Hari Nelayan Nasional: Bukan Lagi Waktunya Mencari Ikan

Hari Nelayan Nasional: Bukan Lagi Waktunya Mencari Ikan
info gambar utama

Sejak tahun 1961, keberadaan nelayan di tanah air telah diperingati lewat momentum Hari Nelayan Indonesia yang jatuh setiap tanggal 6 April. Selama empat tahun setelahnya atau hingga tahun 1965, peringatan hari nelayan selalu diselenggarakan di Pulau Jawa.

Baru pada tahun 1966, untuk pertama kalinya peringatan Hari Nelayan berlangsung di luar Pulau Jawa, yakni Makassar. Dan sejak saat itu, momentum peringatan Hari Nelayan mulai banyak dirayakan di berbagai wilayah Indonesia.

Membahas mengenai tujuan, Hari Nelayan masih terus diperingati hingga detik ini dengan harapan agar mereka yang mendedikasikan diri sebagai seorang nelayan, dapat membangkitkan gairah sekaligus semangat dalam memainkan peran besar sebagai penyuplai salah satu sumber pangan penting untuk masyarakat tanah air.

Lain itu, apa yang dihasilkan dan dilakukan oleh para nelayan juga diharapkan dapat menggerakan kesejahteraan dalam hal kesehatan masyarakat.

Kampung Nelayan Ini Bertahan di Pusat Turisme Bali

Sudahkah nelayan di Indonesia sejahtera?

Terdengar klise tapi memang pertanyaan di atas yang sering kali masih banyak terdengar hingga saat ini. Sama halnya seperti petani yang kerap kali dipandang sebagai pahlawan pangan dan penjamin dari adanya makanan pokok di tanah air, tapi benarkah mereka sudah sejahtera akan kehidupannya sendiri?

Bukan tanpa alasan, pertanyaan tersebut kerap kali muncul karena kenyataannya peringatan Hari Nelayan Nasional selalu diikuti dengan persoalan di sektor perikanan. Mengutip Kompas.com bagi beberapa pihak tertentu peringatan Hari Nelayan menjadi kesempatan untuk menyuarakan permasalahan diskriminasi, lemahnya perlindungan, dan kurangnya pemberdayaan yang merata bagi para nelayan di tanah air.

Sebagai gambaran akan adanya ketimpangan yang terjadi, kondisi pertama dapat menyorot mengenai peran besar nelayan yang baik secara langsung atau tidak langsung menjadi penggerak PDB dari sektor ekspor perikanan.

Berkat jerih payah yang mereka lakukan setiap harinya, sektor perikanan selalu berhasil menyumbang angka PDB yang cukup signifikan. Misalnya saja pada tahun 2021, nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai angka 5,72 miliar dolar AS. Nilai tersebut meningkat 9,82 persen dibanding tahun 2020 yang berada di angka 5,20 miliar dolar AS.

Namun sayangnya di lain sisi, KKP sendiri mengakui jika mayoritas klaster perikanan belum sejahtera. Lebih detail, disebutkan jika sebanyak lebih dari 50 persen klaster perikanan rakyat masih berada di bawah garis kemiskinan.

Hal tersebut terjadi lantaran masih belum meratanya pemberdayaan nelayan. Hingga saat ini sebagian besar nelayan di Indonesia masih didominasi oleh nelayan kecil dengan motode dan perlengkapan tradisional, dibandingkan dengan nelayan yang sudah mendapat keberdayaan dan beralih menjadi nelayan di sektor formal seperti perusahaan perikanan, budidaya, dan lain sebagainya.

Ini Contoh Sukses Perikanan Berkelanjutan dari Nelayan Skala Kecil

Menangkap tidak lagi mencari

ilustrasi tangkapan ikan
info gambar

Terlepas dari kondisi yang terjadi, sejatinya pemberdayaan yang harus dilakukan oleh pemerintah untuk para nelayan bisa dilakukan dari segi pemenuhan perlengkapan, sehingga membuat para nelayan tradisional lebih maju.

Alih-alih menggunakan jaring yang dilempar ke laut secara manual, para nelayan konvensional bisa mulai menggunakan teknologi yang lebih maju layaknya sonar, echo sounder, net recorder, satelit, dan berbagai macam perlengkapan lainnya untuk meningkatkan hasil tangkap mereka, sehingga menjadi nelayan yang lebih sejahtera seperti halnya perusahaan-perusahaan perikanan tangkap yang lebih formal.

Kondisi tersebut yang nantinya akan membuat peran nelayan mulai bergeser, tidak lagi mencari melainkan langsung menangkap ikan. Hal tersebut yang setidaknya pernah disampaikan dan sudah diupayakan oleh Ganjar Pranowo, salah satunya kepada para nelayan yang berada di provinsi Jawa Tengah.

Menurutnya dengan kemajuan teknologi, nelayan tidak perlu lagi bersusah payah mencari ikan di lautan, karena pencarian ikan sudah dapat dilakukan dengan peralatan yang canggih.

“Sudah tidak zamannya lagi nelayan sekarang mencari ikan, sekarang itu konsepnya nelayan hanya menangkap ikan, yang mencarikan adalah pemerintah,” tutur Ganjar.

Jika bicara mengenai peralatan yang lebih maju, saat ini diketahui sudah ada sebuah teknologi atau alat bernama fishfinder. Alat tersebut dapat digunakan untuk melihat di mana lokasi ikan, sehingga para nelayan dapat langsung menuju lokasi ikan berada.

“Ikan itu bisa terpantau dari plankton yang ada, yang biasanya dapat ditangkap dari satelit, biasanya berwarna merah-merah. Nah kalau sudah kelihatan itu, tinggal dikirimkan saja signal itu kepada para nelayan melalui gadget-nya masing-masing untuk menuju ke lokasi,” tambahnya lagi.

Dengan demikian nelayan disebutkan sudah memiliki kepastian tujuan saat melaut, sehingga mereka akan mendapatkan hasil yang maksimal.

“Jadi tidak perlu lagi muter-muter nyari ikan, (tapi) langsung ke lokasi, tebar jaring dan bawa pulang ikan. Sudah saatnya nelayan naik kelas, tidak cukup menjadi nelayan tradisional,” pungkas Ganjar.

Aplikasi Lautan Nusantara Buatan Indonesia, Permudah Nelayan Tangkap Ikan

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini