Ashab dan Tubagus, Dua Pemuda yang Garap Startup Ketahanan Pangan untuk Peternak Ayam

Ashab dan Tubagus, Dua Pemuda yang Garap Startup Ketahanan Pangan untuk Peternak Ayam
info gambar utama

Ashab Alkahfi dan Tubagus Syailendra, dua pemuda yang belakangan mendapat banyak sorotan karena keberhasilan mereka dengan masuk ke dalam daftar 30 under 30 Forbes Indonesia.

Bukan tanpa alasan keduanya bisa masuk ke dalam daftar prestisius tersebut. Di usia yang masih terbilang muda, Ashab dan Tubagus pasalnya telah berhasil menghadirkan sebuah inovasi di bidang teknologi untuk mempermudah kehidupan banyak orang, atau lebih tepatnya mereka yang berprofesi sebagai peternak ayam.

Keduanya mendirikan sebuah startup bernama Chickin Indonesia, perusahaan penyedia platform yang dapat memudahkan para peternak ayam di tanah air, dalam melakukan operasional peternakan secara efisien namun di saat bersamaan juga memperoleh peningkatan produktivitas ternak.

Menambah jajaran nama anak muda yang berhasil menghadirkan inovasi membanggakan, seperti apa jalan yang mereka tempuh hingga bisa memberikan dampak besar bagi para peternak ayam di Indonesia?

10 Startup Unggulan Asal Indonesia Akan Berpartisipasi di Ajang SXSW 2022

Kerja 18 jam per hari saat kuliah

Sedikit membahas mengenai latar belakang dua pemuda yang dimaksud, baik Ashab dan Tubagus rupanya berasal dari almamater kampus yang sama yakni Universitas Brawijaya (UB). Ashab yang saat ini diketahui masih berusia 22 tahun merupakan alumnus program studi (prodi) Agroekoteknologi, sedangkan Tubagus yang saat ini berusia 23 tahun merupakan lulusan dari prodi Hubungan Internasional.

Sama-sama menyelesaikan pendidikan kuliah di tahun 2020, keduanya bertemu saat masih berada di tingkat semester satu. Selama itu pula, mereka telah malang-melintang mencoba berbagai bidang usaha.

Yang membuat kagum, selama serius membangun usaha ternak yang menjadi cikal bakal berdirinya startup Chickin, mereka tetap mengimbangi dengan tanggung jawab menjalani perkuliahan sebagai seorang mahasiswa. Bahkan Tubagus diketahui berhasil menyelesaikan masa pendidikan kuliahnya lebih cepat yakni selama 3,5 tahun.

"Terlihat sangat ambisius di usia kami saat itu, karena kami harus bekerja 18 jam per hari untuk menyeimbangkan kehidupan kuliah dan bisnis saat itu," ujar Tubagus, mengutip Detikcom

Pendirian Chickin pun kabarnya bisa berjalan setelah mereka memperoleh modal dari hasil usaha kecil-kecilan, dan memenangkan berbagai ajang kompetisi bisnis. Akhirnya di semester kedua masa kuliah, mereka bertekad mendirikan startup tersebut.

Tidak hanya membutuhkan modal dari segi materi, mereka juga tahu secara pasti permasalahan apa yang biasanya dihadapi oleh para peternak di lapangan, karena keduanya pernah menjadi peternak di daerah Klaten, Jawa Tengah.

“Kita telah melihat banyak sekali kendala dalam membudidayakan ayam dan industri perunggasan yang memiliki potensi besar untuk berkembang," tambah Tubagus.

The Prickle House, Potret Agribisnis di Tangan Generasi Milenial

Teknologi peternakan ayam berbasis IoT

Secara garis besar, startup yang Ashab dan Tubagus dirikan berperan dalam membuat peternak agar tidak perlu melakukan pengontrolan iklim kandang secara manual. peternak hanya perlu memantau kondisi kandang dari jarak jauh dengan performa yang lebih bisa terukur secara nyata.

“Awal kami riset dan development di daerah Klaten Jawa Tengah. Di sana kita jadi peternak, lalu membangun kandang dan mulai usaha ternak ayam sampai akhirnya ketemu banyak permasalahan yang dihadapi peternak lokal. Dari situ kita mencoba solve problem dengan menggunakan teknologi,” ujar Ashab, mengutip laman resmi UB.

Lebih jauh dengan diterapkan teknologi IoT, platform yang mereka kelola juga mampu membantu berbagai kebutuhan seperti mengelola data kandang, mengatur berbagai aktivitas harian mulai dari pengontrolan suhu, memantau kondisi serta umur ayam, hingga memantau data penjualan.

Istimewanya melalui teknologi yang digunakan, produktivitas ayam yang dihasilkan oleh para peternak diketahui juga bisa meningkat hingga 25 persen lebih tinggi. Hal tersebut diakui oleh salah satu peternak bernama Yudi, yang sudah menggunakan platform Chickin dan menurutnya sangat membantu dalam pengelolaan serta manajemen pemeliharaan.

“Apabila dilakukan dengan SOP yang ketat, sistem pemeliharaan akan efisien untuk pakan, mortalitas bisa ditekan dengan cara pencegahan dan pengobatan yang presisi,” ujar Yudi.

Selain menghadirkan platform pengelolaan ternak, Ashab dan Tubagus juga mengelola sistem pengelolaan dan distribusi ayam dari hulu ke hilir, yang membuat ayam hasil produksi dari para peternak dapat terdistribusi dengan baik secara langsung ke sejumlah produsen, atau rumah makan yang ada di Indonesia.

Hingga saat ini diketahui ada sebanyak 14 rumah potong ayam yang mereka kelola, di mana dalam pelaksanaannya juga menjalin mitra dengan sekitar 100 industri makanan sebagai penyuplai daging ayam.

Catatan besarnya lagi, perusahaan rintisan yang telah mereka bangun di usia muda tersebut diketahui sudah berhasil memperoleh pendanaan sekitar Rp35 miliar dari 3 investor global, lewat pendanaan sesi seed round dalam waktu 10 bulan terakhir.

Hingga saat ini, Chickin tercatat sudah digunakan oleh sebanyak seribu peternak se-Indonesia, dengan target 10 juta ayam yang dipelihara tiap bulannya.

Mengenal Lanskap Teknologi Unggas, Digitalisasi Kandang Ternak Ayam Broiler

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini