Dibahas dalam Sidang Isbat Penentuan Awal Ramadan, Sebenarnya Apa Itu Hilal?

Dibahas dalam Sidang Isbat Penentuan Awal Ramadan, Sebenarnya Apa Itu Hilal?
info gambar utama

Ramadan memang sudah di depan mata, tetapi penentuan awalnya akan ditetapkan dalam sidang isbat oleh Kementerian Agama (Kemenag). Diketahui sidang isbat tahun ini dilaksanakan pada 1 April 2022 secara hibrid di Auditorium HM Rasjidi Kemenag, Jalan MH Thamrin, Jakarta, dan ada pula peserta sidang yang berpartisipasi secara virtual.

Selain Kemenag, sidang isbat juga melibatkan beberapa pihak termasuk perwakilan dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memuat pemaparan data hisab serta posisi hilal dari tim Kemenag yang tersebar di 101 titik di seluruh Indonesia. Hasilnya akan jadi penentu masuknya 1 Ramadhan 1443 H dan akan disiarkan oleh TVRI dan media sosial Kemenag.

Sering disebut-sebut setiap menentukan awal Ramadan dan dalam sidang isbat, sebenarnya apa itu hilal dan bagaimana cara melihatnya?

Tradisi Bebantai, Ritual Potong Kerbau untuk Sambut Ramadan di Jambi

Apa itu hilal?

Seperti yang kita ketahui bahwa penentuan awal Ramadan dapat menggunakan dua metode yaitu rukyatul hilal dan hisab. Proses pengamatan ini biasa dilakukan menjelang awal bulan pada kalender Hijriah dan waktunya ketika matahari terbenam.

Rukyatul hilal atau rukyah hilal adalah proses pengamatan visibilitas hilal dengan mata telanjang atau alat bantu optik seperti binokuler atau teleskop. Penggunaan alat bantu seperti perekaman citra (serupa kamera) juga dapat dipakai untuk membantu kejelasan saat pengamatan.

Hilal merupakan fase bulan sabit setelah bulan baru dan memang hanya nampak setelah matahari terbenam atau kira-kira setelah magrib karena intensitas cahaya hilal sangat redup jika dibanding cahaya matahari, pun ukurannya sangatlah tipis.

Sementara itu, hisab merupkan metode perhitungan hilal secara matematis dan astronomis. Menurut penjelasan peneliti Astronomi Senior Planetarium Jakarta, Widya Sawitar, pada dasarnya pengamatan hilal juga berbasis pehitungan atau hisab

Mengutip penjelasan dari laman Nahdlatul Ulama, hilal dalam bahasa Arab artinya bulan sabit yang tampak. Dalam konteks ini, hilal memiliki beberapa arti seperti seorang laki-laki yang melihat bulan sabit, bulan baru dimulai dengan tampaknya bulan sabit. Jadi sederhananya dalam bahasa Arab, hilal adalah bulan sabit yang tampak pada awal bulan.

Sementara menurut sains, hilal atau bulan sabit dalam istilah astronomi disebut crescent, bagian dari bulan yang menampakkan cahaya dan terlihat dari bumi sesaat setelah matahari terbenam pada hari telah terjadinya ijtima’ atau konjungsi.

LAPAN menjelaskan bahwa hilal merupakan salah satu bagian dari lima fase bulan. Pertama dikenal sebagai bulan baru, di mana kondisi bulan tak terlihat sepanjang malam. Kemudian, berganti fase pada bulan sabit setelah bulan baru atau disebut hilal. Selanjutnya memasuki fase bulan separuh kuartil pertama yang menghadap ke barat setelah waktu magrib dan setelahnya berubah ke fase bulan besar. Menjelang akhir bulan akan tampak bulan sabit tipis yang biasa disebut bulan tua.

Abdul Rachman, peneliti sains antariksa LAPAN mengatakan bahwa sains yang dalam hal ini ilmu astronomi dan syariat agama tak dapat dipisahkan dalam menentukan hilal, baik itu untuk awal Ramadan, Idul Fitri, hingga Zulhijah. "Dan intinya tidak cukup dengan sains antariksa saja. Astronomi adalah alat yang butuh bantuan, bantuannya syariat agama. Bagaimana panduan dalam hadits sahih dalam agama," jelasnya.

Munggahan dan Kuramasan, Tradisi Masyarakat Sunda Menyambut Ramadan

Kriteria menentukan awal bulan puasa

Rukyatul hilal | @BanGhoL Shutterstock
info gambar

Menurut Prof Thomas Djamaludin, Peneliti Ahli Utama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kajian astronomi diyakini dapat menjadi jalan tengah dalam menyatukan perbedaan kriteria dalam penentuan awal bulan ramadan. Adapun keterlibatan lembaga riset dalam penentuan awal ramadan sudah dimulai sejak tahun 1996 setelah beberapa kali terjadi perbedaan.

“Astronomi ini dilibatkan untuk melihat sisi lain bahwa perbedaan itu bukan karena perbedaan hisab dan rukyat, bukan karena perbedaan pengamatan dan perhitungan tapi lebih pada perbedaan kriteria. Dan, kriteria ini dapat diperoleh dari kajian-kajian astronomi sehingga astronomi berperan untuk memberikan jalan tengah dalam memberikan solusi untuk penyatuan paham hisab dan paham rukyat termasuk nanti akan menghasilkan satu sistem kalender yang mempersatukan umat,” jelasnya.

Kemudian, dimulai tahun ini, Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) baru saja mengeluarkan mengeluarkan kriteria imkan rukyah hilal Nahdlatul Ulama melalui Surat Keputusan LF PBNU No. 001/SK/LF–PBNU/III/2022 Tentang Kriteria Imkan Rukyah Nahdlatul Ulama.

Dalam surat keputusan tersebut, dinyatakan bahwa ketinggian hilal awal Ramadhan 1443 H minimal 3 (tiga) derajat. Penentuan ini akan menjadi dasar dari penerimaan laporan rukyah hilal dalam penentuan awal bulan hijriah pada kalender NU.

Thomas mengatakan bahwa tahun ini akan ada potensi perbedaan awal ramadan. Muhammadiyah telah mengumumkan awal ramadan dimulai pada Sabtu, (2/4/2022). Sementara itu pemerintah baru melakukan rukyah hilal pada tanggal 1 April di mana posisi bulan di Indonesia secara umum kurang dari 2 derajat.

Ia pun menjelaskan dari sisi astronomi bahwa pada 1 april, elongasi atau jarak bulan dan matahari hanya sekitar 3 derajat dan ketinggiannya juga kurang dari 3 derajat. Sedangkan, berdasarkan kriteria baru yang disepakati Menteri Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) pada 2021, penentuan awal bulan hijriah tinggi minimal 3 derajat dan elongasi jarak bulan matahari 6,4 derajat.

Film ‘Mencari Hilal’ Pikat Ratusan Warga Bulgaria

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini