Jejak Senopati Pasukan Diponegoro yang Jadi Saudagar Tajir di Bandung

Jejak Senopati Pasukan Diponegoro yang Jadi Saudagar Tajir di Bandung
info gambar utama

Pasar memiliki arti penting dalam dinamika pertumbuhan sebuah kota. Dari pasar, denyut kehidupan masyarakat bergerak. Pasar menjadi pusat kegiatan ekonomi yang akan memenuhi segala kebutuhan penghuni kota.

Di Bandung, Pasar Baru yang terletak di Jalan Otto Iskandardinata, Bandung, Provinsi Jawa Barat kini tidak hanya sebagai tempat niaga namun juga menjadi tujuan wisata. Tidak heran karena pasar ini sudah berdiri sejak tahun 1906.

Pasar Baru memang telah menjadi daya tarik tersendiri bagi para pedagang baik yang berasal dari tanah Priangan atau perantauan. Para perantauan ini kemudian memilih tinggal permanen di sekitar pasar.

“Para pemukim tetap di sekitar Pasar Baru ini pada perkembangan selanjutnya menjadi cikal bakal lahirnya Saudagar Bandung yang biasa ketelah (dikenal) dengan sebutan Urang Pasar,” tulis Dede Rohayati dalam jurnal sejarah berjudul Saudagar Bandoeng 1906-1930 an.

Kisah Pelesiran Putra Mahkota Rusia dan Pesohor Eropa di Tanah Priangan

Asal usul Saudagar Bandung ini ditengarai berasal dari Jawa Tengah (Jateng) yang datang ke Bandung pada pertengahan abad ke 19. Dalam beberapa sumber, jelas Dede, dikatakan mereka adalah pelarian senopati pasukan Diponegoro.

Menurutnya tujuan mereka bermigrasi ke Bandung ini untuk menghindari hukuman dari penguasa Mataram terkait peristiwa pemberontakan Diponegoro. Di Bandung, mereka menanggalkan gelar ke-senopati-an dan menyamarkan identitas menjadi pedagang batik.

Mereka memilih Pasar Baru sebagai tempat berdagang. Ketika itu, hak perdagangan batik masih dikuasai oleh orang pribumi, sehingga relatif mudah bagi mandoran - sebutan pengusaha batik Jawa - ini untuk segera menekuni bidang usaha tersebut.

“Dalam hal perdagangan batik, masih dipegang oleh bangsa kita bukan bangsa lain. Saudagar-saudagar batikan pada zaman itu disebut mandoran sebab seluruhnya orang Jawa,” tulis R Moch Affandi dalam Bandung Baheula.

Dari tulisan Affandi diketahui bahwa hampir seluruh mandoran ini adalah orang Jawa, namun tidak seluruhnya keturunan dari Senopati Diponegoro. Hanya sebagian mandoran saja yang leluhurnya pelarian Senopati Diponegoro.

Para mandoran ini memasarkan barang dagangannya di pasar-pasar sekitar Bandung, seperti Lembang, Padalarang, Cimahi, Soreang, Banjaran, Ciparay, Majalaya, Cicalengka, Ujungberung, dan lain-lain.

Meraih kejayaan di Priangan

Para mandoran ini mencari batik yang akan mereka perdagangan dari pusat-pusat industri batik yang berada di Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Gresik, Banyumas, Lasem, dan sebagainya.

Kebiasaan mencari batik ke jantung industri ini dipermudah dengan adanya moda transportasi kereta api. Pembukaan rangkaian jalur kereta api Bandung - Vorstenlanden (Surakarta - Yogyakarta) tahun 1894 membawa pengaruh yang signifikan.

Ketika itu bisnis batik memang menjadi komoditas yang menarik bagi pasaran dunia mode. Bagi kalangan Priyayi, batik menjadi simbol status sosial, dan bagi kalangan biasa kain batik menjadi busana yang cenderung ngetren saat itu.

Cerita Baju Baru dan Pohon Pisang dalam Perayaan Natal di Tanah Priangan

Para mandoran ini berjualan batik di seantero Tatar Priangan. Bandung kemudian dikenal sebagai pusat perdagangan batik di Provinsi Jawa Barat (Jabar). Pendapatan di salah satu toko Pasar Baru Bandung, tidak kurang dari seribu gulden.

Dalam catatan Affandi, pendapatan ini memungkinkan karena Bandung yang telah ditetapkan sebagai ibu kota Karesidenan Priangan menjadikannya terus didatangi oleh pemukim dari sekitar Priangan atau luar daerah.

Rudolf Mrazek menyatakan di tahun 1904, pengguna jasa kereta api didominasi oleh masyarakat pribumi. Sekitar 55 ribu penumpang menggunakan kereta api kelas tiga yang diperuntukan khusus untuk kalangan pribumi.

“Jumlah yang cukup besar jika dibandingkan dengan pengguna kelas satu dan dua (orang Eropa dan pribumi kelas satu) yang hanya mencapai 33.000 penumpang saja,” tulisnya dalam buku Engineers of Happy Land, Perkembangan Teknologi dan Nasionalisme di Sebuah Koloni.

Jejak yang terekam

Potensi yang besar ini besar ini membawa gerbang kesuksesan bagi Saudagar Bandung. Keberhasilan ini menjadikan mereka terkenal sebagai orang kaya yang dihormati oleh masyarakat.

Apalagi kesuksesan ini membawa mereka memiliki ciri yang berbeda dari kelompok lain. Sejumlah ciri seperti, gaya berpakaian, model arsitektur rumah, pilihan menginvestasikan uang, serta upacara perkawinan dan hajatan.

Misalnya dalam pakaian, para Saudagar Bandung terlihat sering menggunakan beskap dan sarung sebagai kesatuan ditambah sorban. Sementara rumah yang mereka bangun pun cukup mewah pada saat itu dengan bahan dasar batu bata yang memiliki sejumlah pintu.

Diungkapkan oleh Dede, rata-rata rumah itu memiliki lima pintu yang menjadi ciri khas rumah Saudagar Bandung. Hal ini kontras dengan rumah-rumah orang Sunda pada awal abad 20 yang didominasi rumah berdinding dan berpagar bambu.

Lain juga dengan cara mereka menyimpan kekayaan, para saudagar ini lebih memilih untuk menginvestasikan uang dengan membeli sejumlah tanah persil yang berada di sekitar Pasar Baru. Selain itu ada juga yang membeli tanah di sekitar kampung Kebon Kawung.

Braga Bandung, Pusat Perbelanjaan Sejak Masa Kolonial Belanda

Sementara itu, tercatat kehadiran Himpunan Soedara yang dirintis sejak 1906 yang memungkinkan untuk para saudagar dan keluarganya untuk menyimpan uang pada lembaga simpan-pinjam ini.

Kesuksesan yang diraih para saudagar ini juga tampak pada pilihan perhelatan upacara pernikahan yang terbilang mewah saat itu dengan makanan yang relatif banyak. Hidangan pesta dapat menjadi tolak ukur mengenai status ekonomi seseorang.

Selain memberikan jamuan yang cukup melimpah, akan digelar juga pertunjukan Wayang Golek semalam suntuk, ternyata hal ini juga kerap menjadi penanda lain atas status mereka sebagai orang kaya.

K.H Anang salah seorang saudagar yang cukup kaya dan terpandang misalnya, menyelenggarakan pertunjukan wayang sebagai hiburan dalam salah satu acara hajatan yang diselenggarakan.

Memori kolektif masyarakat Bandung terhadap para saudagar ini memang cukup baik. Salah satunya adalah tokoh saudagar Bandung bernama Haji Pahrurodji yang bertempat tinggal tidak jauh dari Pasar Baru.

Bekas kediamannya kini dijadikan Bank Bumi Artha. Namanya juga diabadikan sebagai nama jalan yang menghubungkan jalan Otto Iskandar Dinata dengan gang Tamim. Nama jalan ini sudah tidak terlihat lagi sebab terhalang oleh terpal.

Hadirnya sejumlah Saudagar Bandung yang cukup sukses di bidangnya ini menunjukan bahwa kelompok Muslim pribumi masih memainkan peran penting dalam sektor perdagangan pada awal abad ke 20.

Penguasaan Saudagar Bandung dalam sektor perdagangan grosir bertahan hingga tahun 1920 an, Setelah dekade kedua abad ke 20, sebagian saudagar ini mengalami berbagai rintangan yang cukup berarti.

Misalnya upaya pemerintah Hindia Belanda yang membatasi perizinan usaha grosir atau agen perantara. Pihak kolonial seperti menyadari bahwa kegiatan pedagang perantara memegang urat nadi perdagangan sehingga perlu diawasi.

Selain itu kebijakan yang diskriminatif, serta keberhasilan orang China dan Timur Asing dalam perdagangan menengah ke bawah, menjadi faktor kemunduran lain. Hal ini juga ditambah dengan perubahan permintaan pasar dan datangnya barang impor.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini