keluarga, atau setara dengan 2.000 orang dalam keadaan normal. Adapun jika dalam keadaan darurat atau bencana, instalasi ini dapat menghasilkan air yang dapat memenuhi kebutuhan air bersih bagi 4.000-5.000 orang.

Menilik Deretan Upaya Mitigasi Bencana yang Berjalan di Berbagai Daerah

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini