Kesuburan Abadi, Buah Petaka Letusan Tambora

Kesuburan Abadi, Buah Petaka Letusan Tambora
info gambar utama

Sebelum April 1815 itu, Tambora tertidur panjang. Tanda-tanda kebangkitannya baru dimulai pada tahun 1812. John Crawfurd, dokter dari Skotlandia yang berlayar melewati Pantai Sumbawa pada tahun itu, melihat asap yang membumbung tinggi dari puncak Tambora.

Namun, 10.000 penduduk kerajaan yang berada di lereng gunung itu, Tambora, Pekat, dan Sanggar, tidak menyadari bahwa gunung tersebut telah terbangun. Periode letusan Tambora yang sangat panjang membuat aktivitas gunung ini tak terekam oleh masyarakat lokal.

Berdasarkan analisis geologi yang dilakukan belakangan, Tambora diduga pernah meletus pada tahun 740 dan 3050 Masehi. Tetapi letusan pada 1815 dianggap yang terkuat. Terkuat yang tercatat dalam sejarah manusia.

Saat meletus pertama pada Rabu sore itu, suara ledakannya terdengar keras hingga Batavia (Jakarta), Makassar, dan Ambon. Puncaknya pada 10 April 1815, ketika dentuman terdengar sangat kencang hingga Padang (Sumatra Barat) yang berjarak lebih dari 2.000 kilometer dari Tambora.

“Dentuman yang mirip suara meriam sehingga detasemen di Yogyakarta mengira telah terjdi serangan musuh,” tutur Sir Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jawa yang saat itu menguasai wilayah Hindia Belanda dimuat dari Seri Negeri Cincin Api: Tambora Mengguncang Dunia yang diterbitkan Litbang Kompas.

Terhentinya Langkah Sang Penakluk Eropa Karena 'Sengatan Listrik' dari Sumbawa

Kengerian letusan itu begitu mencekam saat Siti Maryam R Salahuddin membacakan Bo’Sangaji Kai, suatu sore di rumahnya di Bima. Maryam merupakan keturunan terakhir Sultan Bima, Muhammad Salahuddin (1888-1951).

Buku dengan lebar setengah meter tersebut merupakan warisan leluhurnya. Selain berisi kehidupan sosial dan politik Kerajaan Bima, pada halaman 87, buku pusaka beraksara Arab dengan bahasa Melayu lama itu mengisahkan letusan Gunung Tambora yang mengubur tiga kerajaan tetangganya.

“...setelah itu teranglah hari, terlihat rumah dan tanaman rusak semuanya, demikianlah adanya itu, yaitu pecah Gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad.”

Memang dibandingkan dengan letusan Gunung Vesuvius, Italia yang mencapai 35 km ke udara, letusan Tambora menciptakan kolom api hingga ketinggian 43 km, empat kali ketinggian jelajah pesawat terbang komersial,

Aliran awan panas itulah yang menghancurkan Semenanjung Sanggar, memusnahkan Kerajaan Tambora dan Pekat, serta menyisakan Kerajaan Sanggar yang sekarat. Korban juga berjatuhan karena bencana gagal panen.

“Korban yang selamat (dari letusan Tambora) terlalu lemah dan miskin untuk membayar biaya penguburan keluarganya yang mati,” tulis Bataviasche Courant pada 26 Oktober 1816 melaporkan suasana di Bali waktu itu.

Tambora yang tak pernah mati

Doro Afi Toi, gunung api kecil dalam bahasa Bima, terlihat samar di dasar Kaldera. Asap tipis mengepul dari sana, menandakan bahwa Tambora tidak benar-benar mati, tetapi hanya tertidur sambil diam-diam mengumpulkan kekuatannya.

Sebelum April 1815, lubang kaldera itu adalah bebatuan yang menjulang ketinggian 4.200 meter dari permukaan laut (mdpl). Letusan hebat telah melenyapkan nyaris separuh tubuh gunung, menyisakan ketinggian Tambora menjadi hanya 2.751 mdpl.

Letusan gunung ini tercatat sebagai yang paling terdahsyat dalam sejarah modern. Pada tahun 1818, perwakilan Pemerintah Belanda, Van den Broek memperkirakan dua pertiga dari 200.000 penduduk Lombok tewas.

Namun hampir 200 tahun setelah letusan, lereng Tambora kembali dipadati warga, bahkan jauh lebih ramai daripada sebelum letusan. Di kaki Tambora kehidupan juga berdenyut kencang. Perkebunan kopi menghampar luas.

Kehidupan baru memang cepat kembali ke Tambora. Pada tahun 1930-an, G BJorklund, seorang Swedia, membuka perkebunan kopi seluas 80.000 hektare di lereng barat laut gunung itu.

Misteri Istana Emas Tambora, Kenangan Kisah Kejayaan yang Terkubur Letusan Gunung

Sisa kebun kopi itu masih terlihat hingga kini, lengkap dengan mesin pengolah biji kopi, walau sudah mulai lapuk karena buruknya pengelolaan. Catatan kependudukan terbaru menyebutkan, jumlah penduduk Pekat dan Tambora mencapai 28.818 jiwa.

Merujuk dari Seri Negeri Cincin Api: Tambora yang Tidak Pernah Mati yang diterbitkan Litbang Kompas menyebut ledakan pendatang terjadi saat perusahaan penebangan hutan PT Veneer mendapat izin membabat hutan di lereng Gunung Tambora sejak tahun 1972.

Sejak kedatangan PT Veneer, sebagian petani juga mulai membuka kebun kopi sendiri dan perlahan membentuk perkampungan yang terpisah dari perkebunan kopi warisan era Belanda. Kampung ini kelak diberi nama Dusun Pancasila.

Kini, kawasan lereng Tambora kian padat. Di Desa Tambora setidaknya ada 750 keluarga dan sebagian besar di Dusun Pancasila, jumlahnya sekitar 350 keluarga. Walau sudah puluhan tahun tinggal di lereng Tambora, mereka tak memiliki ikatan sejarah dengan gunung.

Suniah, warga Dusun Pancasila, misalnya menganggap Gunung Tambora sekadar gundukan tanah yang tidak pernah meletus. Orang tuanya yang bekerja di PT Veneer juga tak pernah bercerita apa pun tentang gunung itu.

Letusan yang membawa kesuburan

Jejak petaka ini memang tidak terekam jelas dalam ingatan warga Pulau Sumbawa. Mereka hanya mengingatnya sebagai “zaman hujan au (abu)”, tetapi tak pernah secara langsung mengaitkannya dengan letusan Tambora.

Demikianlah halnya di Lombok. tahun-tahun sulit pada periode 1815 itu dikenal sebagai zaman pagebluk. Namun, tak pernah ada cerita bahwa pagebluk itu karena letusan gunung berapi.

Ingatan tentang bencana tertutup oleh kesuburan tanah yang muncul bertahun-tahun kemudian setelah letusan. Timbunan abu Tambora telah meningkatkan kesuburan tanah, terutama di Bali dan Lombok, yang mendapat banyak kiriman abu halus.

Dalam dua dasawarsa setelah letusan, Bali beralih dari daerah pengekspor budak menjadi pengekspor hasil bumi, terutama beras, kopi, nila dan babi. Ekspor terutama ke Singapura yang saat itu dikuasai Inggris.

Raja-raja Bali tak lagi menjual budak. Padahal menurut catatan sejarawan MC Ricklefs hingga sebelum letusan itu, raja-raja di Bali biasa menjual hingga 2.000 budak tiap tahun. Namun, 10 tahun setelah bencana itu, mereka justru kekurangan tenaga kerja untuk menggarap lahan pertanian yang subur.

Munculnya kekuatan Bali sebagai pengekspor sumber daya ini membuat Belanda akhirnya berusaha menguasai Bali, terutama karena kekhawatiran terhadap ketertarikan Inggris terhadap pulau itu.

Letusan Tambora juga mengubah peta politik lokal. Manggarai yang menjadi daerah taklukan Bima sejak 1661 serta diwajibkan menyetor budak, kayu manis, tikar, kuda, ayam, dan anjing tiap tahun kemudian menolak memberikan upeti setelah letusan Tambora.

Peradaban Tambora yang Terkubur

Tambora terbukti telah mengubah banyak hal, dari politik hingga kebudayaan, dalam skala lokal dan global. Namun letusan ini nampaknya tidak memberikan pelajaran apapun, karena warga tetap saja kembali bermukim di lereng Tambora.

Padatnya penduduk di Gunung Tambora seperti kisah klasik yang selalu berulang nyaris di setiap gunung berapi di Indonesia. Dengan segenap bahayanya, gunung berapi yang lerengnya diberkahi tanah subur adalah tempat yang selalu menarik.

Apalagi Gunung Tambora diyakini tak akan meletus dalam waktu dekat. Mantan Kepala Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG) Surono menyebut butuh waktu panjang bagi Tambora untuk mengumpulkan dayanya.

Walau begitu, nampaknya Tambora tidak boleh diabaikan. Seismograf mencatat gempa semakin sering terjadi, pada 29 Agustus 2011 tercatat 14 gempa vulkanik dalam diri Tambora. Hingga kini, aktivitas Tambora terus naik, dan warga yang kebingungan mulai panik.

“Tambora seharusnya menjadi objek penting bagi bangsa ini untuk belajar dan berefleksi bahwa kita hidup di bawah bayang-bayang gunung berapi,” kata arkeolog Bambang Budi Utomo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini