Raja Udang Kalung Biru, Si Pemalu dari Pulau Jawa

Raja Udang Kalung Biru, Si Pemalu dari Pulau Jawa
info gambar utama

Apabila mendengar nama raja udang kalung-biru, mungkin kebanyakan orang yang belum pernah melihat wujudnya akan menyangka itu adalah nama dari spesies udang besar berwarna biru.

Nyatanya nama tersebut sama sekali jauh dari jenis hewan yang ada di laut, melainkan nama hewan darat yang bisa terbang, yakni burung. Raja udang kalung-biru atau javan blue-banded kingfisher, adalah burung endemik Indonesia yang sesuai namanya berasal dari Pulau Jawa.

Mengutip greeners, spesies burung ini pertama kali diklasifikasikan oleh seorang zoologist berkebangsaan Belanda, yakni Coenraad Jacob Temminck pada tahun 1830. Nama kalung-biru juga merujuk pada ciri tubuhnya yang memiliki corak warna bulu kebiruan, dan melebar di bagian depan tubuh layaknya kalung.

Menikmati Celoteh Cekakak Jawa di Hutan Desa di Yogyakarta

Morfologi yang sering tertukar

Di Indonesia, kelompok burung kingfisher atau raja udang sendiri sebenarnya lebih umum dikenal sebagai burung cekakak. Jika membahas mengenai ciri tubuh, raja udang kalung-biru rupanya sering tertukar dengan spesies kerabatnya yakni small blue kingfisher atau raja udang biru kecil.

Hal tersebut lantaran bentuk tubuh keduanya nyaris serupa. Padahal jika ditelisik lebih detail, perbedaan nampak jelas di mana raja udang biru kecil memiliki warna bulu biru yang lebih muda dan dominan di bagian punggungnya, dengan corak putih hingga putih kusam di bagian dada.

Sementara itu raja udang kalung-biru memiliki warna bulu dominan hitam di bagian punggung, dan corak biru lebih gelap di bagian tenggorokan hingga dada. Meski begitu, biasanya untuk burung yang berjenis betina memiliki corak sedikit berbeda dari pejantan, berupa bulu perut berwarna jingga-merah karat dengan bagian tenggorokan berwarna krem.

Lain itu, burung yang memiliki nama ilmiah Alcedo euryzona ini juga memiliki ukuran lebih besar, di mana bisa tumbuh hingga sepanjang 18 sentimeter. Sementara raja udang kecil hanya bisa tumbuh hingga kisaran 13 sentimeter saja.

Fakta menarik lainnya, raja udang kalung-biru disebut terbagi lagi menjadi dua sub-spesies, yakni Alcedo euryzona euryzona yang memang merupakan endemik Jawa, sedangkan satunya lagi merupakan Alcedo euryzona peninsulae yang lebih dikenal dengan nama umum malay blue-banded kingfisher.

Jika raja udang kalung-biru dari sub-spesies euryzona hanya tersebar di Pulau Jawa, lain halnya dengan raja udang kalung-biru dari subspesies peninsulae yang diketahui tersebar di Semenanjung Malaya, Myanmar, Thailand, Malaysia, Brunei Darussalam, Sumatra, dan Kalimantan.

Mengutip penjelasan Kehati, salah satu hal yang bisa membedakan kedua sub-spesies raja udang kalung-biru adalah individu betina pada ras Kalimantan dan Sumatra memiliki garis dada, sedangkan ras Jawa tidak.

Mambruk, Burung Dara Endemik Papua dengan Mahkota Terindah

Pemakan ikan dan burung pemalu yang terancam

Raja udang kalung biru
info gambar

Jika bicara mengenai area penyebaran, habitat setiap hewan tertentu biasanya mengikuti sumber makanan mereka untuk bertahan hidup. Karakteristik tersebut yang rupanya juga dapat ditemukan pada raja udang kalung-biru.

Sebagai burung pemakan ikan kecil, mereka diketahui tersebar secara alami di kawasan hutan dataran rendah tropis atau subtropis, hutan mangrove dengan ketinggian 1.250 mdpl, dan sungai berbatu.

Meski sangat menyukai dan makanan utamanya adalah ikan, namun raja udang kalung-biru juga kerap memangsa serangga, reptil, serta udang dan kepiting kecil dengan cangkramnya yang juga berukuran kecil.

Di samping karakteristik tersebut, raja udang kalung-biru juga dikenal sebagai burung pemalu yang sulit ditemukan, karena memang memiliki tingkat perjumpaan yang rendah. Jika beruntung, salah satu satu titik penemuan burung satu ini terdapat di kawasan TN Gunung Halimun Salak, dekat perairan sungai yang berbatu dengan air jernih namun berarus cukup deras.

Untuk sub-spesies yang tersebar di wilayah Sumatra dan Kalimantan, populasi raja udang kalung-biru terbilang masih banyak yakni di kisaran 10 ribu hingga 20 ribu ekor, namun sudah dicatat masuk dalam klasifikasi mendekati terancam atau near threatened oleh IUCN.

Sayangnya, nasib berbeda dimiliki sub-spesies yang bersifat endemik Jawa di mana statusnya sudah masuk klasifikasi terancam punah atau critically endangered versi IUCN. Mengutip alamendah.org, populasinya di alam bahkan diperkirakan hanya tersisa antara kisaran 50-249 ekor.

Bisa diduga, salah satu alasan semakin menipisnya populasi burung endemik Jawa ini disebabkan karena perburuan liar dan masifnya aktivitas alih fungsi hutan.

Burung Endemik Seriwang Sangihe Kini Terancam Pertambangan Emas

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

SA
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini