170 Tahun Kebun Raya Cibodas: Wisata Edukasi hingga Upaya Konservasi Tumbuhan

170 Tahun Kebun Raya Cibodas: Wisata Edukasi hingga Upaya Konservasi Tumbuhan
info gambar utama

Kebun Raya Cibodas (KRC) yang berada di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, baru saja memperingati hari jadinya yang ke-170. KRC didirikan pada 11 April 1852 oleh Johannes Ellias Teijsmann, seorang kurator Kebun Raya Bogor. Pada awal pendirian, KRC masih bernama Bergtuin te Tjibodas atau Kebun Pegunungan Cibodas.

KRC awalnya merupakan tempat aklimatisasi tumbuhan dari luar negeri yang memiliki nilai penting dan ekonomi tinggi seperti pohon kina. Namun, seiring berjalanya waktu, KRC kemudian menjadi bagian dari Kebun Raya Bogor dengan nama Cabang Balai Kebun Raya Cibodas.

Sejak tahun 2003, status KRC menjadi lebih mandiri sebagai Unit Pelaksana Teknis Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Cibodas di bawah Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor dalam kedeputian Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang sekarang menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Berlokasi di kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango pada ketinggian kurang lebih 1.300 – 1.425 meter di atas permukaan laut, KRC telah lama menjadi tujuan wisata edukasi dan wisata alam. Dengan udara yang sejuk dan lokasi nan asri, KRC bisa jadi salah satu tujuan liburan yang menyenangkan.

Dramatis, 4 Hewan Ini Hanya Kawin Sekali Seumur Hidup Lalu Mati

Jelajah Kebun Raya Cibodas

Kebun Raya Cibodas | Wikimedia Commons
info gambar

KRC diketahui memiliki berbagai area taman untuk dijelajahi di maana setiap taman punya kekhasan masing-masing. Salah satunya adalah Taman Sakura yang dibuat tahun 2007 untuk memperkaya taman tematik di KRC. Di Taman Sakura, pengunjung bisa melihat lima jenis sakura yang biasanya berbunga dua kali setahun dan mekarnya bunga ini akan bertahan sekitar empat hari.

Selanjutnya ada Taman Rhododendron dengan koleksinya berbagai tanaman Rhododendron dari berbagai negara. Di taman ini pengunjung bisa menemukan Rhododendron javanicum atau dikenal dengan sebutan Azalea Jawa. Tanaman endemik ini memiliki bunga berwarna oranye dan termasuk tahan rontok sampai seminggu walau sudah dipotong.

Kemudian ada pula area Taman Obat seluas 3.000 meter persegi dengan koleksinya 164 jenis tanaman obat, salah satunya daun pegagan alias Centella asiatica. Dari Taman Obat, kita bisa mengunjungi Taman Lumut yang unik. Area ini memang dirancang serupa habitat lumut di alam, yaitu ada batang pohon, tanah, dan batu-batuan. Dengan kondisi yang lembap, koleksi di taman ini ada 134 jenis tanaman.

Lalu ada Taman Liana, taman tematik yang dipenuhi tumbuhan liana. Diketahui liana merupakan tumbuhan yang dapat memanjat tumbuhan lain yang lebih besar atau tinggi demi mendapatkan cahaya matahari. Untuk koleksi liana di taman ini berasal dari eksplorasi di Aceh, Bengkulu, Jambi, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.

KRC juga memiliki koleksi tanaman paku-pakuan sebanyak 101 jenis dari berbagai daerah, termasuk paku kudang dan paku simpai. Tanaman paku biasanya dimanfaatkan untuk bahan pangan, tanaman hias, bahan kerajinan tangan, bahkan menjadi bahan obat tradisional.

Pengunjung juga kana menemukan rumah kaca di KRC yang menyimpan berbagai koleksi agar sesuai dengan suhu di habitat aslinya. Beberapa tumbuhan di rumah kaca antara lain 98 jenis kaktus, 262 jenis anggrek, dan 71 jenis sukulen.

Setelah puas melihat koleksi tanaman, pengunjung bisa melanjutkan penjelajahan ke area air terjun. Di KRC terdapat dua buah air terjun yaitu Ciismun dan Cibogo. Air terjun Ciismun memiliki ketinggian sekitar 25 meter dan airnya mengalir di antara dua bukit yaitu Gunung Batu dan Bukit Cibodas. Sedangkan, Air terjun Cibogo tingginya antara 15-18 meter dan memiliki kolam kecil di bawahnya. Lokasinya pun tak jauh dari pintu masuk utama.

Raja Udang Kalung Biru, Si Pemalu dari Pulau Jawa

Upaya perlindungan tumbuhan terancam punah

Anggrek hitam | Wikimedia Commons
info gambar

Sudah selama 170 tahun KRC menjadi lembaga konservasi tumbuhan ex-situ (konservasi di luar habitat asli) dan bertugas untuk melestarikan keanekaragaman tumbuhan sebagai koleksi rujukan yang bernilai ilmiah tinggi. KRC juga berperan dalam pengembangan potensi guna pemanfaatan secara berkelanjutan, serta dijadikan cadangan penting bagi upaya pemulihan jenis-jenis tumbuhan terancam kepunahan serta pemulihan lahan-lahan tergradasi.

KRC pun memfasilitasi berbagai kegiatan penilitian dan pengembangan di bidang konservasi, domestik dan reintroduksi tumbuhan serta botani ekonomi. Selain itu, menyajikan informasi yang lebih jelas bagi pengunjung. Sebagai salah satu tujuan wisata edukasi, KRC juga memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan di bidang botani, konservasi, lingkungan, pemanfaatan tanaman, untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian tumbuhan.

Dengan pengalaman tak sebentar, KRC diharapkan akan berperan secara aktif di tingkat nasional dan global dalam bidang konservasi tumbuhan. Salah satunya dengan meningkatkan jumlah populasi spesies tumbuhan yang terancam punah.

Kepala Organisasi Riset Ilmu Hayati dan Lingkungan BRIN, Iman Hidayat, mengatakan bahwa hubungan kerja sama yang sudah terjalin harus terus ditingkatkan, juga membangun jejaring baru dalam kolaborasi riset dan inovasi di bidang konservasi tumbuhan dengan multi stakeholder.

Menurut pernyataan Iman, KRC masih terbilang lemah dalam hal kerja sama riset dan inovasi, juga belum didukung dengan fasilitas riset yang memadai sesuai dengan perkembangan teknologi di bidang konservasi tumbuhan saat ini.

Fitri Kurniawati selaku Kepala Kantor KRC, mengatakan bahwa BRIN telah menyiapkan berbagai skema untuk memfasilitasi aktivitas riset dan inovasi, kerja sama, dan pengembangan capacity building. Adapun skema tersebut meliputi open platform fasilitas riset, pendanaan riset, dan pusat kolaborasi riset sehingga jumlah kolaborasi riset di KRC semakin meningkat.

Adapun berbagai kegiatan riset yang sudah dilakukan yaitu terkait tanaman eksotik invasif di KRC, kemajuan riset terkait biomassa hutan dan perannya dalam regulasi iklim, terutama pohon yang berukuran besar. Kegiatan lain terkait konservasi tumbuhan berpotensi ekonomi dan budaya serta domestikasi tumbuhan koleksi KRC. Penelitian ini juga tidak hanya khusus untuk peneliti BRIN, tetapi bisa berkolaborasi dengan instansi pemerintah maupun perguruan tinggi.

Peneliti Temukan Dua Spesies Burung Baru di Pegunungan Meratus

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini