Tradisi Pemanfaatan Hewan sebagai Obat dalam Naskah-Naskah Jawa

Tradisi Pemanfaatan Hewan sebagai Obat dalam Naskah-Naskah Jawa
info gambar utama

Kajian model pengobatan menggunakan hewan di Indonesia masih sangat langka. Kajian tentang hewan hanya terpusat sebagai makanan manusia bukan sebagai obat. Padahal di tanah air tradisi pengobatan herbal sudah berkembang sekian lama.

Di Jawa misalnya, pengobatan tradisional menurut primbon Jawa selalu didominasi dengan cara-cara herbal. Selain itu pengobatan akan dilengkapi dengan perhitungan seperti hari pasaran, baik tentang hari kelahiran, sosok yang sakit, saat sakit, atau cara pengobatannya.

Bani Sudardi dalam Konsep Pengobatan Tradisional Menurut Primbon Jawa menyatakan bahwa dalam masyarakat Jawa tradisi pengobatan dengan hewan ada berbagai bentuk. Tradisi itu, jelasnya, sudah berlangsung dari generasi ke generasi.

Beberapa tradisi, ucap Bani, kemungkinan berasal dari luar budaya Jawa yang masuk kedalam seiiring dengan pergaulan masyarakat, misalnya pengobatan dengan hati unta, kadal mesir dan ramuan kobra.

Dalam tradisi Jawa tidak ditemukan naskah yang khusus membahas pengobatan dengan model pengobatan hewan. Hanya sedikit yang menggunakan bahan dari binatang, seandainya ada pada umumnya berupa telur ayam saja.

Dari Kasturi Hingga Gandapura, Ini Daftar Minyak Gosok Termasyhur di Tanah Air

“Hal ini sesuai dengan pengertian Jawa bahwa jamu itu berasal dari empon-empon yang berarti dari tanaman seperti kurir, jahe, sunti, dan sebagainya,” ucap Bani.

Salah satu sumber informasi tentang pelaksanaan pengobatan dengan hewan adalah Serat Centhini. Serat ini merupakan serat dari masa Jawa yang berisi tentang berbagai pengetahuan dalam kebudayaan Jawa.

Dalam Serat Centhini Jilid 1 disebutkan adanya deskripsi tentang burung pelatuk bawang dan monyet jenis kukang (lutung). Dua binatang itu memiliki khasiat, di antaranya ialah untuk kesehatan.

Sumber lain yang mengandung informasi tentang pengobatan hewan dalam masyarakat Jawa adalah berupa primbon. Salah satu naskah primbon yang memberikan informasi pengobatan hewan adalah Primbon Atmasupana.

Salah satu contohnya adalah pengobatan dengan bajing gendhu. Dalam tradisi lisan, bajing digunakan untuk menyembuhkan diabetes (kencing manis). Menurut buku ini, bagi pria yang mandul, bisa dapat diobati dengan cara menelan zakar bajing.

Kitab Primbon Atmasupana juga menginformasikan pengobatan dengan kancil, suatu binatang yang sekarang sudah langka di Jawa. Diceritakan bahwa lemak kancil dapat digunakan untuk mencegah penyakit apabila dioleskan di tangan.

“Pada umumnya praktek pengobatan ini masih diliputi hal-hal yang bersifat mistis. Namun demikian, substansi pengobatannya akan sangat baik apabila terdokumen dan dikenali masyarakat,” ujar Murtini dan kawan-kawan dalam Praktik Zoo Therapy dalam Catatan Naskah-naskah Jawa.

Manfaat binatang dalam pengobatan Jawa

Pada konsep pengobatan tradisional Jawa yang memiliki pandangan kosmologi tentang penyakit, mereka memandang penyakit tidak saja pada apa yang menyebabkan sakit, melainkan juga bagaimana dan mengapa orang menjadi sakit.

Sakit sebagai rangkaian hubungan antara individu dan lingkungan ini, membuat berbagai penyakit yang datang dipercaya sebagai guna-guna. Karena itulah, banyak yang tidak membawa ke dokter modern.

Bani Sudardi dalam Manfaat Binatang dalam Tradisi Pengobatan Jawa menyebut ada beberapa tradisi pengobatan hewan di masyarakat. Dirinya mengklasifikasi berdasarkan kelompok jenis hewan.

Pada kelompok mamalia, ujar Bani, beberapa bagian dari kambing dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Kikil dipercaya dapat meningkatkan kekuatan kaki, khususnya bagi orang tua yang merasa lemah.

Kikil dan daging kambing juga dipercaya dapat meningkatkan kekuatan seksual. Bagian dari daging yang dipercaya paling manjur untuk tujuan tersebut adalah lodok (sumsum tulang belakang) yang dimakan mentah.

Empedu kambing juga dimanfaatkan untuk pengobatan, salah satunya untuk meningkatkan kesehatan. Kotoran kambing juga dipercaya dapat menurunkan panas tinggi pada penyakit anak-anak.

Binatang jenis reptil, katanya, juga digunakan untuk obat dengan cara dimakan. Pada umumnya digunakan sebagai obat penyakit kulit, yaitu ular, cecak, tokek, dan kadal. Cicak dapat digunakan untuk obat step.

Ramuan kobra dipercaya dapat menyembuhkan penyakit kulit dan diabetes. Minyak bulus dapat membuat zakar kuat dan tegang. Cara penggunaannya juga sangat sederhana, biasanya reptil ini dikuliti dahulu, kemudian dagingnya dimasak lalu dimakan.

Tumpuroo dan Sanro: Tabib Tradisional Pelestari Adat dari Suku Moronene

Bani menyebut unggas juga dipercaya sebagai obat. Telur ayam kampung menyehatkan badan, baik untuk semua umur. Otak dan jengger ayam dapat digunakan untuk menyerap racun ular dengan cara ditempelkan ketika masih segar.

Bahkan, katanya, jenis serangga juga sering digunakan untuk obat. Kepompong ulat pisang dapat mengobati sariawan dengan cara digoreng lalu dimakan. Lebah juga menyembuhkan penyakit dengan cara metode sengat lebah.

Sedangkan golongan moluska, kata Bani juga dijadikan obat seperti bekicot yang dipercaya dapat mengobati beri-beri dengan cara memakan dagingnya, Bekicot juga dapat menyembuhkan luka baru dengan liurnya.

Tradisi yang semakin langka

Masyarakat Jawa memang telah ratusan tahun memiliki sistem pengobatan tradisional. Sistem pengobatan tersebut sampai sekarang memang masih tumbuh subur bahkan menjadi industri.

Misalnya sekarang masih dikenal berbagai jenis jamu yang dikemas secara modern seperti Perusahaan Air Mancur, Sido Muncul, Jamu Jago, Deltomed, dan lain-lain. Bahkan sebagian diwujudkan dalam bentuk pil dan kapsul layaknya obat-obatan modern.

Bani menyebut obat-obatan tradisional dapat dibagi dua, yaitu obat yang menggunakan bahan-bahan dari tumbuhan (herbal medicine) dan obat-obatan yang berbahan dari binatang (animal medicine).

Tetapi kini, herbal medicine memang lebih maju, sedangkan animal medicine mulai tersisih dari dunia pengobatan sejak tahun 1960 an. Hal ini memang terjadi karena beberapa hewan tertentu mulai dirasakan kelangkaannya.

Namun secara internasional animal medicine tidaklah lenyap. Pengobatan ini malah menjadi atraksi wisata seiring dengan booming pariwisata. Animal medicine dianggap sebagai salah satu pengalaman eksotik dan dikemas dalam pariwisata.

Di China, India, dan Thailand termasuk negara-negara yang mengembangkan animal medicine sebagai salah satu atraksi wisata. Hal tersebut baginya, menjadi peluang bagi masyarakat Jawa untuk membangun industri animal medicine.

Sambiloto, Tanaman Pahit yang Dipercaya Bisa Cegah Covid-19

Bani yang melakukan penelitian mengaku menemukan tradisi pengobatan menggunakan daging kuda di Yogyakarta, khususnya di wilayah Kotagede. Daging kuda memang dipercaya mampu meningkatkan stamina tubuh.

Bagian kuda yang biasanya digunakan untuk pengobatan, jelasnya, ialah bagian penis sehingga sering disebut sate konthol jaran. Bagian penis ini dipercaya dapat menyembuhkan penyakit asma dan penyakit pernafasan lainnya.

Pengobatan ular kobra, jelasnya juga menjadi bisnis di Solo dan sekitarnya. Terdapat beberapa warung yang menjual makanan khusus olahan daging ular kobra dengan aneka varian resep seperti tongseng, rica-rica goreng, dan sebagainya.

“Seekor kobra yang disembelih akan ditampung darah dan diambil empedunya. Kedua benda ini dianggap berkhasiat,” katanya.

Biasanya makanan ini akan dicampur jenewer (wiski/minuman keras Jawa), darah dan empedu diminum khusus. Menurutnya harga olahan lengkap satu ekor kobra pada tahun 2010 adalah sekitar Rp35-Rp50 ribu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini