Kilas Balik Jejak Kejayaan Seniman Poster Film Bioskop Indonesia di Tahun 1980-an

Kilas Balik Jejak Kejayaan Seniman Poster Film Bioskop Indonesia di Tahun 1980-an
info gambar utama

Perkembangan teknologi dan digitalisasi tidak hanya memengaruhi industri perfilman dari segi produksi atau distribusi konten. Pada cakupan yang lebih luas, dalam hal ini sarana untuk menikmati tontonan yang ada layaknya bioskop, bahkan hingga bagian promosi seperti poster film nyatanya juga mengalami perubahan yang sangat berarti.

Masyarakat Indonesia yang pernah melalui masa-masa kehidupan muda di tahun 1980-an atau setidaknya hingga tahun 2000-an awal, pasti paham betul bagaimana wujud perubahan yang terjadi.

Dulu bioskop belum dikelola oleh perusahaan yang memiliki jaringan luas di hampir seluruh Indonesia, melainkan hadir dalam bentuk pengelola berbeda di masing-masing kota. Tak lupa, bagian paling ikonik adalah poster promosi film yang bukan dicetak secara digital, tapi dibuat dengan cara lukisan tangan di atas sebuah kain khusus atau papan tripleks oleh sejumlah seniman lukis.

Kini zamannya tentu telah berbeda, bahkan sejak awal hingga pertengahan dekade pertama setelah tahun 2000, ciri khas tersebut perlahan mulai tergerus dengan lahirnya kemajuan teknologi yang menawarkan cara lebih mudah dan seirama dengan perkembangan zaman.

Sudah pasti, hal tersebut juga berdampak bagi para seniman yang di masa lalu menggeluti pekerjaan di bidang tersebut.

Kini profesi seniman pelukis poster film bioskop sudah nyaris hilang, kalau bukan karena satu-satunya sosok tersisa di bioskop yang juga masih mempertahankan sedikit nuansa bisokop di masa lampau, yakni Parsan di Rajawali Cinema yang berada di kota Purwokerto, Jawa Tengah.

Melihat Geliat Bisnis Bioskop di Indonesia Sejak Zaman Dulu

Satu-satunya di Indonesia

Bukan lagi menjadi hal yang mengejutkan, sebagian besar masyarakat mungkin sudah banyak yang mengetahui jika hingga saat ini, di Purwokerto memang masih ada bioskop yang beroperasi dengan tetap mempertahankan ciri khas nuansa ‘jadul’.

Bioskop yang dimaksud adalah Rajawali Cinema yang lokasinya berada di Karangbawang, Purwokerto Selatan, Kabupaten Banyumas. Kerap berseliweran dan beberapa kali mencuri perhatian di jagat maya, salah satu hal yang mencuri perhatian dari bioskop ini adalah ciri khas dengan tetap mempertahankan promo film dalam bentuk poster yang dibuat secara manual, oleh lukisan tangan seorang seniman.

Adapun seniman yang dimaksud diketahui bernama Parsan. Mengutip howdyindonesia.com, bisa dibilang jika Parsan merupakan sosok terakhir sekaligus satu-satunya yang tersisa dari kalangan yang sejak dulu bekerja sebagai seniman pelukis poster film.

Parsan merupakan pria berusia 55 tahun yang sudah bekerja sebagai seorang pelukis poster film selama lebih dari 30 tahun. Dirinya mulai menggeluti pekerjaan tersebut saat masih berusia 21 tahun sejak 1987.

Dalam menghasilkan karyanya, Parsan hanya mengandalkan sebuah papan tripleks berukuran kurang lebih 2x1 meter, yang bisa digunakan secara berulang kurang lebih selama lima bulan. Selain itu sudah pasti seperangkat alat melukis seperti kuas dan berbagai macam warna cat kaleng juga dibutuhkan.

Yang menakjubkan, dalam membuat satu buah poster film dirinya hanya membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam saja, terkadang pekerjaan tersebut dilakukan sembari mengerjakan hal lainnya. Sudah tak terhitung berapa banyak lukisan poster film yang Parsan buat.

"Satu dua jam saja udah selesai. Itu pun saya sambi-sambi," ujar Parsan.

Bukan cuma itu, dalam setiap poster film terbaru yang dihasilkan semisal film The Batman, Spiderman: No-Way Home, dan masih banyak lagi, Parsan tidak membuat gambar yang sama persis, melainkan membuat lukisan dengan mengandalkan imajinasinya sendiri setelah melihat gambaran poster yang asli.

Kiprah Ali Sadikin Jadikan Film Nasional Tuan Rumah di Jakarta

Lunturnya kejayaan tapi tetap diandalkan

Masih menurut sumber yang sama, Parsan menyebut jika sebelum kemajuan teknologi terjadi seperti sekarang ini. Dirinya bisa dibilang cukup berjaya sebagai seorang seniman. Ia kerap diminta untuk membuat lukisan kaligrafi di kubah masjid.

Lain itu, ia juga sering membuat lukisan untuk sejumlah spanduk warung kaki lima, penghasilan dari pekerjaan tersebut bahkan dibilang cukup lumayan. Bahkan dirinya sampai sama sekali tidak memikirkan gaji yang didapat dari membuat lukisan poster film di bisokop Rajawali.

Namun kini semua permintaan tersebut sudah luput, sehingga Parsan benar-benar hanya mengandalkan pemasukan dari pekerjaannya sebagai pelukis poster film.

Meski begitu, di saat bersamaan pihak pengelola bioskop rupanya sangat bergantung kepada Parsan hingga detik ini. Pasalnya, mereka memang sengaja mempertahankan cara promosi film menggunakan lukisan manual karena menjadi daya tarik tersendiri.

Bahkan baik pihak pengelola bioskop maupun Parsan saat ini sama-sama sedang mencari penerus yang bisa menggantikan dirinya, jika ia sudah tidak bisa lagi melukis poster film kelak. Namun hingga saat ini disebut belum ada pengganti yang cocok dan sesuai menurut keduanya, untuk menyamai kualitas gambar yang dihasilkan Parsan.

"Kami sudah memikirkannya, tapi belum ada bakat yang terlihat. Namanya bakat, naluri seni juga berpengaruh di situ," ujar pengelola bioskop Rajawali, yang diketahui bernama Eny.

Hal-hal Menarik yang Cuma Bisa Kamu Dapatkan di Bioskop Tempo Doeloe

Jejak pelukis poster film lainnya

Seniman poster film Indonesia
info gambar

Selain Parsan, jejak para pelukis poster film lain rupanya pada awal tahun ini sempat muncul di Surabaya. Bahkan, para seniman lukis yang dulunya biasa membuat poster film tergabung dalam sebuah komunitas bernama IPPFI (Ikatan Pelukis Poster Film Se-Indonesia).

Pada tanggal 5 Januari lalu mereka diketahui membuat sebuah pameran bertajuk Mindah, yang merupakan akronim dari ‘Mini dan Indah’, bertempat di The Progo, kawasan Taman Bungkul. Dalam pameran tersebut terdapat sebanyak 62 lukisan berukuran kecil karya 13 anggota IPPFI dari beberapa kota.

Menukil keterangan JawaPos, para seniman pelukis poster tersebut dulunya diketahui bernaung di studio poster film, yang menjadi rekanan perusahaan distributor film. Spesialisasi mereka diketahui berbeda pula, ada yang spesialis membuat poster film Mandarin, India, Barat, hingga film lokal Indonesia.

Kini, para pelukis tersebut memang sudah menggeluti bidangnya masing-masing setelah tidak lagi melukis untuk poster film seperti dulu. Ada yang menjadi spesialis membuat gambar hitam putih untuk slide dan iklan film di koran-koran, dan ada yang beralih ke pembuatan baliho untuk panggung pertunjukan, kampanye, dan lain-lain.

Lain itu, ada juga yang kemudian beralih menjadi ilustrator di media cetak dan online Jawa Pos. Yang jelas hingga saat ini, disebutkan bahwa para seniman yang dulunya menggeluti pembuatan poster masih tetap berhubungan satu sama lain dengan mengandalkan grup jejaring pesan instan.

Film Tjoet Nja' Dhien yang Diproduksi Tahun 1988 Kembali Diputar Ulang

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini