Menengok Pamor Bahasa Melayu yang Diusulkan Menjadi Bahasa Resmi ASEAN

Menengok Pamor Bahasa Melayu yang Diusulkan Menjadi Bahasa Resmi ASEAN
info gambar utama

Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob berencana untuk mengusulkan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa kedua Asosiasi Negara Asia Tenggara (ASEAN), Rabu (23/5/2022).

Disadur dari CNA, Ismail menyampaikan hal ini untuk menanggapi pertanyaan Majelis Tinggi Malaysia saat sesi tanya jawab mengenai upaya yang dilakukan untuk mengangkat Bahasa Nasional Malaysia di tingkat Internasional.

Selain di Malaysia, Ismail menyebut, bahasa Melayu telah digunakan untuk bahasa pengantar di beberapa negara seperti Indonesia, Brunei, Singapura, Thailand Selatan, Filipina, dan sebagian Kamboja.

“Jadi tidak ada alasan kami tidak bisa menjadikan bahasa Melayu sebagai salah satu bahasa resmi ASEAN,” ujar Ismail yang dikutip dari Malaymail, Jumat (1/4/2022).

Dalam kunjungannya ke beberapa negara ASEAN, ada beberapa penutur bahasa Melayu. Misalnya di Kamboja, dia diberitahu ada 800 ribu Melayu-Cham yang memakai bahasa Melayu.

Sedangkan di Vietnam, ada sekitar 160.000 penutur Melayu yang juga keturunan Melayu-Cham. Serta ada sejumlah populasi kecil penutur Melayu di Laos. Karena itu pihaknya akan berdiskusi dengan negara-negara ASEAN lain.

Bahasa Melayu...Bahasa Internasional

“Saya bakal mendiskusikan dengan pemimpin negara ASEAN lain, khususnya negara-negara yang telah menggunakan bahasa Melayu. Saya bakal mendiskusikan (usulan) ini, terkait menjadikan Melayu sebagai bahasa kedua di ASEAN,” ujarnya lagi.

Ismail lebih lanjut mengatakan saat ini hanya empat dari 10 negara ASEAN yang memakai bahasa Inggris dalam acara resmi di tingkat Internasional. Adapun enam lainnya menggunakan bahasa ibu dalam urusan resmi yang perlu diterjemahkan.

PM Malaysia juga menyatakan pihaknya telah memakai bahasa Melayu selama kunjungan resminya ke Indonesia, Brunei, Kamboja, dan Thailand sebelumnya. Terbaru, dirinya menggunakan untuk kunjungan ke Vietnam dua hari yang lalu.

“Kita tidak perlu malu atau canggung untuk menggunakan bahasa Melayu di tingkat internasional karena upaya penegakan bahasa Melayu ini juga sejalan dengan salah satu bidang prioritas Malaysian Foreign Policy Framework yang dicanangkan pemerintah pada Desember lalu,” ucap pria kelahiran 18 Januari ini.

Upaya penggunaan bahasa Melayu ini, kata Ismail, akan dilanjutkan dalam setiap pertemuan pada konferensi internasional. Selain itu akan ada kelas bahasa Melayu yang disediakan oleh Kementerian Luar Negeri Malaysia.

Bahasa Melayu sebagai lingua franca

Bahasa Melayu dalam sejarah memang telah lama menjadi bahasa lingua franca (bahasa pergaulan). Walau banyak bahasa yang digunakan di masyarakat Melayu namun bahasa pergaulan yang digunakan tetap bahasa Melayu.

Dalam catatan sejarah, bahasa Melayu sebagai lingua franca didasarkan atas penemuan prasasti yang tertua, yaitu Kedukan Bukit di Palembang bertarikh 683 Masehi yang menunjukan kewujudan bahasa Melayu Kuno dalam bentuk penulisan.

Selain daripada prasasti Kedukan Bukit di Palembang, terdapat beberapa lagi prasasti di Talang Tuwo, Palembang (686 Masehi), prasasti di Kota Kapur, Pulau Bangka (686 Masehi) dan prasasti di Karang Brahi, Merangin daerah hulu Jambi (686 Masehi).

Penemuan prasasti-prasasti di daerah Sumatra, bukan saja penting dari segi perkembangan bahasa Melayu yang wujud pada masa itu, tetapi juga dari segi kedudukan dan peranan ketika zaman itu.

Inilah Alasan Mengapa Bahasa Indonesia Bisa menjadi Bahasa ASEAN

“Prasasti yang dijumpai menunjukan bahwa pada zaman kerajaan Sriwijaya, bahasa Melayu mempunyai kedudukan istimewa sebagai bahasa pernyataan sastra yang indah dan menjadi bahasa pemerintah, bahasa perdagangan, dan bahasa pernyataan ilmu pengetahuan dan kebudayaan,” tulis Hanis Izrin Mohd Hassan dan kawan-kawan dalam artikel berjudul Kegemilangan Bahasa Melayu Sebagai Lingua Franca.

Noriah Mohamed dalam Sejarah Sosiolinguistik Bahasa Melayu Lama juga mengatakan bahasa Melayu kuno telah digunakan secara meluas dalam kehidupan masyarakat Melayu kuno.

Menurut Noriah, catatan pada empat prasasti Kerajaan Sriwijaya membuktikan bahwa bahasa Melayu kuno telah berfungsi sebagai bahasa undang-undang, bahasa pemerintah dan bahasa kebangsaan, selain itu telah disebarkan ke negara jajahan.

Bahasa Melayu dalam sejarahnya telah menjadi bahasa antarbangsa yang luas digunakan di rantau Asia Tenggara, yaitu sejak zaman Sriwijaya abad ke 7 Masehi, Bahasa ini juga digunakan sebagai bahasa persuratan bagi pusat-pusat pemerintahan.

Dengan posisinya yang strategis dan perluasan tempat jajahan hingga ke Selat Malaka dan Selat Sunda, Kerajaan Sriwijaya diakui sebagai jalur perdagangan yang paling berpengaruh ketika itu. Hal demikian karena kekuatan perdagangan, Sriwijaya menjadi mudah meluaskan daerah taklukannya.

Sriwijaya kemudian berjaya di laut, yaitu melalui perdagangan rempah dan juga menerapkan pajak untuk kapal dagang yang melewati perairan mereka. Kekayaan negara bisa dilihat melalui komoditi, seperti kayu gaharu, cengkih, dan emas.

Sehubungan dengan kekayaan hasil perdagangan dan lokasi strategis, penggunaan bahasa sangat mempengaruhi urusan perdagangan. Bahasa Melayu yang digunakan ketika itu sangat penting bagi alat mempermudah proses komunikasi untuk berdagang.

Melalui aktivitas perdagangan yang dijalankan oleh kerajaan Sriwijaya ini juga mempengaruhi perkembangan bahasa Melayu. Apalagi membayangkan luasnya jajahan, dapat dibayangkan betapa luasnya bahasa Melayu di seluruh negeri.

Kejayaan bahasa Melayu

Zaman bahasa Melayu klasik bermula dari awal abad ke 14 hingga ke akhir abad ke 18 Masehi. Bahasa Melayu masih berperan sebagai lingua franca. Misalnya saja bisa dijumpai dalam berbagai prasasti.

Jejak bahasa Melayu klasik bisa dijumpai di Tanah Semenanjung seperti di Pengkalan Kempas, Negeri Sembilan, Pahang, Perak, Kelantan, Kedah, Terengganu dan di beberapa tempat seperti di Sumatra.

Selain itu, tulisan berbahasa Melayu klasik juga banyak terdapat dalam bentuk manuskrip Melayu lama yang ditulis pada kulit kambing, kertas, kain, ukiran pada kayu, gading, batang buluh, dan daun lontar.

Manuskrip Melayu tertua berbentuk surat-surat kiriman yang dikirim oleh Sultan Ternate, Maluku kepada Raja Portugis bertarikh 1521 dan 1552 Masehi. Manuskrip dalam bentuk buku yang paling tua ditemui ialah kitab Aqa’id Al Nasafi yang bertarikh 1590 Masehi.

Surat-surat terawal berbahasa Melayu menggunakan tulisan Jawi (Arab) dari Aceh bertarikh pada abad 17 Masehi. Surat-surat tersebut ditulis dalam hubungan resmi Syarikat Hindia Timur Inggris dengan kerajaan Aceh yang resmi terjalin.

Selanjutnya, sebagian besar koleksi surat berbahasa Melayu klasik yang lain merupakan surat-surat yang dihantar oleh raja-raja Melayu kepada Sir Thomas Stamford Raffles yang menjadi Letnan Gubernur Hindia Belanda di Jawa (1811-1816) dan di Bengkulu (1818-1824).

Surat-surat itu disebut sebagai surat emas karena selain bahasa yang beradab dan bersopan santun. Surat-surat tersebut ditulis dan dihiasi dengan halus dan teliti dari semua segi, antara lain aturan kata, pemilihan kata, kepala surat, dan puji-pujian pembuka surat sangat indah dan beradab.

Hal ini memang menunjukkan bahasa Melayu klasik telah menjadi bahasa lingua franca di Asia Tenggara pada masa itu. Bahasa Melayu pada zaman itu juga dijadikan bahasa yang penting untuk menyebarkan agama Islam di Asia Tenggara.

Bahasa Melayu banyak dipelajari oleh orang bukan Melayu, seperti orang China, India, Arab, Parsi, dan juga orang dari barat seperti Portugis, Italia, Belanda, Inggris, Prancis, dan Spanyol. Mereka mempelajari bahasa Melayu untuk berbagai kepentingan.

Indonesia Miliki 750 Bahasa Daerah yang Terverifikasi Kemendikbud

Selanjutnya pada zaman kerajaan Malaka, bahasa Melayu bukan saja menjadi bahasa pemerintah, namun menjadi bahasa perdagangan di pelabuhan-pelabuhan lain dalam jalur perdagangan rempah dari Aceh hingga kepulauan Maluku.

Bahasa Melayu juga digunakan untuk transaksi perdagangan di pantai utara Australia dan ke barat hingga ke Gujarat, India. Di samping itu, bahasa Melayu digunakan dalam misi dakwah Islam di pelabuhan Jawa Timur, Jawa Tengah, Makassar, hingga Maluku.

Namun begitu, penggunaan bahasa Melayu sebagai lingua franca hanya mampu bertahan hingga awal abad ke 20 Masehi dan terus mengalami kemerosotan. Salah satunya karena dominasi bahasa penjajah yang digunakan sebagai bahasa pengantar.

Walau begitu, bahasa Melayu yang sudah tidak lagi digunakan sebagai lingua franca seperti zaman dahulu, namun masih tetap digunakan oleh beberapa negara, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, hingga Singapura.

Melayu juga menjadi cikal bakal dari bahasa Indonesia yang ditetapkan pada kongres Sumpah Pemuda. Bahasa ini juga masih digunakan di Thailand selatan, seperti masyarakat Melayu Patani.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini