Ritual Puasa dalam Masyarakat Jawa Kuno Sebelum Hadirnya Islam

Ritual Puasa dalam Masyarakat Jawa Kuno Sebelum Hadirnya Islam
info gambar utama

Puasa sejak masa Jawa Kuno termasuk bagian dari ajaran hidup. Praktiknya tumbuh subur setidaknya sejak masa Raja Airlangga. Bentuk lakunya beragam, misalnya ada yang dikenal dengan taparacut dan ugra tapa sebagai upaya untuk melepaskan diri dari dosa di dunia.

Mahapatih Gajah Mada pernah secara lantang menyerukan sumpahnya pada sebuah pertemuan yang dihadiri pada pejabat tinggi Majapahit. Dirinya berkata akan melakukan amukti palapa sampai Majapahit bisa menaklukkan Nusantara.

Tidak ada yang bisa memastikan apa maksud dari amukti palapa. Namun ada yang menafsirkan, Gajah Mada ketika itu sedang bernazar. Dirinya akan melakukan puasa mutih demi tercapai angan-angannya.

“Ada yang menafsirkan amukti palapa sebagai tindakan makan nasi saja, tanpa lauk, tanpa perasa, santan. Ada yang menafsirkan begitu,” ujar Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang yang disadur dari Historia, Minggu (3/4/2022).

Filolog dan sejarawan Slamet Muljana dalam Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit menyebut amukti palapa sama halnya dengan bertapa. Orang yang sedang ngalapa, katanya, bisa dikatakan sedang mutih karena makan nasi tanpa perasa apapun.

Menilik Asal-Usul Tradisi Suro’ Baca yang Hidup di Tengah Masyarakat Makassar

Hal yang dilakukan oleh Gajah Mada ini masih bisa ditemui oleh masyarakat Jawa khususnya penghayat Kejawen. Puasa mutih, biasanya dilakukan ketika ingin menggapai keinginannya, saat itu pantang mengkonsumsi apapun selain nasi putih dan air putih.

Puasa mutih juga hanya salah satu di antara banyak jenis puasa yang dikenal orang Jawa. Ada puasa ngebleng, tidak makan-minum selama 24 jam penuh selama tiga hari dengan harapan bisa menguatkan sukma para pelakunya.

Juga ada puasa pati geni yang mirip dengan ngebleng, bedanya, orang yang melakukan tidak boleh keluar dari kamar yang tertutup dari cahaya, bahkan sekadar untuk buang air kecil selama waktu tertentu.

Memang belum bisa dipastikan sejak kapan persisnya praktik yang kemudian dikenal di Nusantara, khususnya pada masyarakat Jawa. Tetapi sebagai sebuah tindakan, konsep puasa bukan baru dikenal saat ajaran Nabi Muhammad S.A.W masuk.

Bahkan dari bahasa, jelas Dwi, kata puasa berasal dari bahasa Jawa, yakni poso. Sementara poso berasal dari pasa dan upawasa yang ditemukan dalam bahasa Jawa Tengahan dan Jawa Kuno.

“Ini pun serapan dari bahasa Sanskerta yang secara harfiah berarti jerat, ikatan, dan kekangan. Bisa untuk fisik maupun nonfisik, seperti pengekangan nafsu, hasrat, dan keinginannya,” kata Dwi.

Tradisi puasa dalam serat

Puasa atau pasa dalam bentuknya ketika itu bisa dilakukan dalam bentuk tapa. Ini digambarkan dalam sumber tekstual dan relief sebagai jejak awal konsep pengendalian atau pengekangan diri.

Pada Kakawin Ramayana, kisah Ramayana versi Jawa kuno yang berasal dari masa sebelum pemerintahan Mpu Sindok di Medang abad 10. Ditemukan istilah pasa-brata yang berarti aktivitas pasa.

Menurut Dwi, pasa-brata ini diarahkan pada penyikapan atas kedurjanaan. Agar bisa menghadapi kedurjanaan dilakukan upaya pengekangan diri. Dalam konsep Ramayana, katanya, usaha ini butuh kekuatan diri yang sangat besar.

Kakawin Arjunawiwaha juga mengenalkan konsep pengendalian hawa nafsu. Karya gubahan Mpu Kanwa ini ditulis pada era Airlangga, penguasa Kahuripan pada awal abad ke 11.

Dikisahkan Arjuna melakukan tapa di Gunung Indrakila demi bisa membantu saudaranya Yudhistira merebut kerajaannya kembali. Dalam tapanya Arjuna harus melawan segala macam godaan, hal ini diabadikan dalam relief Candi Surawana, dari abad 14 di Pare, Kediri.

“Puasa, pasa itu kan bagaimana menghadapi segala godaan, bukan cuma makan dan minum, tetapi nafsu seks, nafsu marah, serakah, dan lainnya,” jelas Dwi.

Perlon Unggahan, Tradisi Menyambut Ramadan Ala Masyarakat Adat Bonokeling

Kakawin lain yang menggambarkan laku puasa adalah Siwaratrikalpa yang juga dikenal dengan Lubdaka. Karya ini dikarang oleh Mpu Tanakung yang dibuat pada masa Majapahit akhir abad 15.

Teks ini mengisahkan seorang pemburu bernama Lubdaka yang biasa memburu hewan-hewan. Pernah suatu hari dirinya tidak mendapatkan hasil buruan seekor pun. Karena malam sudah larut, dia pun selama sehari penuh berpuasa tidak makan dan minum.

Dia kemudian terpaksa berjaga di atas pohon wilwa di tengah hutan agar terhindar dari terkaman binatang buas. Sambil berjaga dia memetik dedaunan pohon itu lalu menjatuhkannya ke air danau.

Daun yang dijatuhkan Lubdaka tak sengaja menyentuh lingga siwa di danau. Kebetulan, malam itu bertepatan dengan Siwaratri, upacara pemujaan bagi Dewa Siwa yang jatuh pada malam ke 14 bulan ketujuh dalam penanggalan Hindu.

“Puasa serta puja yang tidak disadarinya itu membebaskan Lubdaka dari siksa neraka dan membawanya ke surga,” jelas Amri Mahbub Alfathon dalam artikel berjudul Puasa dalam Kakawin Jawa Kuno: Laku Hidup yang Membuat Islam Mudah Diterima Orang Jawa.

Puasa sebagai hal yang dilestarikan

Dwi menyebut puasa atau tirakat merupakan bagian kehidupan masyarakat Jawa kuno. Dalam karesian dan kadewaguruan, tapa menjadi salah satu materi pelajaran. Kemampuan ini, jelas Dwi, sangat penting terutama bagi seorang yang akan terjun ke dunia nyata.

Pada Prasasti Pucangan (1042 Masehi), menggambarkan kisah Airlangga yang memulai karir politiknya setelah lebih dahulu hidup di kalangan pertapa. Sebelum dinobatkan sebagai raja pada 1009, dirinya melakukan latihan rohani dua tahun di Gunung Pucangan.

Ketika masa akhir pemerintahannya, Airlangga juga kembali menjalani pertapaan. Setelah itu dirinya membagi kerajaannya menjadi dua, Jenggala dan Panjalu. Airlangga, kata Dwi, menjadikan Arjuna sebagai model kehidupan.

Aktivitas semacam ini kemudian makin subur mendekati pada era akhir Majapahit. Pusat-pusat keagamaan banyak bermunculan di lereng gunung yang terpencil. Misalnya dalam sebuah prasasti pendek dari Gunung Nyamil yang berasal dari masa Majapahit akhir.

Di dalamnya disebutkan berbagai jenis bentuk tapa. Salah satunya disebutkan kata-kata hatapa racut. yang berkaitan dengan usaha pelepasan diri dari segala dosa. Perilaku ini juga ada dalam relief di Candi Gambar Wetan, Blitar.

Kiat Memasak Ketupat Mudah, Lembut, dan Tak Cepat Basi untuk Pemula

Di sana digambarkan seorang perempuan yang sedang bersemadi sambil duduk telanjang. Perilaku yang sama diwujudkan oleh seorang pertapa laki-laki dalam relief di Candi Kedaton, Probolinggo.

“Artinya kegiatan ini dahulu sangat beragam. Walaupun sekarang adanya poso pati geni, mutih, kungkum, itu hanya sisa dahulu yang beragam, dulu subur dilakukan,” ujar Dwi.

Mengakarnya konsep ini di tengah masyarakat Nusantara, jelas Dwi, membuat konsep puasa yang dibawa oleh penyebar agama Islam tak sulit diterima. Masyarakat Nusantara sudah tidak kaget lagi ketika mendapat perintah Rukun Islam untuk menahan hawa nafsu.

Orang Jawa sudah mengerti betul hakikat puasa. Apalagi Wali Songo juga tidak memberangus tradisi lama, melainkan mengembangkan Islam sebagai agama yang rahmatan untuk alam semesta.

“Akhirnya dengan puasa Ramadan ini, orang Jawa tidak hanya memperoleh kedamaian hati, rasa ikhlas menerima kenyataan hidupnya, tetapi juga kedalaman fitrahnya sebagai makhluk sosial (homo socius). Kelengkapan diri seperti ini yang diharapkan orang Jawa dapat mendatangkan kebahagian,” ucap Agus Wibowo, Pegiat Komunitas Aksara Yogyakarta dalam artikel berjudul Puasa bagi Orang Jawa yang dimuat di Kompas.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini