Perubahan Iklim di Depan Mata, Kita Bisa Apa?

Perubahan Iklim di Depan Mata, Kita Bisa Apa?
info gambar utama

Perubahan iklim merupakan isu besar yang menjadi kekhawatiran seluruh dunia. Kondisi tersebut dapat terjadi akibat meningkatnya jumlah emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer. Sementara itu, GRK dihasilkan dari kegiatan manusia, baik itu perindustrian, kendaraan bermotor, pembakaran, sampah, penebangan hutan, dan masih banyak lagi yang memberi dampak pada penambahan konsentrasi GRK yaitu karbon dioksida, metana nitrogen, dan sebagainya.

Fenomena seperti melelehnya es di kutub hingga meningkatkan volume air, curah hujan tinggi sampai menyebabkan banjir, musim kemarau berkepanjangan, sumber air berkurang, terjadi angin puting beliung, dan gelombang panas yang meningkatkan suhu udara secara ekstrim adalah sebagian tanda-tanda dari perubahan iklim.

Perubahan iklim memang menyebabkan masalah bagi lingkungan. Namun, lebih dari itu, peristiwa cuaca ekstrem juga berdampak pada kesehatan termasuk ketersediaan makanan yang cukup dan bergizi, tempat tinggal yang aman, dan air minum bersih. Orang-orang dari kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, penyandang disablitias, rumah tangga miskin, dan mereka yang tinggal di daerah rawan bencana sangat berisiko mengalami masalah kesehatan akibat perubahan iklim.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang terletak di antara Asia dan Australia serta Samudra Pasifik dan Atlantik memiliki wilayah dengan karakter tersendiri. Tak semua wilayah memiliki pola hujan, temperatur, juga kelembapan yang sama. Adanya perubahan iklim kemudian akan menimbulkan bencana dan penyakit khas daerah tropis.

Bukan Hanya 3R, Pengelolaan Sampah di Indonesia Harus Bisa Atasi Masalah Iklim

Memahami dampak perubahan iklim pada kesehatan

Ilustrasi | @ELG21 Pixabay
info gambar

Dampak dari perubahan iklim bisa terjadi secara langsung dan memengaruhi kesehatan manusia, misalnya paparan terhadap perubahan pola cuaca, ini termasuk temperatur, curah hujan, kenaikan muka air laut, dan peningkatan frekuensi cuaca ekstrem yang bisa menimbulkan risiko kanker, strok, bahkan kematian karena heat stress.

Namun, dampaknya juga bisa terjadi secara tidak langsung karena perubahan iklim menyebabkan perubahan pada kualitas lingkungan, termasuk kualitas air, udara, dan makanan, kemudian ditambah dengan penipisan lapisan ozon, penurunan sumber air, kehilangan fungsi eksosistem dan degradasi lahan. Pada akhirnya kondisi tersebut menyebabkan penurunan ketersediaan air, gagal panen, masyarakat kekurangan gizi, dan meningkatnya penyakit ISPA (infeksi saluran pernapasan atas) karena pencemaran udara.

Dengan iklim tropis di Indonesia, musim kemarau berkepanjangan dapat menyebabkan perkembangan bakteri, virus, jamur, dan parasit karena kelembapan yang lebih tinggi. Dampaknya adalah penyakit yang berhubungan dengan bakteri dan udara akan semakin banyak.

Perubahan iklim juga membuat cuaca ekstrem dan sulit ditebak. Bisa saja di satu wilayah terus-menerus hujan dengan angin kencang hingga banjir. Sementara itu di wilayah lain mengalami musim kemarau panjang hingga sawah, ladang, dan sumber air mengering.

Seperti yang kita ketahui bahwa hujan lebat terus-menerus dapat menyebabkan banjir. Dari kondisi dapat menyebabkan lingkungan kotor serta menjadi tempat yang nyaman bagi serangga dan nyamuk untuk bereproduksi, untuk kemudian menyebarkan penyakit seperti demam berdarah dengue dan malaria. Cuaca ekstrem juga dapat melemahkan daya tahan tubuh sehingga manusia lebih rentan terhadap penyakit.

Sementara itu dalam kondisi kemarau berkepanjangan akibat peningkatan suhu bumi dapat menimbulkan kebakaran hutan. Asap dari kebakaran dapat mencemari udara dan berpengaruh pada kesehatan pernapasan.

Perubahan iklim juga berdampak pada keselamatan dan kesehatan para pekerja di bidang pertanian, pekerja bangunan, petugas pemadam kebakaran, petugas medis, petugas penaggulangan bencana, pekerja transportasi, dan para pekerja lain yang terpapar kondisi cuaca di luar rumah, terutama untuk pekerjaan fisik dengan jangka waktu lama.

Tak hanya kesehatan fisik, dampak dari perubahan iklim juga bisa memengaruhi kondisi mental seseorang. Cuaca ekstrem, bencana, dan berbagai masalah kesehatan dapat menimbulkan fenomena “reaksi umum terhadap peristiwa abnormal" seperti stres, kecemasan, gangguan stres pascatrauma pada orang-orang yang terdampak. Ibu hamil juga rentan melahirkan bayi prematur, berat badan bayi rendah, dan mengalami komplikasi.

Mengutip penjelasan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, beberapa pasien dengan penyakit mental sangat rentan terhadap panas bahkan ada risiko depresi hingga kasus bunuh diri.

Benarkah Berang-Berang Jadi Salah Satu Hewan yang Berperan Menekan Perubahan Iklim?

Upaya mencegah penyakit karena perubahan iklim

Ilustrasi | @Hermann Pixabay
info gambar

Pada tahun 2016 Indonesia telah menandatangani Perjanjian Paris dan berbagai inisiatif adaptasi perubahan iklim telah dikembangan. Fokusnya untuk memastikan perlindungan serta pemberdayaan kelompok rentan yang kerap terdampak secara tidak proporsional.

Dari perjanjian tersebut, Kementerian Kesehatan dan WHO mengembangkan Rencana Aksi Nasional - Adaptasi Perubahan Iklim Bidang Kesehatan (RAN – APIK) pada tahun 2019. Tujuan dari RAN - APIK adalah meningkatkan kapasitas nasional dalam membangun sistem kesehatan dan sektor kesehatan yang siap terhadap perubahan iklim. Adapun kesiapan tersebut termasuk soal air, sanitasi, kebersihan, pengelolaan sampah, hingga kelistrikan di fasilitas layanan kesehatan dalam menghadapi perubahan iklim dan peristiwa cuaca ekstrem.

Selain program tersebut, Kemenkes dan WHO juga menyusun pedoman Desa Desi atau Desa Sehat Iklim sebagai inisiatif mitigasi dan adaptasi perubahan iklim di bidang kesehatan. Pedoman ini juga sekaligus untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kerentanan, proyeksi iklim, dan potensi dampak agar masyarakat dapat memilih aksi mitigasi dan adaptasi yang sesuai.

Inisiatif Desa Desi juga menggunakan pendekatan partisipatif yang mendorong masyarakat untuk mengajukan solusi yang relevan. Sebagai contoh, desa yang cenderung mengalami masa kekeringan dapat mempertimbangkan untuk memasang teknologi hemat air seperti pemanenan air hujan atau menanam tanaman yang tidak butuh terlalu banyak air.

Mitigasi Bencana Iklim dengan Mendorong Perwujudan Green Banking

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
MI
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini