Darah dan Doa, Ketika Gagasan Kebangsaan Pertama Kali Terputar dalam Sinema

Darah dan Doa, Ketika Gagasan Kebangsaan Pertama Kali Terputar dalam Sinema
info gambar utama

Sinema Darah dan Doa, karya Usmar Ismail pada 1950 kini memang telah luntur baik gambar dan suaranya. Namun pesan cerita dan gagasannya masih menjadi wacana yang sangat relevan hingga saat ini.

Darah dan Doa ditulis Usmar berdasarkan naskah Sitor Situmorang, salah seorang penulis Angkatan 45. Karena itu bila diamati dari alur cerita dan dialog-dialog yang dihadirkan, semangat sastra yang membongkar “keakuan” cukup mewarnai film ini.

Film ini berkisah tentang situasi hijrahnya Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Yogyakarta ke Jawa Barat pada awal 1949, setelah rentetan penyerangan Belanda dalam Agresi Militer di Jawa dan Sumatra.

Para prajurit Divisi Siliwangi beserta keluarga mereka menyusuri perjalanan nan panjang dalam medan berat. Kekurangan pangan dan cedera merupakan keniscayaan dan sekaligus ancaman bagi mereka.

Rombongan hijriah prajurit dan keluarga ini dipimpin oleh Kapten Sudarto (Del Juzar). Perjalanan ini diakhiri pada tahun 1950 dengan diakuinya kedaulatan Republik Indonesia secara penuh.

Film ini lebih difokuskan kepada Kapten Sudarto yang dilukiskan bukan sebagai pahlawan tetapi sebagai manusia biasa. Meski sudah beristri di tempat tinggalnya, selama di Yogyakarta dan dalam perjalanannya dia terlibat cinta dengan dua gadis.

Film Janur Kuning, Pencitraan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949

Selama di Serangan, Kapten Sudarto bertemu dengan Connie (Ella Bergen), seorang gadis Indo-jerman yang mengungsi di markas batalyon. Connie dan Sudarto menjadi akrab dan membuat beberapa prajurit yang tidak suka.

Panglima Batalyon, Kapten Adam (R Soetjipto) kemudian mengirim Connie ke Bandung, tempat dia berasal. Awalnya Sudarto dan Connie protes dalam hal ini, walau akhirnya menerima keadaan dan instruksi agar kembali ke Bandung.

Batalyon yang dipimpin oleh Adam dan Sudarto diperintahkan untuk melakukan perjalanan ke kawasan Jawa Barat. Selama dalam perjalanan terjadi berbagai peristiwa, salah satunya Sudarto mendapatkan tambatan hati yaitu Suster Widya (Farida).

Dalam sebuah pertempuran yang sangat dahsyat menimbulkan korban dari pasukan Adam dan Sudarto. Pada serangan itu, Suster Widya gugur. Meski sempat dirawat, Kapten Adam akhirnya meninggal.

Sebelum meninggal, Adam menyampaikan penyesalan karena mengkhianati Sudarto. Kemudian Sang Kapten menjadi tawanan perang Belanda dan dipecat dari kesatuan tentara. Dalam kesalahpahaman, pada akhir cerita, Sudarto tewas ditembak oleh anggota partai Komunis.

Sudarto dan sosok generasinya

Pada film Darah dan Doa, Usmar sangat jelas menampilkan pengaruh konsep individualisme, kebebasan, humanisme dan eksistensialisme dalam menjelaskan karakter yang ada dalam cerita.

Cara ini memang sudah lazim digunakan dalam karya-karya Angkatan 45. Sitor Situmorang sebagai penulis merupakan salah satu tokoh utama dalam sastra Angkatan 45 selain yang paling dikenal oleh publik, Chairil Anwar.

“Konsep-konsep kebebasan individu dan humanisme yang jelas digambarkan oleh Usmar pada tokoh Kapten Sudarto. Tokoh ini digambarkan sebagai seseorang yang menempatkan kemanusian di atas segala-galanya,” jelas tulisan Bagasworo Aryaningtyas dan kawan-kawan dalam artikel berjudul Darah Dan Doa: Cita-Cita Filem Nasional yang dimuat di Jurnal Footage.

Sementara itu tokoh lainnya, seperti Connie, Widya, Kapten Adam dan Sersan Sumbara Karta, jelas Bagas, merupakan kepingan penting yang menjelaskan dan mempertegas sisi kemanusian dalam film Darah dan Doa.

Pada kisah Sumbara Karta, misalnya, digambarkan tentang sosok prajurit yang patuh kepada perintah atasan. Sumbara Karta baru mendapatkan kelahiran bayi dan istrinya yang kemudian meninggal dunia karena sakit.

Dirinya juga menghadapi cobaan yang lebih besar yakni saat diperintah menembak seorang terhukum, yaitu ayahnya sendiri. Usmar, menurut Bagas, mencoba menghadirkan pertarungan perbedaan ideologi di Indonesia.

'Sebelum Iblis Menjemput' akan Diputar di Amerika

Sedangkan dalam sosok Connie dan Widya, digambarkan sebagai pribadi yang tidak dapat diterima dalam suasana revolusi, karena persoalan-persoalan emosi dan perasaan harus dibuang jauh.

Pada tokoh Kapten Adam, meski digambarkan sebagai seorang pemimpin dan prajurit disiplin, namun pada bagian tertentu juga ditempatkan sebagai sosok manusia biasa. Misalnya Adam yang digambarkan sebagai sosok yang sayang pada keluarganya.

Bagi Bagas, sangat jelas film Darah dan Doa adalah sebuah propaganda perjuangan militer, tentang pejuang-pejuang yang gugur di masa revolusi. Narasi yang dikisahkan oleh narator selalu dihubungkan dengan perjuangan dan revolusi.

“Namun dengan sangat pandai, Usmar mengemasnya menjadi bukan sekadar film propaganda murahan yang sekadar menonjolkan kisah heroisme. Justru Darah dan Doa menjadi film tentang eksistensi manusia dalam revolusi,” pungkasnya.

Film sebagai identitas bangsa

“Saya tertarik kepada kisah Sudarto, karena menceritakan secara jujur kisah manusia Indonesia dengan tidak jatuh menjadi film propaganda yang murah,” tulis Usmar ismail dalam Film Saya yang Pertama.

Film sejak awal merupakan bidang kebudayaan yang hampir tidak memiliki sentuhan langsung dengan situasi politik. Berbeda dengan kehadiran sastra lain, seperti Angkatan Balai Pustaka hingga Angkatan 45 yang merupakan tonggak perkembangan sastra di Tanah Air.

Meski pada tahun 1926, film pertama produksi Hindia Belanda dimulai, persoalan kecenderungan film sebagai barang hiburan, tidak pernah lepas. Produksi film banyak didominasi kalangan para produser peranakan Tionghoa yang melihatnya hanya dari sisi barang dagang.

Sedangkan pada masa penjajahan Jepang, film digunakan sebagai kepentingan propaganda sosial politik Jepang. Terinspirasi oleh penggunaan film sebagai alat kepentingan sosial politik Usmar mulai membangun cita-cita film nasional.

Karena itulah dirinya mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) bersamaan dengan hari pertama pengambil gambar film Darah dan Doa yaitu pada 30 Maret 1950. Hari itu kemudian secara resmi ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.

Banyak argumen yang mendukung bahwa perfilman nasional Indonesia diawali dari film karya Usmar yang disebut mencerminkan kepribadian bangsa ini. Selain itu film Doa dan Darah disebut sebagai film yang pertama kali menceritakan tentang kejadian-kejadian yang nasional sifatnya.

DreadOut: Nuansa Mencekam di Gim dan Filmnya

“Tidaklah mengherankan ketika akhirnya film ini mendapatkan kehormatan untuk diputar di tempat kediamannya Bung Karno yang baru (Istana Negara). pertengahan tahun 1950,” tulis Arda Muhlisum dalam artikel berjudul Film Darah dan Doa Sebagai Wacana Film Nasional Indonesia.

H Rosihan Anwar dalam pengantarnya di Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986, juga menuturkan bahwa sifat-sifat utama dan nilai-nilai yang dianut Usmar adalah patriotisme, nasionalisme yang tinggi dan idealisme yang menyala-nyala atau hidup dengan bercita-cita.

Sedangkan Gayus Siagian dalam bukunya Sejarah Film Indonesia menyatakan bahwa film Darah dan Doa diberi predikat nasional karena berbeda dengan film-film sebelumnya. Pasalnya modal untuk film ini adalah modal nasional yang diambil dari masyarakat.

Saat itu bukan saja perusahaannya berasal dari Indonesia, namun penyutradaraan, ceritanya, artis-artisnya, juru kamera, penulis skenario, editor dan lain-lainnya merupakan orang Indonesia.

Sedangkan dalam poster filmnya, banyak sekali kalimat-kalimat penggugah semangat bagi nasionalisme, seperti Film yang mesti dilihat oleh semua pecinta bangsa dan juga kalimat Perjuangan bangsa Indonesia hidup kembali dalam: THE LONG MARCH DARAH DAN DOA.

Hikmat Darmawan, pengamat film dan komik mengatakan saat itu memang telah muncul kesadaran untuk membicarakan persoalan Indonesia, dan hal ini diwakili dalam film ini. Film ini dibuat, kata Hikmat, sebagai kesadaran bercakap tentang bangsa yang masih bayi.

Sedangkan sejarawan JJ Rizal menyebut film ini sangat nekat pada zamannya. Akibatnya, film ini sempat menimbulkan polemik besar ketika pertama kali beredar. Walau secara fakta, film ini tidak terlalu laku di pasaran.

"Tetapi juga film yang sangat luar biasa karena berani-beraninya mempertanyakan sejarah yang belum selesai di umur Republik yang masih sangat belia," jelasnya yang dimuat dari National Geographic.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini