Bali Jadi Saksi Kolaborasi Warga Rusia dan Ukraina Lewat Karya Bermakna Persatuan

Bali Jadi Saksi Kolaborasi Warga Rusia dan Ukraina Lewat Karya Bermakna Persatuan
info gambar utama

Konflik yang terjadi antara Rusia-Ukraina masih terus bergulir hingga saat ini. Meski terlihat sudah beberapa kali melakukan pertemuan negosiasi yang dihadiri oleh sejumlah kalangan, mulai dari pemimpin masing-masing negara hingga pejabat negara lainnya, namun titik terang mengenai kapan konflik tersebut akan usai masih belum terlihat.

Tentu tidak ada satupun yang menginginkan konflik tersebut terjadi, terutama para warga negara dari kedua belah pihak baik Rusia dan Ukraina. Beberapa hanya bisa berharap jika konflik segera berakhir, beberapa terjun langsung ke lapangan untuk melindungi apa yang harus dilindungi, sebagian kecil di antaranya berupaya menyuarakan dorongan perdamaian lewat cara yang berbeda, bahkan meski berada di kedua pihak yang berlawanan.

Baru-baru ini, salah satu contoh aksi menyuarakan perdamaian yang dilakukan oleh dua warga negara dari pihak yang berseberangan baru saja terjadi dan mencuri perhatian. Yang membuat istimewa, salah satu wilayah di Indonesia yakni Bali menjadi saksi dari kampanye perdamaian tersebut.

Negara Mana Mendukung, Menolak, atau Abstain di Sidang Umum PBB Terkait Invasi Rusia

Seni kaligrafi suarakan persatuan

Seorang seniman kaligrafi asal Rusia bernama Pokras Lampas, dan seorang pemilik kompleks vila di Kuta Utara, Bali bernama Alex Shtefan, sepakat untuk bekerja sama mempromosikan perdamaian dan persatuan melalui sebuah karya seni berupa kaligrafi raksasa.

Kaligrafi yang dimaksud adalah sebuah kalimat bertuliskan “United World” yang dibuat dalam enam bahasa yakni Rusia, Ukraina, Inggris, China, Prancis, dan Indonesia. Kaligrafi tersebut dibuat di atas atap 9 bangunan vila milik Alex, yang berdiri di atas lahan seluas 960 meter persegi.

"Karya ini bukan pernyataan politik, ini pernyataan budaya dan pernyataan sosial, tentang orang-orang dan cara kita bisa bersatu bersama untuk menciptakan masa depan yang harmonis," ujar sang seniman Rusia, Pokras Lampas mengutip pemberitaan Reuters.

Lampas sendiri memang dikenal sebagai seorang seniman yang kerap menghasilkan karya kaligrafi dengan tampilan unik sesuai identitasnya, dan ia namakan ‘Calligrafuturism’. Sementara itu dalam proses pembuatan karya yang menyuarakan persatuan tersebut, disebutkan jika ia membutuhkan waktu sekitar tiga minggu.

Bicara Makna G20, Makarim Wibisono: Kita Ingin Gotong Royong Jadi Inspirasi Internasional

Direncanakan sebelum konflik terjadi

Masih menurut sumber yang sama, bagian mengejutkannya adalah kenyataan bahwa rencana penggarapan karya seni tersebut ternyata sudah muncul sebelum konflik antara Rusia-Ukraina benar-benar terjadi pada kisaran akhir bulan Februari lalu.

Lampas yang mengaku sudah berada di Bali sejak bulan Desember, mengatakan gagasan itu sudah dikembangkan dengan sekelompok temannya yang berasal dari Ukraina. Dan kini, karya tersebut semakin bernilai menurutnya karena menjadi lebih bermakna.

Shtefan sebagai warga asli Ukraina yang diketahui telah mengelola kompleks vila di Bali selama enam tahun juga mengungkapkan hal senada, dirinya mengatakan jika karya seni tersebut sesuai dengan nilai dan makna yang ingin ia sampaikan, dan diharapkan dapat mengirim pesan penting bagi seluruh pihak di dunia, khususnya Rusia dan Ukraina.

“Kami dapat menunjukkan di vila kami kepada dunia, gagasan kami bahwa dunia perlu bersatu,” tutur Shtefan.

Sementara itu di saat bersamaan, baik Shtefan maupun Lampas mengaku sama-sama terkejut dengan perang yang disayangkan harus terjadi di Ukraina. Menurut Lampas, jika memang ada cara terbaik yang bisa dilakukan untuk bernegosiasi dan menghentikan konflik, maka hal tersebut seharusnya dilakukan dengan segera.

Sedangkan Shtefan di saat bersamaan mengungkap, jika sebagai warga Ukraina dirinya mengakui bahwa kedua negara tersebut sebenarnya sangat dekat layaknya saudara.

"Rusia dan Ukraina selalu seperti saudara, kami selalu dekat, kami selalu saling membantu dan bahkan kami terlihat mirip," pungkasnya.

Menilik Dampak Invasi Rusia dan Persoalan Pasokan Minyak yang Dihadapi Indonesia

Kampanye anti perang di Bali

Sementara itu di saat bersamaa, Bali rupanya berhasil membuktikan wilayahnya sebagai tempat yang mengedepankan toleransi tidak hanya bagi masyarakat Indonesia saja, melainkan juga masyarakat dunia. Aksi menyuarakan persatuan dan melawan konflik yang dilakukan oleh Lampas dan Shtefan rupanya bukanlah yang pertama kali terjadi sejak konflik Rusia-Ukraina pecah.

Sebelumnya di kisaran awal mulai bulan Maret lalu, aksi menyuarakan perdamaian juga dilakukan oleh sebuah organisasi lingkungan yang memang berbasis di Bali yakni Sungai Watch, dengan seorang seniman asal Jerman, bernama Liina Klauss.

Mereka diketahui membuat sebuah instalasi seni berupa kalimat bertuliskan ‘Make Art Not War’ yang membentang di sepanjang jalan Desa Pangkung Tibah, Tabanan, Bali, yang membelah area persawahan di kedua bahu jalan.

Ada dua hal menarik yang menyita perhatian dari kampanye tersebut. Pertama, instalasi seni penuh warna yang dimaksud ternyata dibuat dari kumpulan sampah sandal bekas dari laut dan sungai di Bali, yang telah dikumpulkan sepanjang tahun 2021.

Kedua, penggarapan instalasi tersebut tidak hanya dilakukan oleh beberapa kalangan tertentu atau oleh sang seniman sendiri, namun juga melibatkan sebanyak lebih dari 100 orang relawan yang berbondong-bondong datang dan ingin berpartisipasi secara langsung.

"Yang ingin kita lakukan adalah berlomba mengurangi polusi laut dan plastik. Kami juga ingin menunjukan bahwa kreativitas dapat menyatukan orang-orang," jelas Liina, mengutip Medcom.id.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini