Memahami Penerapan Hukum Adat dan Pelestarian Budaya di Desa Bayan

Memahami Penerapan Hukum Adat dan Pelestarian Budaya di Desa Bayan
info gambar utama

Dengan keragaman suku bangsa dan budaya, ada begitu banyak hal menarik yang dapat dijelajahi di Indonesia. Meski zaman kian modern dan segala hal menjadi lebih canggih, negara kita masih punya desa-desa adat yang bertahan dan masih menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal dan tradisi yang telah turun-temurun dari nenek moyang.

Sangat berbeda dengan kehidupan sehari-hari di perkotaan, desa adat pun kemudian menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Di sana, wisatawan dapat melihat langsung bagaimana masyarakat masih hidup dengan cara-cara tradisional, menjalankan berbagai tradisi, serta belajar mengenai cara mereka melestarikan jati diri wilayahnya di tengah gempuran modernisasi.

Salah satu desa adat yang dapat dikunjungi untuk berwisata adalah Desa Bayan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Desa yang terletak di lereng utara Gunung Rinjani ini termasuk dalam Kawasan Adat Bayan.

Kawasan Adat Bayan sendiri menaungi beberapa desa di wilayah Lombok Utara dan Lombok Timur, termasuk Desa Bayan, Desa Karangbajo, dan Desa Senaru. Di antara tiga desa tersebut Desa Bayan merupakan pusat adat dari Suku Bayan dan Suku Sasak di Lombok.

Sebelum mengunjungi Desa Bayan, berikut beberapa hal menarik yang perlu diketahui mengenai desa adat tersebut.

Bukan di Lombok, Objek Wisata Pantai Gili Juga Ada di Pulau Jawa

Rumah adat dan kegiatan adat di Desa Bayan

Di Desa Bayan, pengunjung dapat melihat bangunan rumah adat dengan unsur tradisional yang ada di setiap dusun, seperti Rumah Adat Bayan Timur, Rumah Adat Bayan Barat, Rumah Adat Karang Salah, Rumah Adat Perumbak Daya.

Bangunan khas Desa Bayan ini biasa digunakan untuk tempat melangsungkan berbagai acara adat seperti maulid adat, lebaran adat, serta ritual ngaji makam atau yang dikenal dengan sebutan ngaturan ulak kaya.

Desa Bayan dikenal memiliki tatanan sosial dan hukum adat yang mengikat pada keseluruhan aspek kehidupan masyarakatnya, juga mengatur hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta, alam, dan sesama manusia. Selain itu, desa ini juga menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan dan menjunjung tinggi nilai-nilai lokal.

Selain rumah adat, di Desa Bayan juga ada banguna tradisional lain seperti Berugak, Geleng, dan Bale Mengina. Baregak adalah bale panggung yang biasa dipakai masyarakat untuk menerima tamu dan bersosialisasi. Sedangkan geleng merupakan bangunan untuk lumbung pangan di desa. Sementara Bale Mengina berfungsi sebagai bangunan tempat tinggal masyarakat Bayan.

Uniknya Danau di Atas Awan Taman Nasional Lorentz

Wisata Air Terjun Singang Petune

Salah satu objek wisata alam unggulan di Desa Bayan adalah Air Terjun Singang Petune. Lokasinya berada di Dusun Teres Genit dan masuk dalam kawasan Hutan Adat Bangket Bayan. Air terjun tersebut memiliki ketinggian 35 meter dan sumber airnya berasal dari mata air di Bangket Bayan.

Dari Dusun Genit, dibutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan sampai ke air terjun yang lokasinya tak jauh dari kaki Gunung Rinjani ini. Sepanjang perjalanan, pemandangannya pun tak akan membosankan karena akan disuguhkan dengan panorama kebun kopi, persawahan, dan hutan adat.

Berada di tengah hutan membuat suasana di Air Terjun Singang Petune ini sungguh asri dan memiliki pemandangan yang memukau. Kemudian, tak jauh dari air terjun, pengunjung juga bisa melihat area sawah terasering yang tak kalah indah dari objek serupa di Ubud, Bali.

Bledug Kuwu, Fenomena Semburan Lumpur dan Pengolahan Garam di Jawa Tengah

Kompleks Masjid Kuno

Masjid Kuno Bayan Beleq yang ada di Desa Bayan ini bukanlah rumah ibadah biasa melainkan peninggalan terbesar yang menjadi saksi bisu penyebaran agama Islam di Lombok, khususnya daerah Bayan.

Masjid tersebut juga sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya yang dilindungi. Bangunannya sangat ikonik karena masih terbuat dari anyaman bambu dan fondasinya dari batu kali. Di kompleks Masjid Kuno, pengunjung bisa menemukan beberapa bangunan seperti Masjid Kuno Bayan Beleq, makam Pelawangan, makam Penghulu, makam Sesait, makam Rea, makam Karang Salah, dan Makam Anyar.

Ada berbagai kegiatan yang rutin diadakan di masjid kuno, misalnya Muharram atau bubur putih pada awal tahun baru Islam, Safar atau bubur abang, Rabiul Awal atau Maulid Nabi Muhammad SAW, Sya’ban, Ramadan, Syawal, Lebaran Haji, dan mengaji malam atau pengajian di makam leluhur.

Untuk masuk ke area masjid kuno, ada beberapa aturan yang wajib dipatuhi pengunjung. Misalnya masuk menggunakan pakaian adat, harus izin petugas terlebih dahulu, mengisi buku kunjungan, menjaga kebersihan selama berada di lingkungan masjid, dan bagi perempuan yang sedang haid tidak diperkenankan masuk ke masjid dan bangunan di dalamnya.

Dijuluki Pulau Seribu Masjid, Ini Deretan Masjid Megah dan Bersejarah di Lombok

Hutan adat dan kaitannya dengan hukum adat

Di Desa Bayan, terdapat hutan adat yang penting bagi masyarakatnya dan secara keseluruhan diatur dalam hukum adat. Terdapat delapan hutan adat di Desa Bayan, yaitu Hutan Adat Pangempokan, Bangket Bayan, Tiurarangan, Mandala, Lokoq Getaq, Singang Borot, Sambel, dan Montong Gedeng.

Guna melestarikan hukum adat, masyarakat Desa Bayan menerapkan awiq-awiq atau sanksi kepada siapa saja yang melanggar. Setidaknya ada lima aturan dalam hukum adat Desa Bayan, yaitu dilarang mengambil, memetik, mencabut, menebang, menangkap satwa, dan membakar pohon atau kayu mati di kawasan hutan adat.

Kedua, dilarang menggembala hewan ternak di sekitar dan di dalam kawasan hutan adat karena berisiko merusak flora dan fauna yang tumbuh di hutan. Selanjutnya, dilarang mencemari sumber mata air di kawasan hutan adat, juga dilarang meracuni Daerah Aliran Sungai (DAS) menggunakan fottas, decis, setruman, dan lainnya di sekitar hutan dan di luar kawasan hutan adat. Terakhir, bagi siapapun yang menggunakan air, diwajibkan membayar iuran kepada pengelola hutan dan sumber mata air.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini