Di Balik Reog Ponorogo, Ada Kisah Balutan Cinta dan Gigihnya Perlawanan

Di Balik Reog Ponorogo, Ada Kisah Balutan Cinta dan Gigihnya Perlawanan
info gambar utama

Alkisah, Raja Kerajaan Daha Kediri sedang mencari menantu untuk putrinya, yakni Dewi Sanggalangit yang kecantikannya sudah terkenal ke seantero jagat. Kabar ini sampai terdengar ke Prabu Klana Sewandana yang berkuasa atas Kerajaan Bantarangin.

Kerajaan ini konon terletak di timur Gunung Lawu, sebelah barat Gunung Wilis, daerah Ponorogo saat ini. Sang Prabu yang terkenal berwajah tampan serta sakti ini segera memerintahkan patih kepercayaannya untuk segera pergi ke Daha.

Dewi Sanggalangit ketika dilamar oleh Prabu Klana mengajukan syarat yang cukup berat yakni calon suaminya harus mampu menghadirkan tontonan yang menarik. Tontonan atau keramaian ini harus yang belum ada sebelumnya.

Semacam tarian yang diiringi tabuhan gamelan, dilengkapi dengan barisan kuda kembar sebanyak seratus empat puluh ekor dan harus dapat menghadirkan binatang berkepala dua. Syarat ini sebenarnya diajukan sebagai cara Sanggalangit menolak secara halus.

Sang Dadak Merak-pun Pukau Masyarakat Belanda

Sementara di sisi lain, Raja Singabarong yang berasal dari Kerajaan Lodaya juga memiliki niat yang sama. Tetapi dia telat, karena Dewi Sanggalangit sudah hendak dilamar. Karena itu, sewaktu lamaran tiba, Singabarong mencoba menggagalkannya.

Swandana sendiri telah berhasil mewujudkan permintaan Sanggalangit. Dirinya sudah menciptakan tontonan dengan kreasi baru dan binatang berkepala dua. Prabu ini juga sudah bermaksud mendatangi Kerajaan Kediri, tempat sang dewi berada.

Sehingga pertempuan pun pecah, Singabarong berubah wujud menjadi singa yang sangat besar dan berhasil memukul mundur pasukan Bantarangin. Namun akhirnya Singobarong takluk terkena senjata andalan Prabu Klana Sewandana.

Kisah perjalanan Raja Kerajaan Bantarangin, Prabu Klana Sewandono saat akan meminang Dewi Sanggalangit namun harus bertempur dengan Singabarong dikenal sebagai asal mula kesenian Reog Ponorogo.

“Sampai saat ini, menurut pendapat beberapa masyarakat yang sedikit banyak mengerti tentang kesenian Reog Ponorogo, di dalam setiap pertunjukan untuk tujuan apapun, cerita dari tarian ini tidak pernah berubah yaitu selalu mengisahkan tentang percintaan dan peperangan,” tulis Siwi Tri Purnami dalam skripsi berjudul Mitos Asal-Usul Tarian Reog Ponorogo dan Pemanfaatannya Sebagai Materi Pembelajaran Sastra di SMA.

Reog ponorogo dalam literasi sejarah

Kesenian rakyat ini juga telah tercatat dalam prasasti Kerajaan Kanjuruhan (kini Malang, Jawa Timur) bertarikh 760 Masehi saat Gajayana berkuasa. Lalu terekam juga dalam Prasasti Pucangan dari Kerajaan Kediri dan Jenggala tahun 1041 Masehi.

Prasasti ini memberikan keterangan penyerangan-penyerangan kepada Raja Airlangga dari musuh-musuhnya mulai tahun 951 saka (1029 Masehi) hingga tahun 959 Saka (1037 Masehi), salah satunya Haji Wengker.

Tahun 952 Saka (103 Masehi), Raja Airlangga berhasil mengalahkan Haji Wengker yang bernama Panuda yang hina seperti Rawana. Akibat serangan Airlangga itulah, Raja Panuda kemudian lari meninggalkan keratonnya di Lewa/Wengker, di Ponorogo.

Figur Haji Wengker ini dikaitkan dengan sosok bernama Wijayamarmma. Sedangkan eksistensi dari Kerajaan Wengker di Ponorogo sudah ada sejak 941 Masehi. Bahkan masih tetap eksis hingga masa Majapahit akhir.

Kesenian Reog: Sarat Makna Politik

Dengan terbunuhnya Raja Wijayawarmma dari Wengker itu, selesailah kampanye penaklukkan Raja Airlangga. Prasasti Pucangan menyebutkan bahwa Airlangga sebagai pemersatu (Messiah).

Dia pun duduk di atas singgasana dan meletakkan kakinya di atas kepala musuh-musuhnya. Hal ini juga digambarkan dalam patung perwujudan Raja Airlangga berupa patung Wisnu duduk di atas Garuda yang dianggap singgasananya.

Namun, patung Wisnu (Airlangga) duduk di atas Garuda itulah yang justru dijadikan bentuk Reog Ponorogo dengan cara dibalik, yaitu Garuda (Merak) duduk di atas Airlangga (Barongan).

“Rupanya-rupanya bentuk reog itu merupakan satire atau bentuk penghinaan dari pemilik legenda (rakyat Wengker) kepada Raja Airlangga sebagai musuh besarnya.” ucap Slamet Sujud P J dalam jurnal sejarah berjudul Kajian Historis Legenda Reog Ponorogo.

Walau begitu peneliti reog, Rido Kurnianto menyebut semua hasil penelitian tentang reog belum ada yang berhasil mengungkap sejarahnya secara ilmiah. Penelitian ini, katanya, selalu terbentur pada permasalahan fakta dan data hanya bersumber dari informasi lisan.

Walau ada beberapa prasasti dan situs, seperti situs Bantarangin di Kecamatan Sumoroto, prasasti di Desa Kutu, Kecamatan Jetis; Ki Ageng Mirah di Desa Mirah, Kecamatan Sukorejo, dan Ki Onggolono di Desa Golan, Kecamatan Sukorejo yang dikaitkan dengan sejarah reog.

Dirinya malah percaya bahwa berkembangnya reog seiring dengan keberadaan masyarakat awal Ponorogo yang masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme yakni percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena keberadaan roh-roh di alam.

“Dalam kepercayaan animisme dan dinamisme, bencana atau bala itu akibat kemarahan roh-roh yang ada di alam sehingga diperlukan upaya bersih-bersih dengan memanggil roh yang lebih kuat,” katanya yang dilansir dari Antara News.

Berdirinya bumi reog

Rido menyebut masyarakat Ponorogo kemudian memilih roh harimau yang dianggap sebagai roh binatang hutan terkuat, dan roh binatang merak yang dianggap sebagai roh binatang hutan terindah.

Oleh para seniman di masa lalu, jelasnya, simbol roh harimau dan burung merak itu kemudian digambarkan sebagai kepala harimau yang disebut barongan dan dadak merak yang terus mengalami perkembangan menjadi topeng reog yang saat ini dikenal.

“Sebelumnya, reog dimainkan oleh dua orang seperti barongsai di China. Satu orang memainkan kepala dan dua kaki depan, satu orang bermain sebagai badan dan dua kaki belakang. Topengnya berupa kepala harimau dengan dadak merak kecil seperti mahkota,” tuturnya.

Hal ini juga berkaitan dengan ejaan yang betul yakni reyog, bukan reog sebagaimana selama ini dikenal masyarakat Indonesia. Penggunaan istilah reog baru dipakai saat Bupati Markum Singodimejo menjabat (1994-2004), sebagai akronim slogan Kabupaten Ponorogo.

Kata reyog sendiri berasal dari bunyi rumpun bambu yang bergoyang ditiup angin, “reyag-reyog”. Bagi masyarakat animisme dan dinamisme, rumpun bambu ini dianggap sebagai sesuatu yang penting.

“Rumpun bambu bergoyang tertiup angin yang mengeluarkan bunyi “reyag-reyog” dianggap bagaikan sapu yang membersihkan dan menolak bala yang terjadi di masyarakat,” jelas Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Ponorogo ini.

Sejumlah Musisi Ternama Hadir di Ponorogo

Reog juga mengalami akulturasi dengan ajaran islam, hal ini bisa dilihat pada manik-manik tasbih yang ada pada paruh burung merak. Sejarahnya ini, ucap Rido, dihubungkan dengan sosok Bathoro Katong yang bernama asli Lembu Kanigoro, putra kelima Prabu Brawijaya V.

Bathoro Katong merupakan nama pemberian dari Raden Patah agar adiknya ini bisa diterima oleh masyarakat setempat. Bathoro Katong berasal dari “batara” yang berarti dewa sedangkan “katong" yang berarti menampakkan diri, sehingga berarti dewa yang mewujud atau menampakkan diri dalam wujud manusia.

“Reog menjadi salah satu media dakwah yang dilakukan Bathoro Katong. Manik tasbih yang ada pada burung merak dimaksudkan agar manusia selalu berdzikir kepada Yang Maha Kuasa,” tulis Dewanto Samodro dalam artikel berjudul Reog Ponorogo : Antara Legenda, Sejarah, dan Budaya.

Hal ini disebut oleh Asmoro Achmadi dalam penelitiannya yang menyatakan ada nilai kerohanian seperti penjiwaan setiap pemain reog yang meliputi nilai dakwah, nilai kelestarian, nilai kepercayaan, dan nilai magis.

Selain itu, katanya, Reog Ponorogo juga memiliki nilai spiritual yakni memuat hal-hal yang melahirkan gairah dan getaran jiwa yakni nilai budaya, nilai keindahan, nilai moral, nilai seni, nilai simbolik, dan nilai superioritas.

Tata nilai selanjutnya, jelas Asmoro adalah unsur-unsur lahiriah yang berkaitan dengan keperluan hidup keseharian, meliputi kepahlawanan, keadilan, nilai kesejahteraan, dan tidak kalah penting adalah nilai kesenangan dalam pertunjukan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini