Operasi Pembebasan Sandera Pembajakan Pesawat Woyla di Thailand

Operasi Pembebasan Sandera Pembajakan Pesawat Woyla di Thailand
info gambar utama

Sabtu pagi, 28 Maret 1981. Tak seperti biasanya, hari itu, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) Jenderal Yoga Sugomo berangkat kerja agak siang. Jam 08.00, dirinya baru meninggalkan rumahnya di Jalan Jambu, Jakarta menuju Bina Graha.

Selesai menyelesaikan urusan, dirinya menuju kantor Bakin di sudut Jalan Panglima Sudirman dan Jalan Senopati. Belum lama duduk, sekretarisnya, Letnan Kolonel Sanyoto, menyodorkan peristiwa pembajakan pesawat Garuda beberapa menit berselang.

“Coba telusuri lebih jauh serta tanyakan kepada Garuda, pesawat apa yang dibajak, rute penerbangan, di mana dibajak, bagaimana penumpangnya dan sebagainya,” ujar Yoga memberikan arahan yang disadur dari buku Operasi Woyla: Pembebasan Pembajakan Pesawat Garuda Indonesia karya B Wiwoho.

Jam 10.36 menit masuk informasi yang lebih lengkap. Pesawat yang dibajak adalah pesawat Garuda “Woyla” dengan nomor penerbangan GA-206. Pesawat menerbangi rute Jakarta-Palembang-Medan.

Pesawat ini dibajak begitu tinggal landas dari pelabuhan udara Talang Betutu, Palembang. Menurut keterangan, pesawat mengangkat 6 orang awak, 33 penumpang dewasa dan satu anak dari Jakarta, serta 14 penumpang dewasa yang naik dari Palembang.

Pesawat DC 9 lepas landas dari bandara tersebut pukul 09.05 WIB. Awalnya penerbangan berjalan lancar sebagaimana mestinya. Namun ketika pesawat terbang di atas langit Pekanbaru, 5 orang berlarian menuju bagian kabin pesawat.

Daftar Bandara Tersibuk di Indonesia Berdasarkan Jumlah Penerbangan Domestik

“Jangan bergerak! Jangan bergerak!, siapa yang bergerak akan saya tembak,” kata salah satu dari mereka.

Awalnya, beberapa penumpang tidak mengerti maksud dari drama pembajakan ini bahkan ada yang menganggap hanya candaan, namun setelah pembajak mengulurkan pistol dan granat, mereka akhirnya sadar bahwa pembajakan sedang berlangsung.

Pesawat Woyla yang dibajak dibelokkan rutenya menuju Penang, Malaysia, dan kemudian ke Bangkok, Thailand. Pembajak memilih rute tersebut dikarenakan ingin membawa pesawat tersebut ke Timur Tengah melalui rute tersebut lalu lanjut ke Colombo, Srilanka-Libya.

Pembajakan ini dilakukan oleh 5 teroris yang dipimpin Imran bin Muhammad Zein dan mengaku dirinya sebagai kelompok ekstrimis “Komando Jihad”. Mereka menuntut agar 80 orang tahanan yang terlibat dalam penyerangan Kosekta 8606 Pasirkaliki di Bandung pada 11 Maret 1981 dibebaskan.

Para tahanan itu diminta diterbangkan ke suatu tempat di luar Indonesia yang belum ditentukan. Disebut pula para pembajak menuntut disediakan uang tunai sebesar 1,5 juta dolar AS. Mereka juga mengancam akan meledakkan pesawat jika tuntutan-tuntutan itu tidak dipenuhi.

Kondisi tegang dalam pesawat

Bagi para penumpang yang disandera selama tiga hari pada akhir Maret 1981 menjadi momen yang begitu berat, menguras mental dan fisik. Kelompok pembajak yang dikomandoi Mahrizal, tak segan melakukan kekerasan terhadap sandera.

Kepada pramugari, pembajak kemudian memerintahkan mengumpulkan semua uang, arloji, perhiasan, dan kartu identitas yang sudah di taruh di atas meja masing-masing, ke dalam satu kantong plastik.

Segudang pengalaman tampaknya mendorong pembajak yang senantiasa menggenggam granat untuk selalu waspada dan curiga. Sesaat setelah mendarat di Penang, diperiksanya satu per satu tanda pengenal yang terkumpul.

Kebetulan ketika seorang pembajak melongok, terbaca olehnya sebuah anggota Resimen Mahasiswa, Musril Hanafiyah, Danyon VI/Resimen Mahawarman Bandung. Kontan para pembajak menyeret si penumpang ke depan dan dipukul.

Pada jam-jam pertama pembajakan, para pembajak ini menceramahi penumpang. Menjelek-jelekkan pemerintahan rezim Soeharto yang ketika itu disebut getol menyudutkan kelompok Islam politik.

Dilaporkan oleh Sinar Harapan (4/4/1981) yang disadur dari Tirto, para penumpang melaporkan bahwa sejak dibajak di atas udara Pekanbaru menuju Penang, semua telapak tangan harus di bagian atas sandaran kursi. Tangan penumpang baru bisa diturunkan ketika pesawat terbang menuju Bangkok, Thailand.

Para sandera sebenarnya sempat ingin melakukan perlawanan dengan menggunakan kode tangan dan mata untuk menghindari kecurigaan pembajak. Namun perlawanan itu tak pernah dilakukan.

Selain pertimbangan keselamatan, kesempatan melawan menjadi menipis usai dua penumpang nekat kabur dari pesawat. Dua penumpang yang nekat kabur adalah Robert Wainwright dan Carl Schnider.

Wainwright kabur melalui pintu darurat pesawat pada Minggu siang sedangkan Schnider sore harinya. Nahas Schnider tertembak di bagian bahu saat meloncat dari pesawat. Setelah kejadian itu, para pembajak bersikap lebih galak dan penderitaan penumpang menjadi lebih bertambah.

Tiga menit yang menegangkan

Di Jakarta, setelah mengikuti Rapat Pimpinan ABRI, Yoga kemudian menghadap Presiden Soeharto. Kepada Soeharto, dirinya melaporkan peristiwa pembajakan yang dirinya ketahui dari A sampai Z. Juga keinginannya buat membuntuti.

Soeharto pun menyetujui agar Yoga berangkat ke Bangkok. Sebelum berangkat, Yoga mendapat pesan dari Soeharto bahwa tidak boleh menyetujui permintaan dari pelaku pembajak, bahkan kalau perlu melakukan operasi militer.

“Tetapi ingat, kamu pun harus menyelamatkan penumpang dan awak pesawat. Tindakan apa saja bisa kau ambil asalkan jangan mengorbankan kehormatan Negara. Dan kalau seandainya semua jalan gagal, baru keputusan bisa kau ambil untuk melakukan operasi militer,” tegas Soeharto.

Dalam perjalanan menuju Bangkok, Yoga berpikir bila operasi militer diambil, salah satu hal yang dilakukan tentunya adalah meminta bantuan tentara Thailand. Dirinya tidak ingin mengulangi pengalaman pahit Mesir pada Februari 1978.

Ketika itu serbuan pasukan Mesir menemui kegagalan untuk menyelamatkan 50 warganya di lapangan udara Lanarka, Siprus. Ketika itu mereka dihadang pasukan Siprus yang merasa kehormatannya dilanggar.

Karena inilah penggunaan pasukan Indonesia akan dipertimbangkan bersama tuan rumah. Tetapi pejabat Thailand menginginkan peristiwa pembajakan ini diselesaikan secara damai. Mereka terang-terangan menolak rencana kedatangan pasukan komando Indonesia.

Yoga lantas mencoba mengelabui pembajak dengan berpura-pura mengabulkan semua tuntutan mereka pada hari ketiga. Negosiasi ini menjadi upaya mengulur waktu hingga tim antiteror dan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha) siap bergerak.

Telah Dibuka! Rute Udara Intra-Lampung Pertama di Indonesia

Puncaknya, Selasa 31 Maret 1981 dini hari pembajakan pesawat menjadi semakin menegangkan. Operasi berjalan saat pemerintah Thailand mengizinkan pasukan komando Indonesia bergerak.

Pukul 02.30, waktu setempat, ada gerakan di semak-semak sekitar 400 meter dari pesawat. Ternyata mereka adalah para komando dari Kopassandha, pimpinan Letkol Infanteri Sintong Panjaitan.

Pasukan ini bergerak mengendap dan teratur dalam formasi dua baris mendekati pesawat. Mereka tampak membawa tiga tangga. Dua tangga diletakkan di masing-masing sayap, satu tangga di bagian belakang pesawat. Dengan sekejap mereka masuk ke dalam pesawat.

Operasi itu hanya berlangsung dalam waktu tiga menit saja. Semua penumpang selamat. Lima pembajak tewas. Korban dari tim anti teror adalah Capa Achmad Kirang, sedangkan dari pihak Garuda kehilangan kapten pilot Herman Rante.

Keberhasilan operasi ini tak hanya melambungkan karir Sintong Panjaitan, namun juga Letjen LB Moerdani yang merupakan Kepala Pusat Intelijen Strategis. Reputasi Kopassandha yang kelak jadi Kopassus pun diakui sebagai salah satu pasukan elite terbaik di dunia.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini