Indonesia Mulai 'Berburu' Drone-Drone Tempur Buatan Turki

Indonesia Mulai 'Berburu' Drone-Drone Tempur Buatan Turki
info gambar utama

Ketika Pasukan Rusia memulai operasi militernya ke Ukraina 14 Februari lalu, dunia seakan menahan nafas, dan memperkirakan Kiev (ibukota Ukraina) akan jatuh ke tangan Rusia dalam beberapa hari saja.

Dunia menyaksikan jalannya peperangan di berbagai front melalui berbagai kanal media. Yang tidak terduga pun terjadi, ternyata pertempuran berlangsung jauh lebih lama dari yang diperkirakan banyak orang.

Meskipun Rusia mampu menguasai wilayah Ukraina yang cukup luas di wilayah timur, dan Kiev pun akhirnya tidak jatuh, militer Rusia memilih mundur dari pinggiran Kiev dan mengurungkan niat menjatuhkan ibukota tersebut, dan memilih memfokuskan kekuatannya di wilayah yang sudah mereka kuasai, atau setidaknya akan lebih mudah mereka kuasai.

Bayraktar TB2| gambar: Screenshot Youtube King of Military
info gambar

Banyak yang kemudian bertanya-tanya, bagaimana pasukan yang begitu kuat seperti Rusia yang didukung alutsista tercanggih, begitu kesusahan menghadapi kekuatan tempur Ukraina yang di hari-hari awal seolah tidak ada perlawanan? Tentu banyak teori, namun kali ini, kita akan fokus pada salah satu faktor, yakni penggunaan drone-drone tempur oleh militer Ukraina untuk melawan dan menyerang balik pasukan Rusia.

Benar, itulah drone Bayraktar TB2 buatan Turki yang dibeli Ukraina sebelum perang, yang membawa rudal kecil namun akurat, dan berharga relatif murah. Video-video penghancuran alutsista Rusia direkam melalui drone dan disebarluaskan di sosial media seluruh dunia.

Lagi-lagi, kita terkesima bagaimana pesawat tanpa awak yang kecil tersebut mampu menghancurkan puluhan tank dan kendaraan lapis baja yang berharga jutaan dolar AS.

Sebelumnya, kita juga menyaksikan bagaimana pasukan drone Azerbaijan mampu merebut kembali Nagorno-Karabakh dari Armenia, dan mengusir tentara Armenia dengan cepat.

Bayraktar TB2 adalah salah satu drone yang dibuat oleh Turki dan pertama kali dikerahkan pada 2018 lalu. Bayraktar TB2 telah menunjukkan efisiensinya ketika beroperasi di wilayah udara yang diperebutkan.

Selain di Azerbaijan dan Ukraina, Bayraktar juga dikerahkan di Libya, di mana antara 2019 dan 2020 kubu GNA yang didukung Turki mengerahkan banyak drone Bayraktar TB2 selama konfliknya dengan Tentara Nasional Libya (LNA) yang didukung Rusia.

Di medan perang Ukraina, pasukan Ukraina menerjunkan drone Bayraktar TB2 untuk mengintai sistem rudal dan peralatan tempur Rusia lainnya dan kemudian menghancurkannya. Bayaraktar TB2 sempat dikabarkan berhasil melumpuhkan senjata Rusia dari jarak 8 km.

Geopolitical Monitor melaporkan, Bayraktar TB2 adalah salah satu UAV buatan Turki yang membuat negara tersebut bangkit menjadi negara adidaya (superpower) drone.

Keberhasilan drone-drone buatan Turki rupanya melampaui perang perang proksi bahkan perang konvensional itu sendiri. Turki kini menjelma menjadi negara produsen alutsista utama, dengan drone sebagai ujung tombaknya.

Kemampuan dan reputasi tinggi Bayraktar inilah yang membuat Kementerian Pertahanan RI kepincut untuk meminan drone tersebut. Apalagi, Indonesia sendiri juga sedang membutuhkan drone tempur untuk melengkapi pertahanannya, dan Turki bisa menyelipkan proposal penawaran drone-drone Bayraktar maupun TAI di sana.

Apalagi sebelum kelahiran Bayraktar TB2, Turki dan Indonesia sudah bekerja sama membuat drone militer. Kerja sama kedua negara ini mencakup berbagai penelitian drone kategori MALE (Medium Altitude Long Endurance).

Kerja sama yang sudah dimulai sejak 2008 silam lalu ini akhirnya menghasilkan drone tempur. Turki mendapat drone ANKA dan Indonesia membuat Elang Hitam. Perbedaannya adalah, jika Elang Hitam Indonesia masih sebatas prototipe, ANKA sudah resmi operasional di angkatan bersenjata Turki.

Drone Elang Hitam | wikimedia commons
info gambar

Berita mengenai keinginan Indonesia untuk mengakuisisi drone dari Turki ini diwartakan oleh situs oryxspioenkop (29/1/2022), yang mengutip sebuah wawancara SavunmaTR Turki dengan Duta Besar Indonesia untuk Turki, Dr. Lalu Muhammad Iqbal.

Dalam wawancara tersebut diungkapkan bahwa Indonesia sedang mendiskusikan kemungkinan memperoleh drone dari Turki.

Media alutsista Oryx mengatakan drone ini akan mampu memperkuat kerja Angkatan Laut RI yang memiliki wilayah yang berbentuk kepulauan.

"Jika Indonesia membeli drone Baykar Akinci atau TAI Aksungur (drone buatan Turki lainnya), itu akan memberikan negara Asia Tenggara aset serangan jarak jauh," papar salah satu penulis Oryx, Stijn Mitzer.

Namun demikian, tidak disebutkan drone apa yang akan dibeli oleh Indonesia itu nantinya. Di antara beberapa kandidat yang dapat saja menjadi pilihan adalah drone MALE (medium-altitude long-endurance) TB2/TB3 dari Bayraktar dan Anka buatan Industri Dirgantara Turki (TA).

Di atasnya, tersedia drone kelas yang lebih berat yakni drone Akinci dari Bayraktar dan Aksungur buatan TA, keduanya dibekali mesin turboprop ganda.

Drone TA Aksungur | airspace-review.com
info gambar

Di Asia Tenggara, relatif sedikit negara yang saat ini memiliki kemampuan drone tempur (UCAV). Hanya Indonesia dan Myanmar yang sejauh ini telah memperoleh UCAV, dengan Thailand dan Vietnam saat ini dalam proses mengembangkan drone bersenjata asli.

Malaysia akan memperoleh UAV medium-altitude long-endurance (MALE) dalam waktu dekat, dan TAI Anka Turki saat ini tampaknya menjadi kandidat yang disukai di Malaysia.

Malaysia sendiri sepertinya belum mengejar kemampuan drone bersenjata, dan masih berfokus pada drone intai, meskipun sangat mungkin pada akhirnya akan mempersenjatai UAV MALE-nya di masa depan.

Indonesia sendiri kini mengoperasikan enam UCAV CH-4B Rainbow yang dibeli dari China sejak 2019. CH-4B Indonesia dapat dipersenjatai dengan rudal udara-ke-darat (AGM) dan telah terlihat dilengkapi dengan relai komunikasi atau pod intai.

CH-4B Rainbow | oryxspioenkop.com
info gambar

Ketertarikan Indonesia pada drone-drone tempur buatan Turki, terutama yang dirancang oleh Baykar Tech, menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengincar UCAV tambahan seperti Bayraktar TB2 untuk melengkapi CH-4B atau drone yang menawarkan kemampuan yang sepenuhnya baru.

Indonesia memperoleh CH-4B-nya dengan tujuan awal untuk tujuan membangun doktrin dan melatih kru tentang penggunaan UCAV MALE, dan saat ini tampaknya tidak mungkin bahwa lebih banyak CH-4B akan diperoleh.

Khususnya Bayraktar TB3, Akıncı dan TAI Aksungur dapat menawarkan kemampuan baru kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Bayraktar Akinci | Bayraktar
info gambar

Apa yang membedakan Akıncı dari UCAV lainnya adalah kemampuannya di masa depan untuk membawa rudal udara-ke-udara (AAM). Radar AESA Akıncı memungkinkannya untuk menemukan target pada jarak yang jauh, dan kemudian menyerang mereka dengan MANPADS Sungur, AAM yang dipandu IR Bozdoğan, atau BVRAAM Gökdoğan dengan jarak 100+ km.

Paket persenjataan Akıncı berlanjut dengan persenjataan rudal dan bom berpemandu presisi yang memberikan kemampuan serangan jarak jauh, sementara pengangkutan lebih dari 18 amunisi MAM-L menjadikannya aset ideal untuk memberikan dukungan udara kepada pasukan darat.

TAI Aksungur juga mampu membawa sejumlah amunisi produksi Turki jarak jauh, dan merupakan UCAV kedua di dunia yang dapat dilengkapi dengan pod dispenser untuk sonobuoy untuk tujuan perang anti-kapal selam (ASW).

Bayraktar Akinci | oryxspioenkop.com
info gambar

Sementara kemungkinan akuisisi Akıncı atau Aksungur memberi TNI kemampuan serangan jarak jauh, Bayraktar TB2 yang lebih kecil (atau Anka, meskipun jenis ini sebelumnya kalah dari CH-4B dalam kompetisi UCAV Indonesia) dapat memenuhi persyaratan untuk UCAV tambahan sebelum Elang Hitam beroperasi penuh di masa depan.

Pilihan untuk memasang komunikasi satelit (SATCOM) ke Bayraktar TB2 sementara itu berarti jangkauannya hanya dibatasi oleh daya tahannya selama 27 jam.

Keinginan Indonesia untuk memperoleh drone dari Turki juga dapat dilihat dari minat terhadap Bayraktar TB3, yang dirancang sebagai versi lebih berat dari TB2 yang juga dapat beroperasi dari kapal induk dan landing helicopter dock (LHD).

Angkatan Laut Indonesia telah bereksperimen dengan menggunakan UAV LSU (LAPAN Surveillance UAV)-02 asli dari dek helikopter KRI Diponegoro.

Meskipun LSU-02 hanya dapat lepas landas dari kapal dan sama sekali tidak mewakili kemampuan operasional sebuah drone masa kini, pengujian tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa Indonesia tertarik untuk mengoperasikan UAV sayap tetap yang diangkut kapal.

LSU 02 lepas landas dari KRI Diponegoro | wikimedia commons
info gambar

Angkatan Laut Indonesia saat ini mengoperasikan armada tujuh dermaga platform pendaratan (LPD), tiga di antaranya dilengkapi sebagai kapal rumah sakit. Sebagian besar LPD dibangun oleh PT PAL Indonesia, yang memperoleh lisensi untuk membangun kelas Makassar bekerja sama dengan Dae Sun Shipyard Korea Selatan.

Pada Juni 2014 PT PAL menandatangani kontrak senilai $92 juta untuk pengiriman dua LPD ke Angkatan Laut Filipina.

Meskipun dikirimkan tanpa banyak sistem yang dianggap standar pada kapal-kapal kontemporer di negara-negara Barat, harga satuan yang rendah sekitar $45 juta berarti bahwa kapal-kapal ini sekarang sebenarnya dapat dicapai secara finansial untuk negara-negara seperti Indonesia dan Filipina.

Saat ini diyakini bahwa Angkatan Laut Indonesia berencanan untuk memiliki beberapa kapal Landing Platform Helicopter (LPH) dalam satu dekade mendatang. Pada tahun 2018 PT PAL meluncurkan desain LPH sepanjang 244 meter yang kemungkinan akan menjadi dasar desain yang akan ditawarkan kepada Angkatan Laut Indonesia.

Mirip dengan TCG Anadolu LHD Turki, desain LPH memiliki fitur lift belakang besar yang dapat memindahkan helikopter dan U(C)AV besar ke dek penerbangan atau hanggar. Dirancang untuk digunakan dari kapal induk dan LPH sejak awal, Bayraktar TB3 dapat digunakan dari LPH Indonesia dengan sedikit modifikasi desain yang diperlukan.

Karena ukurannya yang kecil dan sayap yang dapat dilipat, banyak TB3 dapat dikerahkan di kapal bersama dengan helikopter ASW dan drone lainnya untuk menyediakan kapal induk (tak berawak) pertama bagi Indonesia.

Duta Besar Indonesia untuk Turki dengan jelas menyuarakan keinginan negaranya agar Turki 'juga berpartisipasi dalam transfer teknologi dan program untuk berbagai jenis UAV di masa depan'.

Pada tahun 2018 Turkish Aerospace Industries telah bermitra dengan PTDI untuk menawarkan Anka-S untuk kompetisi UCAV Angkatan Udara Indonesia, di mana CH-4B Rainbow buatan China akhirnya dinyatakan sebagai pemenang.

Kolaborasi di masa depan dapat mencakup transfer teknologi bersama dengan pengiriman UCAV Turki yang akan menguntungkan fase pengembangan akhir dari Elang Hitam asli, dengan pusat perakitan dan pemeliharaan untuk UAV Turki di Indonesia.

Sepertinya, layak kita tunggu.

Sumber dan referensi:

Oryx. “A Maritime Striker - Could Indonesia End up Operating the Bayraktar TB3?” Oryx, 31 Jan. 2022, https://www.oryxspioenkop.com/2022/01/a-maritime-striker-could-indonesia-end.html.

Oryx. “Indonesia Eyes Turkish Drones - but Which Types?” Oryx, 30 Jan. 2022, https://www.oryxspioenkop.com/2022/01/indonesia-eyes-turkish-drones-but-which.html.

Santoso, Beryl. “Turki Tawari Indonesia Bayraktar TB2 Dan Ingatkan Jangan Beli Drone Dari China.” Zona Jakarta, 15 Mar. 2022, https://zonajakarta.pikiran-rakyat.com/teknologi/pr-183982176/turki-tawari-indonesia-bayraktar-tb2-dan-ingatkan-jangan-beli-drone-dari-china?page=5.

Sawiyya, Author Rangga Baswara. “Indonesia Mengincar Drone Intai Serang Dari Turki?” Airspace Review, 30 Jan. 2022, https://www.airspace-review.com/2022/01/30/indonesia-mengincar-drone-intai-serang-dari-turki/.

Sontani, Author Roni. “Drone Aksungur Buatan Turki Terbang 28 Jam Membawa 12 Munisi Mam-L.” Airspace Review, 19 Sept. 2020, https://www.airspace-review.com/2020/09/19/drone-aksungur-buatan-turki-terbang-28-jam-membawa-12-munisi-mam-l/.

“Rise of a ‘Drone Superpower?" Turkish Drones Upending Russia's near Abroad.” Geopolitical Monitor, 10 Feb. 2021, https://www.geopoliticalmonitor.com/turkish-drones/.

Pristiandaru, Danur Lambang. “Bayraktar TB2, Simbol Kebangkitan Turki Jadi Negara Adidaya Drone Halaman All.” KOMPAS.com, Kompas.com, 2 Oct. 2021, https://www.kompas.com/global/read/2021/10/02/204947870/bayraktar-tb2-simbol-kebangkitan-turki-jadi-negara-adidaya-drone?page=all.

Pristiandaru, Danur Lambang. “Bayraktar TB2, Simbol Kebangkitan Turki Jadi Negara Adidaya Drone Halaman All.” KOMPAS.com, Kompas.com, 2 Oct. 2021, https://www.kompas.com/global/read/2021/10/02/204947870/bayraktar-tb2-simbol-kebangkitan-turki-jadi-negara-adidaya-drone?page=all.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini