Kuskus Scham-Scham, Marsupial Bertutul Endemik dari Pulau Waigeo

Kuskus Scham-Scham, Marsupial Bertutul Endemik dari Pulau Waigeo
info gambar utama

Masih ada cukup besar wilayah pedalaman Papua yang belum terjamah, termasuk di antaranya sejumlah spesies unik di dalamnya yang belum banyak orang tau. Memang, selama ini Papua dikenal sebagai rumah dari hampir separuh spesies burung endemik yang dimiliki Indonesia. Namun bukan berarti sama sekali tidak terdapat jenis hewan endemik lain yang ada di wilayah ini.

Selain burung, Papua juga memiliki satu spesies hewan yang masuk dalam kategori marsupial unik dan hanya dapat ditemui di pulau tersebut, lebih tepatnya di wilayah Papua Barat. Hewan yang dimaksud adalah kuskus scham-scham, atau lebih banyak dikenal juga dengan nama kuskus waigeo.

Penamaan waigeo sendiri memang merujuk pada satu pulau tempat di mana habitat asli kuskus ini berasal, yaitu Pulau Waigeo yang merupakan pulau terbesar dari empat pulau utama di Kepulauan Raja Ampat.

Keunikan apa yang dimiliki oleh kuskus waigeo?

Mambruk, Burung Dara Endemik Papua dengan Mahkota Terindah

Morfologi dan ciri khas bertutul

Kuskus Waigeo
info gambar

Kuskus waigeo yang memiliki nama ilmiah Spilocuscus papuensis sebenarnya memiliki bentuk atau morfologi tubuh yang hampir sama seperti kuskus pada umumnya. Namun, ciri khas yang dimiliki berupa warna bulu yang bertutul membuat spesies satu ini masuk dalam genus Spilocuscus.

Didominasi bulu berwarna putih, tampilan tersebut dilengkapi dengan corak tutul berwarna hitam di sebagian besar area tubuhnya. Kondisi tersebut yang membuat kuskus ini kerap dijuluki juga dengan sebutan kuskus tutul waigeo.

Fakta lainnya, jika dilihat sekilas kuskus waigeo memiliki wujud yang hampir sama seperti kuskus tutul hitam (Spilocuscus rufoniger), hal tersebut lantaran ukuran tubuh keduanya yang hampir sama. Ciri paling kentara yang bisa membedakan kuskus waigeo dengan kuskus lain terlihat pada bagian pupil matanya yang memiliki celah vertikal dengan bola mata berwarna merah.

Berbeda dengan marsupial kuskus lain yang biasanya memiliki perbedaan bobot antara spesies jantan dan betina, kuskus waigeo bisa dibilang hampir tidak memiliki perbedaan. Bobot baik jantan atau betina dari kuskus waigeo diketahui bisa mencapai kisaran 2,65 kilogram.

Sementara ukuran untuk spesies betina ada dikisaran 472 milimeter, dan jantan di kisaran 479-560 milimeter. Sebagai catatan, ukuran tersebut belum termasuk panjang ekor mereka yang bisa mencapai 492-555 milimeter untuk pejantan, dan 476 milimeter untuk ekor betina.

Mengenal Ragam Spesies Kuskus Endemik di Alam Liar Sulawesi

Perkembangbiakan dan perilaku

Kuskus Waigeo
info gambar

Bicara mengenai proses perkembangbiakannya, kuskus waigeo diketahui bisa melahirkan hingga tiga ekor anak dalam sekali proses kehamilan yang berlangsung selama 13 hari, dan bisa terjadi sepanjang tahun.

Uniknya, anak kuskus waigeo yang baru lahir ternyata hanya memiliki bobot tak lebih dari 1 gram. Namun memang karena pada dasarnya kuskus adalah hewan marsupial, pertumbuhan anak tersebut dilanjut dengan masa tinggal di dalam kantung sang induk selama 6-7 bulan.

Untuk bertahan hidup, kuskus waigeo di habitatnya biasa memakan berbagai macam tumbuh-tumbuhan dan bunga, meski terkadang juga mengonsumsi ragam binatang kecil. Mereka biasa berburu pada malam hari dan tidur di siang hari.

Secara normal, kuskus waigeo memiliki masa hidup hingga mencapai usia 11 tahun, di mana kemampuan untuk bereproduksi atau kematangan seksual mulai bisa dilakukan saat sudah menginjak usia satu tahun.

Sementara itu mengenai habitat menurut penjelasan Balai Karantina Pertanian Jayapura, mereka dapat ditemui pada wilayah hutan Waigeo tepatnya di dataran yang memiliki ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut.

Meski begitu, populasi hewan ini juga kerap ditemui di wilayah terdekat lainnya seperti Raja Ampat dan pulau-pulau kecil wilayah Papua Barat. Sama seperti spesies kuskus lain misal 3 kuskus endemik pulau Sulawesi, kuskus waigeo juga termasuk satwa pemalu.

Mereka jarang menampakkan diri secara terang-terangan, bahkan lebih terkesan menghindar dan bersembunyi ketika ada ancaman. Namun sekalinya berada di kondisi terhimpit dan merasa terancam, kuskus waigeo seketika akan berubah menjadi agresif dan sanggup untuk menggigit bahkan menendang lawannya.

Meski tidak ada catatan pasti mengenai jumlah individu atau populasinya di alam, namun kuskus waigeo termasuk salah satu hewan terancam yang sudah berada di status rentan (vulnerable), menurut pencatatan IUCN pada tahun 2015.

Labi-Labi Moncong Babi, Hewan Endemik Papua yang Semakin Langka

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini