Istilah 'Mabuk Kepayang', Ternyata Berasal dari Buah ini

Istilah 'Mabuk Kepayang', Ternyata Berasal dari Buah ini
info gambar utama

Buah pangi memiliki nama ilmiah Pangium edule. Buah ini dikenal dengan nama lokal beragam seperti kepayang, kluwek, kelua, atau pucung. Meski beracun, buah pangi dapat dimanfaatkan sebagai bumbu masakan, terutama untuk warna hitam sayur rawon. Juga, sebagai bumbu pada daging, sayur brongkos, serta sup konro.

Mengutip Hello Sehat, pohon pangi dikenal juga sebagai pohon serba guna, karena hampir semua bagian tubuhnya bisa dimanfaatkan. Mulai daun, buah, biji, batang, hingga kulit kayu.

Nutrisi yang terdapat dalam pangi di antaranya adalah zat besi, vitamin C, vitamin B1, fosfor, kalium dan kalsium. Namun hati-hati, kluwek juga mengandung asam sianida, sejenis racun yang dapat membahayakan kesehatan jika dikonsumsi secara langsung.

Pastinya, mengkonsumsi pangi berlebihan dapat membuat kita mabuk, mabuk kepayang.

Buah pangi tumbuh secara liar di berbagai tempat di Indonesia, salah satunya di kawasan hutan Nantu di Gorontalo, sebuah wilayah konservasi dengan status kawasan suaka margasatwa.

Di tempat tersebut, tumbuhan ini juga tumbuh di sekitar desa yang berdekatan dengan hutan Nantu, salah satunya Desa Sari Tani, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Boalemo.

Buah pangi yang digunakan sebagai penyedap masakan dan juga untuk bumbu daging. Foto: Shutterstock
info gambar

Sebagian masyarakat di desa ini sering menemukam pohon pangi dekat dengan sungai, bahkan tumbuh tak jauh dari tempat mereka. Buah pangi yang disukai oleh satwa endemik penghuni hutan Nantu itu, juga dimanfaatkan oleh masyarakat di Desa Sari Tani.

“Sebagian masyarakat di Desa Sari Tani memanfaatkan buah pangi untuk dijadikan minyak memasak makanan, sebagai pengganti minyak kelapa,” ungkap Jemi Monoarfa, pegiat kuliner di Gorontalo.

Menurut Jemi, masyarakat di desa tersebut memiliki pengetahuan tentang bagaimana memanfaatkan buah pangi. Ketika membelah buah pangi untuk menghilangkan racun, warga biasanya akan mencuci buahnya di sungai menggunakan air mengalir.

Selain itu, ada yang merendam atau merebus terlebih dahulu untuk menghilangkan racunnya. Tidak hanya itu, ada juga yang akan merendam buah pangi dengan menambahkan garam, agar racunnya hilang.

“Minyak dari buah pangi tidak hanya berfungsi untuk memasak makanan, ada juga warga yang menggunakan sebagai minyak urut atau pijat,” cerita Jemi.

Hal lain yang biasa dimanfaatkan warga di Desa Sari Tani adalah menjadikan daunnya yang agak lebar itu sebagai pembungkus makanan. Saat warga pergi ke kebun atau masuk hutan, bekal makanan yang mereka bawa dibungkus daun pangi.

Daun pangi yang tidak hanya digunakan sebagai pembungkus makanan tetapi juga dapat diolah menjadi menu sayur. Foto: Shutterstock
info gambar

Kegunaan buah pangi sebagai minyak itu juga dikuatkan dengan sebuah penelitian yang diterbitkan pada jurnal Info Teknis Eboni, Volume 12, Juli 2015.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ramdana Sari dan Suhartati dari Balai Penelitian Kehutanan Makassar, di daerah-daerah yang jarang terdapat pohon kelapa, seringkali minyak biji pangi digunakan sebagai pengganti minyak kelapa.

Hal ini dikarenakan, biji pangi mengandung minyak linoleat dan oleat cukup tinggi. Minyak yang sering disebut minyak kepayang ini banyak digunakan untuk berbagai macam masakan.

“Minyak diperoleh dengan cara inti biji pangi dicincang halus dan diperas sampai keluar minyaknya. Biji pangi mengandung minyak atau lemak yang tinggi, dua kali lipat kandungan protein maupun karbohidratnya.”

Selain sebagai minyak, menurut mereka, buah pangi bisa dijadikan bahan pengawet. Tujuannya, untuk menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroba seperti bakteri, kapang atau khamir, agar makanan bertahan dalam waktu lama. Juga, meningkatkan cita rasa, menjaga tekstur, dan mencegah perubahan warna makanan.

Pemanfaatan buah pangi sebagai bahan pengawet makanan mungkin kurang dikenal dan belum digunakan masyarakat secara luas. Bijinya dapat digunakan sebagai pengawet karena mengandung bahan kimia beragam, seperti asam sianida, tanin dan senyawa lain.

Senyawa kimia ini efektif mengendalikan perkembangbiakan bakteri pada ikan dan daging, seperti bakteri Pseudomonas aeruginosa, Escherichia coli, dan Staphylococcus aureus.

Buah pangi yang bisa membuat mabuk kepayang. Foto: Shutterstock
info gambar

Dijelaskan keduanya, biji pangi merupakan alternatif bahan pengawet alami yang tidak berbahaya. Hal ini diadopsi dari pengalaman sebagian masyarakat nelayan di Kecamatan Labuhan, Kabupaten Pandeglang, Banten, dalam membantu proses pengawetan ikan dan hasilnya sangat efektif, jika dibandingkan menggunakan formalin. Proses pembuatannya pun sangat sederhana, tidak membutuhkan waktu lama.

“Cara pengolahan untuk bahan pengawet adalah buah yang telah masak diambil bijinya kemudian dibelah. Daging yang terdapat di dalam biji [endosperm] dicincang dan kemudian dijemur selama dua sampai tiga hari. Tekstur daging biji yang telah dijemur menjadi lebih keras dan padat,” tulis Ramdana Sari dan Suhartati.

Hasil cincangan tersebut dimasukkan ke dalam perut ikan yang telah dibersihkan isi perutnya. Efektivitas bahan pengawet pangi ini dapat digunakan selama enam hari. Sedangkan untuk pengangkutan ikan jarak jauh, bahan pengawet ini ditambahkan garam dengan perbandingan 1:3 (1 bagian garam dengan 3 bagian bahan pengawet).

Bahan pengawet dari daging biji pangi dapat digunakan dengan cara melumurkan pada daging ikan kembung segar [Rastrelliger brachysoma]. Dengan cara ini, pengawetan ikan dapat bertahan enam hari tanpa mengubah mutunya.

Kesimpulan dari penelitian mereka adalah tumbuhan pangi dapat digolongkan sebagai jenis pohon serbaguna karena hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan, serta menghasilkan berbagai macam produk. Dengan demikian, tumbuhan pangi memiliki peluang sangat baik sebagai komoditas untuk diversifikasi produk pangan.

Penelitian lainnya tentang pengolahan pangi diterbitkan di Jurnal Hutan dan Masyarakat berjudul “Pemanfaatan Tanaman Pangi [Pangium edule Reinw] pada Lahan Agroforestri Desa Watu Toa Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng”.

Dalam riset tersebut, dikatakan bahwa masyarakat di Desa Watu Toa memanfaatkan buah pangi dengan cara diolah dalam enam produk. Sebut saja batang sebagai bahan konstruksi dan racun ikan (kulit), daun sebagai pestisida alami, obat (antiseptik), sayur (daun muda), buah atau biji pangi sebagai bahan makan yang dapat berupa kue, tempe, sayur ise’ pangi dan Lope’ pangi, serta bumbu masak (kluwak).

Buah pangi juga masuk dalam buku “100 Spesies Pohon Nusantara Target Konservasi Ex-Situ Taman Keanekaragaman Hayati [2019] karya Hendra Gunawan dari Pusat Litbang Hutan (KLHK). Dalam buku itu dijelaskan, buah pangi tumbuh liar di hutan hujan primer dan sekunder, serta banyak dijumpai di sepanjang sungai dengan topografi agak curam, dan umumnya pada ketinggian di bawah 300 mdpl atau kadang pada ketinggian 1000 mdpl.

Pangi berbuah sepanjang tahun mulai umur 15 tahun, dan buah masak pada September-Oktober, serta berbuah lebat di Oktober-Februari.

Catatan:

Artikel ini direpublikasi dari Mongabay.co.id, atas kerjasama GNFI dengan Mongabay Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini