Satelit Indonesia dan Pemetaan Mitigasi Bencana

Fauzan Luthsa

Berlatar belakang jurnalis ekonomi dan politik, saat ini aktif sebagai pengamat kebijakan publik, terkait ekonomi dan sosial.

Satelit Indonesia dan Pemetaan Mitigasi Bencana
info gambar utama

Perhelatan MotoGP Mandalika telah menelan biaya Rp2,5 Triliun. Dengan narasi, kita akan mendulang benefit berupa lonjakan wisatawan mancanegara di waktu yang akan datang. Sama seperti gelaran Asian Games beberapa tahun lalu. Yang kita tau, tidak terjadi lonjakan.

Semoga tak lama lagi.

Saya tertarik dengan biaya ini setelah mengetahui Indonesia sampai saat ini kekurangan jumlah satelit operasional indera jarak jauh (inderaja), yang fungsinya menjadi mata Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk memantau republik ini yang luar biasa luas.

Ternyata, anggaran jadi isu utama untuk satelit ini. BMKG menilai jika Indonesia memiliki setidaknya sembilan satelit, maka akan dapat meningkatkan deteksi dini bencana secara akurat, cepat dan tepat.

Pada tahun 2014, BPPT pernah mengeluarkan estimasi biaya untuk satelit ini. Jumlahnya sekitar Rp2-3 triliun. Anggaran ini dibutuhkan untuk membuat satelit dengan bobot 500-1.000 kg.

Andai saja...

Saya jadi berandai andai, kalau alokasi anggaran perhelatan MotoGP Mandalika yang lalu digunakan untuk satelit, kita sudah punya satu buah. Memang masih kurang delapan, tapi akan sangat berguna bagi wilayah yang terpantau.

Masyarakat yang masuk kawasan pemantauan satelit akan mendapatkan peringatan dini, sehingga meminimalisir kerugian harta benda dan hilangnya nyawa. Manfaatnya terasa langsung, dan bukan proyeksi manfaat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan, telah terjadi 1.019 bencana alam di Indonesia per 21 Maret. Banjir menjadi bencana alam urutan teratas.

Menurut Institute For Development of Economics and Finance (INDEF), banjir di wilayah Jakarta dan sekitar menyebabkan kerugian sementara yang diestimasikan melebihi Rp10 triliun. Belum termasuk korban jiwa.

Tingginya bencana alam di Indonesia bukan karena hukuman dari Tuhan. Ini merupakan faktor geografi. Indonesia adalah negara yang potensi bencana alamnya tinggi dan berada di peringkat ke-40 di antara 181 negara rentan bencana, demikian menurut World Risk Index tahun 2020.

Untuk itu, kita membutuhkan banyak satelit inderaja. Tentu kita tidak ingin hidup hanya bergantung dari faktor kemujuran.

Untungnya, siapapun presidennya, Indonesia terbilang sigap menangani bencana alam. Terlebih kita telah belajar dari peristiwa tsunami di Aceh dan Mentawai pada Desember 2004 lalu.

Anggaran darurat penanganan bencana selalu tersedia di alokasi APBN dalam item cadangan bendahara umum negara. Perinciannya untuk tangani bencana anggarannya mencapai Rp11,5 Triliun yang terdiri dari dana cadangan bencana Rp3,5 triliun, dan dana cadangan bersama atau pooling fund bencana (PFB) Rp8 triliun.

Saya berharap, instrumen PFB ini dapat diambil segera jika ada peristiwa bencana alam luar biasa. Semoga dengan anggaran ini ada alokasi untuk penambahan satelit inderaja.

Butuh pemetaan mitigasi yang konkret

Dalam penanganan bencana, respon cepat dan 'gercep' amat dibutuhkan. Maklum, situasi darurat yang mengharuskan penanganan segera. Namun kendala lainnya, seringkali akurasi kebutuhan pengungsi menjadi masalah tersendiri.

Banyak kita jumpai bantuan-bantuan makanan yang akhirnya busuk karena dapur umum yang belum siap atau suplai makanan berlebih. Atau juga bantuan pakaian yang teronggok karena ukuran pakaian tidak sesuai dengan rata-rata usia pengungsi.

Hingga saat ini saya melihat belum banyak yang mencoba mengatasi persoalan tersebut dengan mengembangkan dasbor yang berfungsi menghitung secara akurat detail pengungsi, jenis dan jumlah kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat.

Fungsinya adalah optimalisasi bantuan agar terserap maksimal dan tepat sasaran. Purwarupa ini berangkat dari kekhawatiran terjadinya berlebihnya jenis bantuan yang mengakibatkan tidak terserap.

Boleh jadi dengan menggerakkan komunitas relawan, penerapkan purwarupa ini bertujuan agar masyarakat dan wilayah yang terkena bencana alam mendapatkan bantuan yang tepat sasaran. Dengan pemantauan real time, stok kecukupan bantuan dapat terpantau, dan kekurangan menjadi mudah diatasi.

Sebagai negara yang berada di atas cincin api, sudah sepatutnya Indonesia mengembangkan berbagai teknologi agar kita selalu bersiap dengan yang terjadi.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Fauzan Luthsa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Fauzan Luthsa.

Tertarik menjadi Kolumnis GNFI?
Gabung Sekarang

FL
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini