Kontroversi dan Keraguan tentang Keberadaan Sosok Syekh Siti Jenar

Kontroversi dan Keraguan tentang Keberadaan Sosok Syekh Siti Jenar
info gambar utama

Kehadiran Syekh Siti Jenar telah menimbulkan kontroversi mengenai keberadaannya ada atau hanya tokoh imajiner. Apalagi mengenai ajarannya sendiri yang sangat sulit dibuat kesimpulan apapun, karena belum ditemukan bukti itu tulisan Syekh Siti Jenar.

Namun suka ataupun tidak, ajaran Syekh Siti Jenar dengan falsafah atau ajarannya sangat terkenal di berbagai kalangan Islam khususnya orang Jawa, walau dengan pandangan yang berbeda-beda.

Bratakesawa dalam bukunya Falsafah Siti Djenar (1954) menyebut nama lain Syekh Siti Jenar antara lain Seh Lemahbang atau Lemah Abang. Sosok ini memang memiliki banyak nama lain, total sampai 16 julukan.

Diperkirakan Syekh Siti Jenar dilahirkan pada tahun 1426 Masehi di lingkungan Pakuwunan Cirebon (Keraton Cirebon sekarang). Orang tuanya bernama Syekh Datuk Sholeh bin Syekh Isa Alawi yang bila dirunut sampai ke Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Setelah menimba ilmu selama lima tahun di Padepokan Amparan Jati, dia bertekad keluar pondok dan mulai berniat untuk mendalami kerohanian (sufi). Tempat pertama yang dia tuju dalam pengembaraannya adalah Pajajaran.

Dakwah Sunan Gresik, Membangun Sistem Irigasi untuk Atasi Krisis Pangan di Tanah Jawa

Dari Pajajaran, dirinya melanjutkan pengembaraannya menuju Palembang, berguru kepada Ario Damar. Dirinya merupakan pengamal sufi-kebatinan dan salah satu murid Maulana Ibrahim Samarkandi yang berasal dari negeri Campa.

Diperkirakan Syekh Siti Jenar berguru kepada Ario Damar antara tahun 1448-1450 Masehi. Bersama gurunya ini, dirinya mempelajari pengetahuan tentang hakikat ketunggalan semesta yang dijabarkan dari konsep nurun ala nur (cahaya mahaya cahaya).

Setelah berguru selama 3 tahun di Palembang, Syekh Siti Jenar melakukan pengembaraan ke berbagai tempat, seperti Malaka hingga ke Baghdad. Di Baghdad, dirinya mengalami pengalaman ruhani yang kemudian dijadikan modal reformasi keagamaan.

Sekembalinya ke Nusantara, dirinya berkeliling ke berbagai tempat, salah satunya Pasai. Syekh Siti Jenar lalu memantapkan diri menjadikan Cirebon sebagai pusat gerakan dan penyiaran dakwahnya.

Sejak itulah, namanya mulai banyak dikenal masyarakat Cirebon sebagai penyiar agama Islam yang gigih dan pantang menyerah. Pengaruhnya begitu meluas sampai ke Banten, bahkan sampai ke Palembang.

Sebagai pusat penyebaran paham spiritualnya, Syekh Siti Jenar kemudian mendirikan padepokan khusus di luar Giri Amparan Jati, yang diberi nama Dukuh Lemahabang. Karena itulah, dia dikenal dengan nama yang sama.

Kontroversi Syekh Siti Jenar

Pada masa-masa awal di Cirebon Syekh Siti Jenar bertemu dengan Sunan Bonang dan Raden Sunan Kalijaga. Perkenalan mereka diawali dengan memperkenalkan asal-usul masing-masing dan berbagi ilmu keagamaan meskipun mazhab sufi mereka berbeda.

Dari Sunan Bonang, Syekh Siti Jenar beroleh wawasan rohani, juga dengan Sunan Giri di Giri Gajah Gresik. Akan tetapi saat berbagi ilmu kerohanian dengan para wali, Syekh Siti Jenar sempat dicurigai sebagai pemilik ilmu sihir.

Syekh Siti Jenar mengajarkan sasahidan serta ilmu ma’rifat dan hakikat dalam bentuk sufisme wujudiyah. Bagi Wali Songo ini sangat membahayakan, sebab ilmu kasampurnaan itu tidak patut diajarkan secara umum, karena masyarakat akan salah paham.

Bagi Wali Songo ilmu kasampurnaan adalah ilmu khash, ilmu tua, berupa ilmu rahasia untuk kalangan tertentu. Sedangkan bagi Syekh Siti Jenar semua orang dari golongan manapun berhak memperoleh pengajaran ilmu yang sama.

“Inilah yang menjadi awal perbedaan prinsip antara Syekh Siti Jenar dan majelis Wali Songo,” tulis Rizky Kurnia Rohman dalam skripsi berjudul Sinkretisme Ajaran Islam dan Jawa pada Tokoh Syekh Siti Jenar.

Syekh Siti Jenar juga memiliki banyak pengikut dari kalangan rakyat kecil dan banyak dari kalangan bangsawan. Terlebih juga karena kebebasan politik yang diajarkannya, maka Kerajaan Demak semakin khawatir dengan pengaruh Syekh Siti Jenar kepada masyarakat.

Sunan Bonang, Berdakwah Lewat Kesenian dan Tabuhan Gamelan

Setelah itu tuduhan-tuduhan pun banyak diarahkan kepada Syekh Siti Jenar. Beberapa tuduhan tersebut yaitu miyak warana (membuka ilmu rahasia kepada umum secara bebas), penganut faham jabariyah, penganut ajaran sesat (pasca kematiannya) dan tuduhan mbalelo (memberontak) terhadap kerajaan Demak.

Dari bermacam-macam tuduhan itu yang mengemuka adalah tuduhan bahwa Syekh Siti Jenar mengajarkan bid’ah, tentang kesatuan wujud manusia dengan Tuhan sebagai Keberadaan Mutlak.

Dewan Wali menuduh bahwa Syekh Siti Jenar menganggap dirinya sebagai Tuhan itu sendiri. Hal ini menjadi tuduhan yang paling tendensius dan juga jadi alasan memvonis mati Syekh Siti Jenar.

Persidangan kasus Syekh Siti Jenar ini dipimpin oleh Sunan Gunung Jati sebagai hakim selaku Sultan Cirebon. Posisi eksekutor atau algojo dipegang oleh Sunan Kudus. Setelah terjadi perdebatan, Syekh Siti Jenar tidak mau mengikuti paham yang ditetapkan Sultan Demak.

Karena itu, hukuman mati akhirnya dijatuhkan kepada Syekh Siti Jenar dengan keris Kantanaga milik Sunan Gunung Jati. Sunan Kudus mengeksekusi Syekh Siti Jenar. Maka wafatlah Syekh Siti Jenar pada tahun 923 H/1506 Masehi dalam versi Babad Cirebon.

Misteri sosok Syekh Siti Jenar?

Keberadaan Syekh Siti Jenar masih diragukan hingga saat ini. Sebagian orang masih menganggapnya sebagai tokoh fiksi yang hanya berada pada serat-serat kuno. Apalagi sosoknya diceritakan bersama dengan mitos-mitos.

Misalnya saja kisahnya yang dihubung-hubungkan dengan al-Husain ibnu Mansur al-Hallaj atau lebih dikenal sebagai Al-Hallaj, sufi Persia abad ke 10 yang ajarannya mirip dengan Syekh Siti Jenar.

Dirinya memohon dibunuh agar tubuhnya tidak menjadi penghalang penyatuannya kembali kepada Tuhan. Al-Hallaj menjalani hukuman matinya pada 922 Masehi di Baghdad karena mengucapkan kalimat “Akulah Kenyataan Tertinggi”.

Kemudian satu hal yang menyebabkan asumsi ini adalah teks-teks kuno yang dijadikan sumber acuan untuk membangun ulang sejarah kehidupan Syekh Siti Jenar mengandung ketidaklogisan dan ketidaksamaan alur cerita.

Teks-teks tersebut antara lain yaitu Babad Cirebon, Babad Tanah Jawi, Serat Syekh Siti Jenar, Serat Centhini dan masih banyak lagi. Apalagi beberapa narasi dalam teks itu seperti menyudutkan Wali Songo dalam eksekusi Syekh Siti Jenar.

“Kisah-kisah Syekh Siti Jenar yang banyak bertebaran dalam berbagai serat kuno tersebut tidak menutup kemungkinan, bahwa semua merupakan naskah pesanan para penjajah Belanda yang fungsinya mengadu domba bangsa Indonesia waktu itu,” jelas Rizky.

2 Tahun Hilang, Ini Tradisi Dandangan Khas Kota Kudus Sambut Ramadan

Kemudian ada pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Syekh Siti Jenar yang dilakukan oleh penguasa Muslim pada abad ke 16 hingga akhir abad ke 17, menyebabkan munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.

Padahal ini adalah sebuah metafora bahwa Syekh Siti Jenar yang berasal dari kalangan bangsawan, setelah kembali ke Jawa memilih menjadi petani yang dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa.

Muhammad Yasir dalam artikel Fitnah Sejarah Terhadap Tokoh Sufi Syekh Siti Jenar yang dimuat Kumparan juga menyebut tentang hukuman mati kepada tokoh Islam ini sebagai cerita fiktif yang ditambah agar membuat cerita lebih menarik.

Berdasarkan riwayat, jelas Yasir, melalui informasi para habaib, ulama, kyai dan ajengan menyebutkan bahwa Syekh Siti Jenar wafat saat mengimami di Masjid Agung Cirebon. Dan para santri baru mengetahui saat akan melaksanakan shalat Subuh.

“Tidaklah mungkin sembilan wali Allah yang suci keturunan Nabi Muhammad akan membunuh wali Allah dari keturunan yang sama, tidak bisa diterima akal sehat,” tegasnya.

Dirinya juga menukil pernyataan cendekiawan Islam, Azyumardi Azra bahwa kisah Syekh Siti Jenar merupakan upaya Belanda memecah umat Islam. Bahkan dari kisah ini, umat Islam akan terpecah menjadi tiga kelas.

Pertama kelas santri yang diidentikan dengan sembilan wali, kelas priyayi yang diidentikkan dengan Raden Fatah dan kesultanan Demak, dan kelas abangan yang diidentikan dengan Syekh Siti Jenar.



Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini