Peneliti Temukan Dua Spesies Burung Baru di Pegunungan Meratus

Peneliti Temukan Dua Spesies Burung Baru di Pegunungan Meratus
info gambar utama

Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan. Jumlah pulau yang ada di wilayah Nusantara bahkan lebih dari 17.000 dan terbentang di antara benua Asia dan Australia, juga di antara Samudera Pasifik dan Hindia.

Dengan luas wilayah 1,3 persen dari luas muka bumi, Indonesia juga memiliki bentang alam membentuk bioregion yang dapat dipisahkan antara biogeografi flora-fauna Asia dan Australasia, serta terbentuk garis Wallacea, Weber, dan Lydekker. Kondisi tersebutlah yang membuat Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi sampai dikenal sebagai negara megabiodiversitas kedua terbesar di dunia.

Keanekaragaman hayati merupakan aset jangka panjang yang dimiliki negeri ini yang perlu terus dipelajari dan diteliti demi kesejahteraan bangsa.

Dari berbagai variasi makhluk hidup yang ada di wilayah negeri ini, burung termasuk salah satu yang banyak ditemukan di berbagai daerah dengan berbagai spesies pula.

Hingga tahun 2021, Indonesia mempunyai 1.812 jenis burung dibandingkan tahun sebelumnya yang berjumlah 1.794. Ada penambahan 18 jenis burung yang disebabkan oleh pemecahan taksonomi. Dari jumlah tersebut, 532 di antaranya adalah burung endemik dan berdasarkan status keterancamannya, 179 burung di Indonesia telah masuk ke dalam daftar jenis burung terancam punah secara global.

Menambah daftar tersebut, baru-baru ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan penemuan dua spesies baru di Kalimantan yaitu Cyornis kadayangensis (Sikatan Kadayang) dan Zosterops meratusensis (Kacamata Meratus).

Kancilan Flores, Burung Arwah Bersuara Nyaring di Danau Kelimutu

Penemuan dua spesies burung baru

Zosterops meratusensis | Dok. BRIN
info gambar

Proses penelitian terkait penemuan spesies baru tersebut dilakukan dengan studi morfologi, DNA, dan vokalisasi dari jenis baru dan kerabatnya. Dijelaskan Mohammad Irham, peneliti dari Museum Zoologicum Bogoriense, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, dari hasil kajian tersebut menunjukan bahwa populasi Zosterops dan Cyornis yang ditemukan Pegunungan Meratus berbeda dari kerabatnya sehingga dianggap sebagai spesies yang terpisah dan baru.

Kacamata Meratus memiliki ciri fisik berwarna hijau zaitun dengan corak zaitun kekuningan pada bagian bawah tubuh. Sedangkan warna Sikatan Kadayang memiliki warna biru pada tubuh bagian atas dan bagian bawahnya berwarna cokelat, jingga terang, sampai putih.

Sikatan Kadayang berkerabat dekat dengan Sikatan Dayak (Cyornis montanus) tetapi secara morfologis dibedakan dengan warna biru yang lebih pekat dan tubuh bagian bawahnya kecokelatan tanpa warna putih.

Sedangkan Kacamata Meratus paling dekat hubungannya dengan Kacamata Laut (Zosterops chloris) tetapi dibedakan dengan bagian atas berwarna hijau zaitun dan bagian bawah yang lebih gelap. Vokalisasi dan nilai divergensi genetik juga menguatkan status spesies untuk kedua temuan baru tersebut.

Menurut penjelasan Dewi M. Prawiradilaga, peneliti senior di BRIN, penemuan dua jenis burung baru ini merupakan salah satu hasil dari kolaborasi riset bersama mitra peneliti internasional. Hasil penelitiannya sendiri telah diterbitkan di Journal of Ornithology.

Kedua spesies baru tersebut mungkin terbatas di Pegunungan Meratus yang kondisinya dikelilingi hutan sekunder dataran rendah yang terdegradasi atau lanskap pertanian yang dikonversi. Keduanya tampak telah menyimpang dari spesies saudara mereka melalui isolasi geografis di pegunungan terpencil.

Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan membentang sepanjang 600 kilometer dan titik tertingginya ada di Gunung Halau-halau dengan ketinggian 1.901 meter di atas permukaan laut.

Pegunungan yang sudah ditetapkan pemerintah sebagai geopark nasional ini memiliki keanekaragaman hayati seperti flora dan fauna yang khas. Beberapa di antaranya yaitu bekantan, beruang madu, rusa sambar, kijang pelaihari, kera abu-abu, kucing hutan, dan berbagai jenis pohon seperti meranti putih, meranti merah, durian, kanari, nyatoh, medang, hingga perkebunan karet.

Menurut keterangan Irham bahwa kondisi Pegunungan Meratus yang terisolasi dari rantai pegunungan lain di Kalimantan membentuk komunitas fauna yang unik seperti yang terlihat pada kelompok burung. Untuk status konservasi, burung-burung di pegunungan tersebut berpotensi mengalami ancaman dari perubahan serta rusaknya habitat.

Wilayah dataran rendah Pegunungan Maratus telah engalami perubahan sehingga menyisakan habitat yang relatif utuh di zona pegunungan di atas 500 m diatas permukaan laut dengan luasan yang cukup terbatas. Adapun ancaman lain ialah perburuan burung masih marak terjadi untuk memenuhi permintaan dari pasar burung berkicau dan mendoring populasinya untuk menuju kepunahan.

Tiong Batu Kalimantan, Burung Endemik dengan Suara Mirip Klakson

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini