Dramatis, 4 Hewan Ini Hanya Kawin Sekali Seumur Hidup Lalu Mati

Dramatis, 4 Hewan Ini Hanya Kawin Sekali Seumur Hidup Lalu Mati
info gambar utama

Seperti manusia, hewan juga melakukan hubungan intim untuk reproduksi dan alasan kesenangan. Meski hewan juga memiliki perilaku seksual yang variatif, istilah kawin umumnya disematkan pada hubungan intim untuk tujuan melahirkan generasi penerus.

Pada sebagian besar mamalia, perkawinan terjadi saat estrus atau periode paling subur dalam siklus reproduksi betina sehingga besar kemungkinannya pada keberhasilan pembuahan.

Beberapa perilaku seksual hewan juga melibatkan persaingan, bahkan sampai menimbulkan perkelahian di antara pejantan. Sementara itu, betina akan memilih jantan yang tampak kuat dan mampu melindungi dirinya sendiri. Jantan yang memenangkan pertarungan lebih mungkin mendapat kesempatan kawin dengan banyak betina.

Bagi hewan, bersenggama berarti menyebarkan gen sejauh dan seluas mungkin. Namun, ritual kawin pada hewan terkadang tak semudah itu. Beberapa hewan harus melalui serangkaian proses rumit untuk bisa kawin. Bahkan, ada pula yang harus menunggu seumur hidup agar bisa kawin lalu mati setelahnya.

Berikut ini empat jenis hewan yang secara dramatis hanya bisa kawin sekali seumur hidup untuk kemudian mati.

Labi-Labi Moncong Babi, Hewan Endemik Papua yang Semakin Langka

Lebah madu jantan

 Lebah madu | @Mammiya Pixabay
info gambar

Ratu lebah, satu-satunya betina yang melakukan proses perkawinan akan terbang ke tempat di mana ribuan lebah madu jantan berkumpul. Ia akan kawin dengan beberapa pejantan di udara. Selama bersenggama, pejantan akan memasukan endophallus dan mengeluarkan air mani.

Lebah jantan haya mampu 7-10 kali kawin dalam sebuah periode. Usai ejakulasi, lebah jantan akan menarik diri dari betina. Perut jantan akan robek karena endophallus-nya terlepas dari tubuh dan menempel pada si betina, testisnya pun ikut meledak, dan seketika ia akan terjatuh ke tanah dan mati.

Meski tampak aneh, bersenggama secara eksplosif pada lebah madu dianggap masuk akal secara evolusioner karena ujung penis tetap berada di dalam ratu lebah dan akan menghentikan jantan lain untuk kawin dengan sang ratu serta membiarkan materi genetiknya diturunkan sementara dia mati setelahnya.

Setelah kawin, ratu lebah dapat menyimpan hingga 100 juta sperma di dalam saluran telurnya. Namun, hanya lima hingga enam juta yang disimpan di dalam spermatheca (struktur saluran reproduksi pada hewan betina) ratu. Ratu hanya menggunakan beberapa sperma ini pada satu waktu untuk membuahi sel telur sepanjang hidupnya. Jika ratu kehabisan sperma dalam hidupnya, generasi ratu baru akan kawin dan menghasilkan koloni mereka sendiri.

Babi Rusa, Hewan Endemik Sulawesi yang Kian Sulit Dijumpai

Gurita laut dalam

 Gurita | @Markus Kammermann Pixabay
info gambar

Meski sering dianggap sebagai salah satu fauna invertebrata tercerdas di planet ini, gurita juga termasuk hewan laut berusia pendek. Umumnya, rentang hidup gurita berlangsung tiga sampai lima tahun atau bahkan bisa saja hanya enam bulan. Pada masa muda, gurita menghabiskan waktu sendirian, makan, tumbuh, dan mencapai kematangan seksual. Setelah dewasa, ia mendapatkan dorongan untuk kawin dan bereproduksi.

Gurita jantan memiliki lengan dimodifikasi yang disebut hectocotylus, yang panjangnya bisa satu meter dan menampung sperma. Meski tergantung pada spesies, jantan umumnya akan mendekati betina yang mau menerima dan memasukkan lengannya ke saluran telurnya. Bisa juga dengan melepas lengannya dan memberikan kepada betina untuk disimpan. Betina akan menjaga lengan sampai ia bertelur dan pada saat itu ia akan mengeluarkan lengan tersebut untuk menyebarkan sperma di atas telurnya untuk membuahinya.

Betina akan menjaga telur agar tetap bersih dan terlindungi dari pemangsa. Waktu mengerami telur antara 2-10 bulan tergantung spesies dan suhu air. Tak lama setelah kawin, gurita jantan akan segera mati sementara betina akan mati segera usai telurnya menetas.

Tapir Asia, Hewan Pemalu Asal Sumatra yang Terancam Punah

Belalang sembah

 Belalang sembah | @agzam Pixabay
info gambar

Sebelum bersenggama, belalang sembah akan melakukan tarian bersama kemudian mereka kawin yang bisa berlangsung sampai enam jam. Namun, perilaku seksual hewan jauh dari satu ini jauh dari kata romantis dan terbilang mengerikan karena melibatkan kanibalisme. Ketika berhubungan atau setelahnya, belalang betina akan mengunyah kepala sang jantan.

Kematian karena kanibalisme yang dialami belalang tampak seperti harga tinggi yang harus dibayar untuk sebuah perkawinan sesaat. Namun, belalang jantan rela mati dan melakukannya demi melahirkan keturunan.

Menurut para ilmuwan, belalang sembah betina yang memakan pasangannya setelah berhubungan seks menghasilkan lebih banyak telur daripada mereka yang tidak. Tubuh pejantan yang naas digunakan untuk membantu produksi mereka.

Setelah kawin, betina menyimpan sperma jantan dan kemudian menggunakannya untuk membuahi sel telur yang dihasilkannya. Dengan bayaran berupa kematian, pejantan dapat meningkatkan jumlah keturunan yang dihasilkan oleh satu betina.

Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the Royal Society B oleh para peneliti Australia dan Amerika Serikat, kanibalisme ditemukan untuk meningkatkan jumlah telur yang dihasilkan. Betina yang memakan pasangannya menghasilkan rata-rata lebih dari 88 telur, dibandingkan dengan rata-rata 37,5 bagi mereka yang tidak.

Peneliti Temukan Dua Spesies Burung Baru di Pegunungan Meratus

Antechinus

Caption
info gambar

Antechinus merupakan mamalia golongan masurpial yang menyerupai tikus. Antechinus jantan hanya hidup sekitar satu tahun dan betina bisa sampai tiga tahun. Mereka berukuran kecil dan dikenal dengan sesi kawin maraton yang bisa bertahan sampai 14 jam.

Musim kawin bisa berlangsung selama beberapa minggu setiap tahun. Jantan dan betina saling berganti-ganti pasangan dan kawin sebanyak yang mereka mampu. Para pejantan sangat aktif dan kompetitif untuk kawin dengan betina.

Jantan memproduksi testosteron tinggi yang konstan untuk menjaga kortisol sebagai hormon stres agar tidak mati. Namun, saat musim kawin tingga, testosteron mereka mencapai tingkat racun dan menyebabkan sistem kekebalan hewan tidak berfungsi. Antechinus pun akan mengalami perdarahan internal dan mati begitu saja.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

DA
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini