Berbagi Bubur Pedas, Tradisi Menikmati Berbuka Puasa dalam Masyarakat Melayu

Berbagi Bubur Pedas, Tradisi Menikmati Berbuka Puasa dalam Masyarakat Melayu
info gambar utama

Warga Kabupaten Langkat, Sumatra Utara (Sumut) memiliki menu berbuka puasa yang berbeda dengan kebanyakan orang. Bukan berbuka dengan santapan yang manis, menu yang mereka pilih adalah makanan bercita rasa pedas.

Bubur pedas namannya. Ini merupakan tradisi berbuka yang sudah dilakukan sejak zaman Kerajaan Deli. Bagi masyarakat Melayu, tradisi menyajikan bubur pedas ketika berbuka puasa memang sudah dikenal luas.

“Makanan yang biasanya dihidangkan untuk berbuka puasa adalah bubur (kanjil) yang terbuat dari beras dan berbagai sayuran yang diaduk rata. Bubur ini dimasak oleh beberapa orang tua miskin di gampong yang nantinya mendapat bagian fitrah dari teungku atas jerih payahnya,” tulis C Snouck Hurgornje mengabadikan suasana bulan puasa di Aceh dalam laporan berjudul Orang Aceh: Budaya, Masyarakat, dan Politik Kolonial yang dimuat dari Historia.

Konon bubur pedas ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Deli yang berdiri pada tahun 1632 Masehi di bekas wilayah Kerajaan Haru atau Aru. Wilayah Haru mendapatkan kemerdekaan dari Aceh pada 1669 dengan nama Kesultanan Deli.

Awalnya, sajian ini merupakan makanan bagi keluarga kerajaan. Namun seiring berjalannya waktu, keluarga Kesultanan Deli mengundang masyarakat untuk ikut menikmati sajian bubur pedas tersebut.

Dampak Negatif di Balik Nikmatnya Makan Gorengan Saat Buka Puasa

Tradisi ini pada akhirnya menjadi wujud kebersamaan antara Kerajaan Melayu dengan rakyatnya. Bubur pedas menjadi media bagi keluarga kerajaan untuk mengakrabkan diri dengan keadaan rakyatnya.

Di waktu menyatap bubur pedas, sultan biasanya akan mendengarkan keluh kesah dan mengetahui permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Karena itulah Kesultanan Deli menjadikan bubur pedas sebagai makanan tradisi saat Ramadan datang.

Selain itu ada versi lain yang menyebutkan bahwa bubur pedas dahulu dibuat karena banyak rakyat yang hidup susah. Karena itulah, warga membuat banyak macam bahan agar bisa dimakan oleh banyak orang.

Karena itulah saat bulan puasa tiba, bubur pedas ini biasanya disajikan di masjid-masjid secara gratis sebagai menu berbuka puasa. Bubur ini akan dimasak seusai salat zuhur secara bergotong royong.

“Tradisi makan bubur pedas ini dapat membina kerja sama dan gotong royong antar umat Islam, karena bubur ini dimasak dan dimakan bersama-sama sehingga kebersamaan akan semakin terjaga,” tulis Fariani, peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh dalam artikel berjudul Bubur Pedas Makanan Khas Melayu di Bulan Ramadan.

Tidak sembarang orang bisa membuat bubur pedas. Fariani menyebut biasanya hanya orang-orang sudah berumur yang biasa membuatnya. Sementara itu anak-anak muda Melayu, sudah jarang sekali yang bisa membuat bubur ini.

Menu yang sulit dibuat

Sartika dan Siti Wahidah dalam Analisis dan Kebermaknaan Bahan Bubur Pedas sebagai Warisan Kuliner Melayu Statbat dan Tanjung Balai menyebutkan bahwa bubur pedas hanya dibuat saat Ramadan atau perayaan keluarga.

Hal ini karena cukup repot dalam pembuatannya. Bahan yang digunakan pun tidak sedikit. Di antaranya beberapa jenis kacang-kacangan, ikan, rempah-rempah dan daun-daunan. Apalagi makanan ini biasanya disajikan dalam jumlah yang banyak.

Dalam Ensiklopedi Makanan Tradisional Indonesia (Sumatra) dijelaskan bahwa resep dari bubur pedas yang tradisional biasanya dilengkapi bahan-bahan dari 44 macam daun kayu dari hutan. Karena sulit, muncul beberapa variasi dari bubur pedas.

Selain itu dari makanannya, bubur pedas dibuat menggunakan 40 jenis rempah dan daun daunan yang berkhasiat bagi tubuh. Rempah-rempah yang digunakan antara lain kunyit, temu kunci, temu hitam, jintan serai, temu mangga, dan puluhan macam jenis rempah lainnya.

Nanti semua rempah itu kemudian dicampurkan dengan bahan-bahan lain, seperti kentang, wortel dan tauge. Sementara untuk campuranya biasanya menggunakan potongan dada ayam serta udang segar.

Takjil Unik Ramadhan yang Hanya Ada di Kampung Kauman Yogyakarta

Sedangkan daun-daunan dari hutan itu akan ditumbuk hingga menjadi dedak dan dijemur. Setelah itu, daun-daun dan beberapa bahan lain dicampur ke dalam breuh (beras) dan dimasak bersama air hingga menjadi bubur.

Ie bu peudah (bubur pedas) yang sudah jadi bila waktu berbuka puasa hampir tiba dibagikan setiap orang yang akan berbuka puasa,” sebut ensklopedi.

Bubur pedas akan disajikan dalam wadah berupa cawan (mangkok) atau pinggan (piring). Biasanya masyarakat juga akan mengantri, bahkan sudah berkumpul ketika proses memasak makanan khas Melayu ini.

Bubur pedas dipercaya dapat menyegarkan badan usai berpuasa seharian penuh. Karena mengandung puluhan macam rempah-rempah yang dijadikan satu setelah diolah menjadi bubur pedas.

Bila dicicipi, bubur pedas sebenarnya tak sesuai namanya. Karena makanan ini sebenarnya tidak pedas, melainkan gurih, bahkan sedikit manis. Sedangkan agar rasa bubur pedas itu semakin nikmat, biasanya ditambah urap atau pun anyang.

Kuliner ini kini telah melintasi batas suku dan ras, artinya bubur pedas tidak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat Melayu, namun juga berbagai macam suku yang ada di daerah Sumut atau Aceh yang menjadikannya sebagai makanan khas bulan Ramadan.

200 porsi siap dibagikan

Bubur pedas ini menjadi menu yang sangat populer ketika bulan Puasa tiba. Sudah puluhan tahun bubur ini menjadi menu buka puasa favorit khas masyarakat Langkat. Ketika bulan puasa, bubur pedas ini selalu bisa ditemukan di Masjid Raya Stabat.

Konon masjid ini adalah masjid yang pertama menyajikan bubur pedas sejak puluhan tahun dan melegenda hingga kini. Setiap harinya, pihak masjid bisa menyediakan 200 porsi bubur pedas untuk warga dan pengguna jalan yang berbuka puasa di Masjid Raya Stabat.

Banyak warga di sekitar masjid bahkan dari seluruh penjuru Medan dan luar kota Medan yang datang untuk merasakan kehangatan makanan tradisi ini. Ada yang menikmatinya langsung, ada juga yang datang dengan kotak bekal untuk membawanya pulang.

Bubur akan dibagian bersama dengan kurma, kue dan air minum dari hari pertama Ramadan hingga hari ke 27. Hal yang perlu anda kuatirkan hanya satu, kemungkinan anda tidak akan kebagian bila mengantri di atas pukul 18.00.

Pergeseran Makna Takjil dan Menu Terpopuler

Tetapi, karena pandemi Covid 19, tradisi pembagian bubur pedas sebagai menu buka puasa ditiadakan pada tahun 2021. Kondisi ini sudah terjadi sejak tahun 2020, ketika pandemi Covid baru masuk ke Indonesia.

Seketaris Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Raya Al Mashun Zaini Hafiz mengatakan, ditiadakan tradisi ini sesuai dengan imbauan pemerintah agar menghindari kerumuman.

“Selama pandemi ini, sejak tahun yang lalu juga sudah kita tiadakan. Karena imbauan dari pemerintah untuk tidak ada kerumunan,” katanya yang dilansir dari Merdeka.

Biasanya sekitar 1.000 porsi akan dibagikan pengurus masjid kepada warga setiap selepas ashar, menjelang berbuka puasa, selama bulan Ramadan. Namun sejak pandemi Covid 19, kebiasaan ini harus berubah.

“Nanti dari kabupaten/kota berbuka puasa di sini tak terbendung, sampai nanti 1.500 orang. Mudah-mudahan tahun yang akan datang kita mohon kepada Allah agar Covid 19 hilang,” ucapnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini