Menyorot Perfilman Indonesia, Salman Aristo: Ini Saatnya Kita Meningkatkan Keberdayaan

Menyorot Perfilman Indonesia, Salman Aristo: Ini Saatnya Kita Meningkatkan Keberdayaan
info gambar utama

"Kemajuan teknologi yang sekarang terjadi membuka kemungkinan industri di Indonesia untuk menjadi lebih matang, karena memang standar yang datang adalah berasal dari industri yang lebih matang."

---

Pekan ini Indonesia memeringati salah satu momen penting di bidang ekonomi kreatif yang belakangan menunjukkan banyak geliat positif, yakni perfilman lewat peringatan Hari Film Nasional.

Bicara mengenai industri perfilman Indonesia, tidak selalu di depan layar sejatinya ada berbagai hal yang perlu terungkap dan harus diketahui khalayak ramai dengan lebih luas dari segi di balik layar.

Mulai dari kesejahteraan pekerja, bagaimana proses produksi film berjalan dari tahun ke tahun, hingga situasi yang sebenernya terjadi di masa kini.

Untuk mengulik hal tersebut, GNFI pada hari Kamis (31/4/2021), berkesempatan untuk berbincang langsung dengan Salman Aristo, sosok filmmaker yang berperan di bidang kepenulisan naskah dan skenario sekaligus produser, yang telah menghasilkan sejumlah karya besar seperti Catatan Akhir Sekolah, Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, dan Ayat-Ayat Cinta.

Seperti apa gambaran perfilman Indonesia saat ini dari kacamata Salman Aristo? Berikut percakapannya.

Darah dan Doa, Ketika Gagasan Kebangsaan Pertama Kali Terputar dalam Sinema

Kesibukan apa yang sedang dijalani saat ini, project apa yang kira-kira bakal hadir di waktu mendatang?

Sekarang jalan syuting hari ke-11 lagi ngerjain serial. Sedangkan kalau di Wahana (Wahana Kreator) memang ada lagi beberapa project. Kita lagi menghadapi dua persiapan, film ketiganya Gina (Gina. S Noer) dan 16 April kita Insya Allah mulai syuting.

Kita juga ada development lagi serial untuk Vidio.com, sementara ini target syuting bulan Agustus kalau gak salah. Ada juga serial buat Netflix, tapi gue belum bisa bilang judulnya apa.

Jadi tahun ini memang lumayan padat sih, biasa-lah lemparan dari penundaan-penundaan dari dua tahun sebelumnya karena pandemi.

Dengan latar belakang jurnalis, apa yang membuat menjadi penulis skenario?

Gue dari kecil udah suka film, dari umur lima tahun memang udah jatuh cinta sama film, tapi gak tahu kalau ternyata bisa jadi filmmaker. Apalagi waktu umur sekitar 11-13 tahun film Indonesia itu lagi kolaps kan. Tahun-tahun 1980-an pertengahan itu hilang, yang ada adalah film Hollywood justru.

Jadi Bapak gue dulu termasuk yang punya kebiasaan menjadikan nonton bioskop adalah rekreasi. Dan beruntungnya saat kecil itu masih sempat mengalami nafas-nafas terakhir sebelum film Indonesia kolaps.

Jadi gue masih nonton Ibunda (1986) dan Serangan Fajar (1982), yang mana itu luar biasa sekali, hitungannya masterpiece semua dan benar-benar berdampak.

Dan akhirnya ketika gue beranjak remaja dan mencari film itu di bioskop, udah gak ada. Padahal Arifin C. Noer (sutradara Serangan Fajar) ini pengaruhnya besar sekali di hidup gue, ada lagi Naga Bonar (1987) itu Asrul Sani (penulis naskah), bagi gue sampai hari ini adalah salah satu penulis skenario terbaik di Indonesia, belum ada lawan.

Akhirnya pada saat itu gue hanya bisa menonton film-film Hollywood, dan saat itu menjadi seorang filmmaker adalah sesuatu yang tidak bisa dicita-citakan, karena jauh dan waktu itu gak ada istilahnya yang ngajak “bikin film yuk”, yang ada paling nge-band.

Akhirnya karena film jauh, gue mendekat ke buku dan musik. Apalagi kebetulan waktu itu keluarga bapak semua latar belakangnya gak jauh-jauh dari guru dan kepala sekolah.

Bapak, di samping jadi guru itu juga jadi agen majalah dan koran, jadi sederhananya gue bener-bener dekat dengan bacaan udah jadi second nature, atau istilahnya kebiasaan yang udah gak perlu dipertanyakan lagi.

Sampai penuh kepala nih udah nonton, baca, segala macam, akhirnya pengen nulis. Nyobalah cerpen, puisi, dan segala macam, sampai akhirnya begitu kuliah di Bandung, sampailah pada momen di mana gue baru tahu kalau ternyata gue bisa bikin film.

Jadi, dulu di UNPAD itu ada yang namanya Gelanggang Seni, Teater, Sastra, dan Film (GSSTF). Itu tempat nongkrong yang sangat luar biasa, klop lah bagi gue sebagai anak yang besar dengan buku, musik, dan film, dan selesai urusan perjalanan.

Untuk ukuran anak yang senang membaca, nulis, dan nonton film, sejak saat itu sesederhana setiap ada dorongan untuk bikin film, akhirnya kalimat yang pertama keluar dari mulut gue secara organik adalah “sini gue yang nulis”, gitu jatuhnya. Jadi bener-bener semuanya itu natural aja seperti gak dipikirin.

Baru dari situ secara otodidak mulai banyak belajar sendiri dari internet, sampai pernah tiga hari gak pulang cuma untuk belajar tentang nulis film dengan nongkrong di warnet. Jadi kalau ditanya awalnya kaya gimana ya gue memang harus menceritakan sepanjang ini, karena memang jalannya natural.

Sebenarnya kalau boleh jujur karier yang gue kejar dari awal adalah pekerja band, tapi ternyata rezekinya dapet di bidang filmmaker, sesuatu yang awalnya gak terpikirkan ya karena itu tadi awalnya dianggap sebagai sesuatu yang gak bisa dicita-citakan.

Deretan Bioskop Pertama di Indonesia, Cikal Bakalnya Sejak Tahun 1900

Apa karya yang paling berkesan sampai saat ini?

Adegan laskar pelangi
info gambar

Gue mungkin bakal terdengar seperti diplomatis kacangan kalau jawab pertanyaan ini, tapi sebenarnya ini berangkat dari kejadian yang dulu pernah dilalui. Dulu ketika masih jadi wartawan, gue wawancara Riri Riza yang ujungnya malah berakhir dengan sesi curhat.

Karena saat itu kebetulan lagi tergila-gila kembali sama film, gue bilang kalau punya ide segala macam. Dan di situ Mas Riri bilang sesuatu yang sampai saat ini masih gue pegang, yaitu “ya udah lu kerjain aja apa yang lu suka, kalau lu gak suka gimana orang lain mau suka”.

Dari situ sampai hari ini akhirnya gue selalu mengambil dan mengerjakan project yang memang gue suka. Jadi kalau ada project mau siapapun yang nawarin kalau memang kira-kira gue gak suka ya ditolak.

Jadi kalau ditanya yang paling berkesan atau yang paling disuka yang mana, akan susah karena gue selalu tahu mau ngapain. Jadi memang se-idealis itu, karena gue hanya mengerjakan yang memang disuka dan tau mau gue bawa ke mana arahnya.

Tapi beda cerita kalau kita ngomongin soal impact, itu jelas lain lagi ya. Karena kadang ada yang sampai bikin gue geleng-geleng kepala itu adalah project yang misal membekas bagi mereka yang menikmati atau memang kasih dampak perubahan yang besar dan berarti.

Karena hal itu membuat gue semakin yakin bahwa film memang bisa memberi dampak yang sangat kuat sekali.

Misal, Laskar Pelangi, gimana film itu ternyata bisa ngasih dampak yang besar bagi sebuah pulau, Garuda di Dadaku juga itu project-project yang dampaknya gue gak sangka sampai sebegitunya.

Apa yang membedakan dari menggarap naskah yang dirancang dari nol, dengan naskah film adaptasi novel?

Perbedaan sebenarnya cuma dari proses, kalau tingkat kesulitan itu sama. Karena teknik dan feel menulisnya itu sama semua.

Cuma, kalau kita pakai analogi misal seni pahat, yang satu mahat kayu yang satu mahat batu itu aja sederhananya.

Atau bedanya antara bikin cerita dari nol dengan adaptasi novel itu, kalau yang satu bikin sendiri premisnya dan satunya lagi nyari premisnya dari cerita yang sudah ada.

Kiprah Ali Sadikin Jadikan Film Nasional Tuan Rumah di Jakarta

Bicara soal kesejahteraan orang-orang di balik industri perfilman, saat ini kondisi sebenarnya seperti apa?

Jadi awalnya gini, industri perfilman Indonesia itu problemnya berlapis-lapis, di SDM, infrastruktur, kebijakan, di semuanya. Dan sebenarnya gue lebih seneng menyebutnya ekosistem bukan industri, karena industri adalah bagian dari ekosistem.

Dari masalah yang berlapis itu, salah satu penentunya adalah masalah standar, jenisnya itu ada banyak lagi, standar kerja, standar kualitas, dan lain-lain, dan untuk itu sebenarnya kita masih merangkak. Salah satu syarat untuk bisa punya standar adalah adanya asosiasi, itu dulu yang penting.

Begitu pekerjanya sudah diasosiasi, itu kan sudah keputusan politis kita punya standar. Dan lagi, asosiasi adalah salah satu tulang utama untuk industrinya bisa memberikan guna yang maksimal kepada orang-orang yang bekerja di situ, termasuk salah satunya dalam kesejahteraan.

Kenapa gue bilang guna yang maksimal? Karena sistem ini bisa bikin orang-orang yang ada di dalamnya jadi pekerja yang sehat, sehat dalam artian macam-macam aspeknya, mulai dari keilmuwan, pendapatan, dan lain-lain.

Jadi, soal kesejahteraan pekerja film ini juga jadi elemen yang sebenarnya kecil, tapi penting dan kita sedang menata ini.

Bagaimana soal isu serikat pekerja perfilman yang sedang ramai meminta waktu efektif dibatasi menjadi 14 jam per hari?

Dok. pribadi tim Salman Aristo
info gambar

Gue sebenarnya senang sekaligus gimana ya, kalau orang jawa bilang ‘getun’ gitu. Ibaratnya “kenapa baru sekarang sih?” karena ini kan harusnya udah diupayakan dari sepuluh atau beberapa tahun yang lalu, teriak-teriaknya dari mereka yang bicara soal ini sebenarnya udah dari kapan tau.

Tapi, ayolah sekarang kita bersyukur saja. Karena asosiasi yang spesifik profesi, misal seperti kepenulisan PILAR (Asosiasi Penulis skenario Layar Lebar Indonesia) ini baru ada di tahun 2009. Tapi itu memang harus kita terus upayakan, karena bukan hanya masalah kesejahteraan tapi juga menunjukkan kualitas.

Sekarang kalau ditanya, sebenarnya apa sih yang dicari dari tuntutan jam kerja yang sehat? Kan hasil yang maksimal. Ada istilah yang gue dapet dari mas Garin Nugroho dan sampai saat ini gue sadari. Jadi yang terjadi selama ini di ekosistem perfilman Indonesia adalah penggampangan, semua digampangin.

Mudah dan gampang, dengan digampangin, itu beda loh. Sesuatu yang mudah ya mudah, sesuatu yang gampang ya gampang. Tapi kalau digampangin ya beda urusan. Nah, jam kerja di ekosistem film Indonesia adalah penggampangan, itu yang terjadi.

Jadi karena semua digampangin, gak mau berpikir keras meskipun berbagai hal harus ada standarnya, ketakutan soal dana yang misal dikhawatirkan kaya “waduh kalau perlu kaya gitu berarti anggaran bengkak dong”.

Jadi ya itu tadi, masalahnya berlapis.

Gak usah jauh-jauh, baru beberapa waktu lalu gue ketemu sama tim yang jam produksi kerjanya ada yang sampai 24 jam sehari.

Bayangin, ketika ditanya ya memang karena mereka di awal gak ada macam rate card atau ketentuan segala macam, jadi ya sudah digampangin. Seperti itu yang terjadi di lapangan.

Rilis Teaser Ciamik, Ini Deretan Fakta Menarik dari Produksi Film Gatotkaca

Lalu dengan project produksi yang sejauh ini Mas Aris pegang, apa sudah mulai terkontrol?

Saat ini gue sudah punya metode yang sedang coba dijalani, gimana caranya supaya tim yang terlibat dari produksi project gue bisa jalan selama 12 jam sehari. Saat ini contohnya untuk project yang berjalan kita udah konsisten 10 hari jalan 12 jam.

Tapi 12 jam kita ini bukan 12 jam versi Hollywood ya. Jadi 12 jam Hollywood itu dari pintu ke pintu, itu yang gue tau. Maksudnya, dari dia keluar pintu rumahnya sampai pulang ke pintu rumahnya lagi itu 12 jam, jadi kerjanya mungkin sekitar 8 jam.

Kalau sekarang gue 12 jam itu dari kamera roll sampai kamera off, jadi jatohnya masih kerja 14 jam. Misal kita mulai kamera roll jam 1 siang, kru semua sudah ada di sini dari jam 11. Dan itu jadi kesepakatan ekosistem film di Indonesia, jam kerja dari kamera nyala sampai kamera mati adalah 12 jam.

Seperti apa pengaruh dengan kemajuan teknologi dan pengaruh bagi ekosistem perfilman saat ini apa?

Jelas sekarang sangat berpengaruh sekali. Misal salah satunya kita kan dulu bisa dibilang gak punya tradisi serial yang sehat ya, Karena sekali lagi yang terjadi dengan sinetron itu adalah industri penggampangan, makanya gak pernah jadi apa-apa.

Bayangin, udah lebih dari 40 tahun sinteron ada tapi gak jadi apa-apa, yang ada malah dihina-hina sama penonton kita sendiri. Jadi kalau kata Mas Garin, kita gak bangga sama apa yang kita buat karena kerjanya digampangin.

Tapi sekarang udah gak bisa gitu lagi, begitu OTT datang dengan standar industri yang sudah jauh lebih maju. Gue gak mau pakai standar internasional apa segala macam, enggak.

Kita pakai standar industri yang sudah lebih maju saja biar gak ngegampangin, jauh lebih tinggi, jauh lebih profesional dan kompleks, baru semuanya mulai berkembang.

Akhirnya semua orang yang dulunya ngegampangin ini udah mulai paham dan kenal yang namanya development, skenario itu tidak bisa dikerjakan secara cepat tapi harus dengan tepat, tahu ukuran, dan segala macam.

Jadi situasi dari adanya kemajuan teknologi yang sekarang terjadi adalah membuka kemungkinan industri di Indonesia untuk menjadi lebih matang, karena memang standar yang datang adalah standar dari industri yang lebih matang.

Apa harapan Mas Aris untuk perfilman Indonesia?

Ini saatnya kita untuk meningkatkan daya, bukan lagi cuma sekadar kerja. Sudah saatnya ekosistem perfilman Indonesia punya industri yang berdaya.

Dalam artian semuanya ya, mulai dari industri, pendidikan, apresiasi. Sekarang ini saatnya supaya itu semua mulai jadi berdaya.

Gunawan Maryanto dan Keberhasilan Raih Piala Citra Lewat Film Tanpa Dialog

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini