Dengan Linggis dan Dandang, 8 Petani Tembus Perut Bukit Batu Sepanjang 550 Meter Demi Salurkan Air

Dengan Linggis dan Dandang, 8 Petani Tembus Perut Bukit Batu Sepanjang 550 Meter Demi Salurkan Air
info gambar utama

Tahun 1949, Indonesia baru merdeka selama 4 tahun. Tentu saja, kondisi waktu itu masih sangat memprihatinkan. Tak terkecuali warga di Desa Kalisalak, Windujaya, dan Baseh, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang berada di lereng selatan Gunung Slamet, dengan ketinggian di atas 500 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Warga yang umumnya berprofesi sebagai petani, masih miskin. Apalagi, mereka hanya mampu memanen padi sekali dalam setahun. Warga setempat hanya mengandalkan hujan untuk irigasi sawah mereka. Ironisnya, desa-desa setempat sebetulnya sangat dekat dengan sungai. Hanya memang sungainya berada lebih bawah. Ada juga aliran sungai di atas desa-desa itu. Tetapi airnya tidak dapat mengalir, lantaran ada bukit berbatu yang tak bisa dilewati.

Pemikiran sejumlah warga desa seperti melompati zaman. Mereka telah berpikir bagaimana air bisa menembus bukit. Sebuah pemikiran yang awalnya seperti mengada-ada. Dari tahun 1949 hingga 1952, ada 8 warga yang berpikir untuk dapat mengalirkan air menembus perbukitan berbatu. Disebut mengada-ada, karena mereka orang desa yang tidak memiliki dasar teknis menembus bukit. Apalagi, peralatan mumpuni tidak ada.

Adalah San Basri, Tadirana, Darwan, Sanwiraji, Sandirana, Ngalireja, Sumardi, dan Sanbesari. Kedelapan orang itulah yang berinisiatif untuk membangun aliran air untuk mengairi desa. Yakni membuat terowongan yang dapat mengalirkan air dari Sungai Logawa.

Kebetulan dari 8 orang tersebut, salah satunya adalah Darwan yang merupakan Kades pertama Kalisalak. Sebelum diputuskan untuk dibangun terowongan, ada upaya-upaya pendekatan ke desa yang membutuhkan waktu. Sekitar 3 tahun, mulai 1949 hingga 1952. Selain pendekatan ke desa, juga menyiapkan rencana pembangunan.

Delapan orang tersebut memiliki peran masing-masing. Misalnya, untuk penanggung jawab pekerjaan diserahkan penuh kepada San Basri. Sedangkan “insinyur”-nya adalah Tadirana. Dialah yang bertugas menggambar bagaimana air dialirkan dengan menembus perbukitan. Kemudian Kades Darwan bertugas sebagai bendahara. Ada tugas-tugas lainnya yang dilaksanakan oleh lima orang lainnya.

Seorang warga Desa Kalisalak, Kedungbanteng, Banyumas, Jawa Tengah yang bertanggung jawab mengelola terowongan air tengah mengecek aliran air. Foto : L Darmawan
info gambar

Dalam mengerjakan terowongan air tersebut, mereka hanya dilengkapi dengan peralatan sederhana. Bayangkan, untuk dapat membuat terowongan, mereka harus memecah batu. Ada perkakas linggis yang terbuat dari pelepah nira, kemudian ruyung atau sada lanang dan dandang. Untuk penerangan adalah teplok, ting, sentir dan obor.

“Berdasarkan cerita yang kami dengar, pengerjaan dilaksanakan siang dan malam hari. Sehingga kalau malam harus dengan penerangan. Pengerjaan dimulai dari dua sisi, yakni atas dan bawah. Tinggi terowongan sekitar 2 meter dan lebar 80 cm. Pengerjaannya siang malam dan membutuhkan waktu bertahun tahun,”ungkap Kusnanto (60) warga Desa Kalisalak yang ditemui Kamis (03/02/2022) yang kini menjadi penjaga terowongan air.

Ia mengatakan dari cerita mereka yang penah menggarap terowongan itu, hampir setiap hari warga secara bergiliran melubangi bukit yang ternyata jenisnya batu. Seluruhnya dikerjakan secara bergotong-royong. “Baru tahun 1956 atau setelah 4 tahun pengerjaan, terowongan bisa selesai. Terowongan yang dibuat di bawah perbukitan yang berbatu panjangnya mencapai 550 meter. Sampai sekarang, peninggalan itu masih sangat terasa manfaatnya,”ungkap Kusnanto.

Sementara Ketua Paguyuban Pelestari Terowongan Air Tira Pala (Palestari) Tri Agus Triyono menambahkan terowongan sepanjang 550 meter itu memiliki ketinggian 2 meter dan lebar 80 cm.

“Saya membayangkan kerja mereka sangat luar biasa. Demi untuk mendapatkan air, bertahun-tahun warga harus melubangi perbukitan agar dapat mengalirkan air. Setelah terowongan selesai, mereka membuat saluran irigasi hingga 2 kilometer demi mengairi desa-desa di bawah Kalisalak,”jelasnya.

Yono – panggilan Tri Agus Triyono – mengatakan bahwa perjuangan mereka pernah mendapatkan penghargaan dari pemerintah sebagai perintis lingkungan. “Dengan adanya terowongan yang dibangun siang malam dan selama bertahun-tahun, akhirnya pada 1956, warga menuai hasilnya. Air bisa mengaliri desa dan persawahan. Inilah sebuah kisah perjuangan luar biasa warga desa. Saya menyebutnya hasta pala, atau 8 pahlawan desa,” ujarnya.

Yang menarik, terowongan sepanjang 550 meter itu, ada jendela terowongan setiap 10-30 meter. “Saya salut, karena waktu itu sudah memikirkan jendela terowongan. Tujuannya kemungkinan besar adalah untuk mendapatkan suplai udara bagi pekerja di dalam. Selain itu, jendera terowongan dipakai untuk membuang bebatuan bukit yang dilubangi. Ada 14 jendela terowongan air,” katanya.

Menurutnya, ada 6 desa di Kecamatan Kedungbanteng yang mendapat aliran air. Di antaranya adalah Desa Kalisalak, Baseh, Kalikesur, Windujaya, Dawuhan dan Keniten. Desa-desa itu berada di lereng Gunung Slamet bagian selatan dari atas sampai bawah.

“Dengan adanya terowongan air itu, maka ada sekitar 600 hektare sawah yang teraliri. Sehingga saat ini, mereka dapat menanam padi dua kali dalam setahun. Selain itu, ada yang memanfaatkan sumber air tersebut untuk memenuhi kebutuhan air bersih melalui pamsimas dan perusahaan air minum (PAM) desa,” kata Yono.

Ancaman Sedimentasi

Penjaga terowongan air Kusnanto dan Agus Salimin telah diangkat oleh Desa Kalisalak. Tugasnya adalah merawat terowongan air. Mereka harus masuk ke terowongan sepanjang 550 meter tersebut. Keduanya bertugas untuk membersihkan jalur air di terowongan dari sampah, sedimen dan lumut maupun tanaman paku yang tumbuh di sekitar terowongan. Biasanya mereka membawa golok dan penerangan lampu untuk menyusuri terowongan. Risikonya tinggi, kalau tiba-tiba longsor atau ada banjir bandang.

Baru di akhir tahun 2021 lalu, mereka mulai dibayar Rp700 ribu untuk berdua dalam sebulan. Sehingga masing-masing mendapatkan upah Rp350 ribu. Sebelumnya hanya Rp500 ribu berdua. Yang mengeluarkan anggaran adalah Desa Kalisalak, padahal ada 5 desa lainnya yang mendapat suplai dari terowongan air itu.

“Dalam seminggu, kami membersihkan dua kali. Meski bayarannya tidak seberapa, tetapi saya ikhlas untuk merawat terowongan ini. Sebab, kalau tidak dirawat dan terowongan tidak lagi bisa mengalirkan air, sia-sia sudah perjuangan nenek moyang dulu yang selama bertahun-tahun membuat terowongan ini,” jelas Kusnanto.

Dengan membawa penerangan petugas menelusuri terowongan air. Foto : L Darmawan
info gambar

Agus menambahkan pada saat musim penghujan, biasanya banyak sedimen, sehingga butuh dibersihkan. Tetapi ketika musim penghujan seperti sekarang, risikonya tinggi, kalau-kalau ada banjir bandang. “Kalau di dalam terowongan dan bekerja membersihkan kotoran, kami kadang juga khawatir kalau tiba-tiba ada banjir,”katanya.

Pernah satu kali, ada sebuah kayu besar yang terbawa dari Sungai Logawa saat banjir besar masuk dan menyumbat jalan air di terowongan. Keduanya mencoba menyingkirkan kayu yang menyumbat terowongan tersebut. “Itu menjadi tugas kami untuk menyingkirkan. Belum lagi pada saat terowongan tersumbat dan lainnya,” ujarnya.

Sementara Tri Agus Triyono menambahkan kalau dibandingkan tugasnya yang bertaruh nyawa untuk merawat terowongan air, bayaran Rp350 ribu sama sekali tidak sesuai. “Memang, sementara ini yang mengeluarkan dana untuk pemeliharaan terowonga air hanya Desa Kalisalak. Padahal, ada 5 desa lain yang juga mendapatkan suplai. Kami akan berkomunikasi, mudah-mudahan nantinya ada perhatian dari desa-desa lainnya,” kata Yono.

Fokus perhatian penting lainnya adalah upaya pelestarian keberadaan terowongan air tersebut. Ancaman paling utama adalah sedimentasi, terutama di pintu masuk terowongan dari aliran Sungai Logawa. “Sedimentasi di pintu masuk terowongan telah mencapai 1 meter, sehingga pembersih terowongan air harus jalan jongkok atau menunduk. Karena itulah membutuhkan upaya bersama-sama menyelamatkan terowongan air ini. Saya kira perlu sinergitas 6 desa yang teraliri air. Saya sudah mulai berkomunikasi dengan desa-desa tersebut,”ujarnya.

Pembersihan di pintu terowongan air agar air lancar untuk kebutuhan air bersih dan pengairan sawah di 6 desa. Foto : L Darmawan
info gambar

Usaha yang telah dilakukan adalah dengan pembuatan pintu air, sehingga sampah-sampah maupun sedimentasi dapat tertahan. Selain itu, tentu harus ada pengangkatan sedimentasi yang masuk ke dalam terowongan.

Yono juga mengatakan kalau dirinya berupaya untuk menyatukan keenam desa tersebut. Pihaknya bakal menyelenggarakan gelar budaya dengan menghidupkan kembali Nyadran. Dulu, pernah ada tetapi kemudian ditinggalkan. “Kami ingin, ada lagi Nyadran, sebagai bentuk ucapan syukur kepada Yang Maha Kuasa karena telah diberi limpahan air,” katanya.

Penyelamatan terowongan air sangat vital. Sebab, tanpa ada terowongan air, maka 6 desa akan kesulitan suplai air baik untuk mencukupi kebutuhan air bersih maupun ke areal pertanian. Di sisi lain, kalau terowongan air tidak diselamatkan, maka kesejarahan perjuangan melubangi bukit berbatu untuk aliran air bakal hilang.

==

Republikasi dari Mongabay.co.id atas MoU GNFI dengan Mongabay Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

Terima kasih telah membaca sampai di sini