Menilik Asal-Usul Tradisi Suro’ Baca yang Hidup di Tengah Masyarakat Makassar

Menilik Asal-Usul Tradisi Suro’ Baca yang Hidup di Tengah Masyarakat Makassar
info gambar utama

Dari sekian banyak tradisi menyambut Ramadan yang dimiliki setiap daerah Indonesia, masih ada satu lagi yang menarik untuk dibahas, terutama saat mendekati waktu bulan suci di tahun ini yang tak terasa sudah semakin dekat.

Kali ini, tradisi tak kalah khidmat datang dari umat Muslim yang berasal dari Makassar, Sulawesi Selatan, khususnya bagi masyarakat suku Bugis. tradisi yang dimaksud adalah suro’ baca atau dikenal juga dengan istilah suru maca.

Semakin menarik, karena tradisi ini dikenal sebagai hasil akulturasi antara ajaran Islam sebelum masuk ke Makassar, dengan budaya lokal di wilayah yang dijuluki Kota Daeng tersebut. Meski begitu, tradisi ini masih terjaga dengan baik di kalangan masyarakat pedesaan hingga perkotaan, dan rutin dilakukan hingga saat ini setiap menyambut bulan suci.

Kira-kira apa yang membuat tradisi suro’ baca berbeda dengan tradisi menyambut Ramadan lain yang ada di Indonesia?

Perlon Unggahan, Tradisi Menyambut Ramadan Ala Masyarakat Adat Bonokeling

Mengandalkan peran To Macca

Sedikit membahas mengenai definisinya, secara etimologi tradisi ini berasal dari bahasa bugis yang terdiri dari dua kata yaitu Suro` yang berarti meminta atau memohon, dan Baca yang berarti membaca.

Sehingga jika didefinisikan secara terminologi, suro’ baca adalah usaha seseorang untuk meminta orang lain yang dipercaya memiliki ilmu agama lebih tinggi dan baik, agar membacakaan doa-doa kesyukuran.

Hampir sama seperti tradisi doa atau menyambut Ramadan pada umumnya, suro’ baca merupakan kegiatan ritual dengan menyimpankan makanan khusus seperti opor ayam, ayam goreng tumis, nasi ketan dua warna yakni putih maupun hitam, gula merah yang telah dicairkan, onde-onde tradisional, pisang, dan lain sebagainya.

Dalam tradisi tersebut, pihak yang ingin menggelar tradisi akan mengundang “Pa’ baca” (pembaca doa), yang merupakan orang-orang terpilih di sekitar daerah tempat tinggalnya. Jika dilihat dari segi usia dan status, mereka yang dimaksud adalah kalangan orang tua yang oleh masyarakat bugis dipredikatkan sebagai “To Macca”, yang artinya orang pintar.

Nantinya, To Macca akan membacakan doa di depan makanan-makanan yang telah disiapkan oleh tuan rumah. Penyajian makanan dilakukan di atas “kappara” atau nampan, kemudian di dekat makanan-makanan tersebut disimpan dupa-dupa yang di tancapkan pada gelas yang berisi beras.

Setelah pembacaan doa selesai, para keluarga yang menggelar ritual tersebut akan menyantap makanan yang telah di doakan dengan seluruh anggota keluarga. Selain itu, biasanya para tetangga sekitar juga kerap diajak makan dan kumpul bersama, atau membawakan makanan kepada mereka.

Munggahan dan Kuramasan, Tradisi Masyarakat Sunda Menyambut Ramadan

Akulturasi budaya hindu dan ajaran islam

Ada hal menarik mengenai bagaimana awal mula tradisi suro’ baca hadir, yang rupanya tak lepas dari tradisi masyarakat beragama Hindu di Sulawesi khususnya Makassar, yang lebih dulu ada sebelum agama Islam masuk ke wilayah tersebut.

Mengutip penjelasan dalam jurnal penelitian Pesan Dakwah Dalam Tradisi Suro’ Baca milik Basir pada tahun 2020 lalu, disebutkan bahwa suro’ baca memang telah menjadi tradisi yang sakral dan religius. Namun, awalnya tradisi tersebut ternyata merupakan kebudayaan orang-orang Hindu yang lebih dulu menetap di kawasan tersebut.

Seperti yang diketahui, jika mereka memiliki kepercayaan yang mengagungkan dewa-dewa dalam ajarannya, dan telah menjadi budaya yang hidup lebih dulu pada kala itu. Namun masih mengutip sumber yang sama, karena diceritakan jika Islam masuk di Indonesia melalui pendekatan budaya termasuk di Sulawesi Selatan, itulah yang membuat hal-hal yang dulunya dilaksanakan oleh agama hindu masih ada dan terus dilaksanakan oleh orang-orang Muslim sampai saat ini.

Tapi, bukan berarti penyembahan dan kepercayaannya sama-sama ditujukan kepada Dewa, justru pada titik ini para ulama atau pembawa ajaran Islam di Sulawesi disebut berhasil mengakulturasi budaya dan tradisi yang ada, menjadi sesuai dengan ketentuan ajaran Islam.

Hal tersebut dijelaskan oleh H. Nuddin, salah satu tokoh di Kelurahan Bawasalo, sebagai wilayah yang masih terus melestarikan tradisi suro’ baca hingga saat ini.

“Ada beberapa budaya dan tradisi yang dulunya dilaksanakan oleh orang-orang yang memeluk Agama Hindu, masih di laksanakan olah masyarakat Bawasalo. Seperti mappano’ (menurukan makanan kelaut). Hal ini berubah menjadi menurunkan makan ke masjid,” terang H. Nuddin.

“Begitupun dengan suro’ baca atau bentuk rasa syukur, yang dulunya meminta dan berterimakasih kepada dewa-dewa, berubah menjadi meminta dan berterimakasih kepada Allah SWT.” tambahnya lagi.

Sementara itu menurut Sabara Nuruddin, selaku Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar, Kementerian Agama RI, hingga saat ini suro’ baca dipandang sebagai hal yang penting bagi masyarakat yang mengamalkannya, dalam menyambut sakralitas bulan Ramadan dengan membacakan doa keselamatan.

"Menolak bala yang mungkin menimpa di bulan suci Ramadan. Jadi yang paling penting adalah mempersiapkan diri agar siap untuk memasuki bulan suci Ramadan. Itu filosofinya," ujar Sabara, mengutip IDN Times.

Tradisi Ramadan Jawa di Kaledonia Baru, Ada Nyadran Hingga Tahlilan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini