Maladaptive Daydreaming, Bahaya Terlalu Sering Melamun

Maladaptive Daydreaming, Bahaya Terlalu Sering Melamun
info gambar utama

Semua orang termasuk Goodmates, pasti pernah melamun. Pikiran serasa tiba-tiba membeku pada hal-hal tertentu, pandangan jadi tidak fokus, dan kita seakan tidak berada dalam dunia nyata.

Tak heran, melamun sendiri merupakan sebuah kata kerja yang berarti termenung sambil pikiran melayang ke mana-mana. Beberapa riset menyatakan bahwa aktivitas melamun dapat menguntungkan bagi kesehatan otak maupun mental.

Melamun dapat membantu mengatasi kecemasan dan stres karena Goodmates mengizinkan pikiran untuk beristirahat sejenak dan “berkelana” ke tempat lain. Namun, bila Goodmates mulai mengulang-ulang pikiran yang sama sehingga hal tersebut justru menimbulkan kecemasan baru.

Goodmates perlu mewaspadai kemungkinan timbulnya fenomena maladaptive daydreaming atau kebiasaan melamun yang terlalu intens hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penyebab Maladaptive Daydreaming

Depresi hingga trauma masa kecil jadi penyebab perilaku maladaptive daydreaming | Foto: Masha Raymers/Pexels
info gambar

Maladaptive daydreaming adalah gangguan melamun yang membuat orang mengalaminya sulit untuk fokus pada dunia nyata karena terlalu tenggelam dalam lamunan mereka.

Rata-rata, mereka menghabiskan empat hingga lima jam untuk melamun yang membuat kehidupan, pekerjaan, hingga hubungan sosialnya dengan orang lain menjadi terganggu.

Adapun penyebab dari fenomena ini karena keinginan untuk melarikan diri dari perasaan yang sulit untuk seseorang hadapi, seperti rasa malu hingga trauma masa kecil.

Gara-gara hal tersebut, seseorang lantas menciptakan skenario tertentu di dalam pikiran agar mereka mendapatkan perasaan yang mereka butuhkan, seperti penghargaan diri, validasi, dan rasa aman.

Baca juga:Daftar Aplikasi untuk Sukseskan Program Diet Selama Berpuasa

Gejala Maladaptive Daydreaming

Penderita maladaptive daydreaming suka melamun dalam jangka waktu lama | Foto: Whicdemein One/Pexels
info gambar

Selain durasi melamun yang lebih lama, seseorang yang sudah mengalami maladaptive daydreaming cenderung akan mementingkan melamun daripada melakukan kegiatan lainnya. Mereka akan merasa resah dan tidak stabil jika terpaksa harus melakukan hal lain yang membuat waktu melamunnya tersita.

Tak jarang, mereka akan menggunakan media tertentu, seperti musik dan film untuk membantu membuat lamunannya lebih terasa lebih nyata. Isi dari lamunan seseorang yang mengalami kondisi ini juga cenderung seputar diri sendiri dan kehidupan mereka, tetapi dalam versi yang ideal dan tidak nyata.

Bahkan karena terlalu halu, tanpa sadar mereka akan menunjukkan ekspresi wajah hingga suara tertentu saat melamun.

Baca juga: Tingkatkan Produktivitas Kerja dengan Prinsip Pareto

Maladaptive Daydreaming Menurunkan Kualitas Hidup

Maladaptive daydreaming menurunkan kualitas hidup seseorang | Foto: William Fortunato/Pexels
info gambar

Sebagai sebuah gangguan dalam aktivitas sehari-hari, tentu saja maladaptive daydreaming memiliki potensi besar dalam menurunkan kualitas hidup seseorang. Terlebih saat melamun, ia akan benar-benar berada dalam pikirannya sendiri sehingga abai terhadap lingkungan sekitarnya.

Sebuah studi menyatakan bahwa mahasiswa yang mengalami kondisi ini cenderung mengalami penurunan indeks prestasi (IP) yang signifikan. Bagi yang sudah bekerja, maladaptive daydreaming juga membuat mereka sulit menyesuaikan dengan ritme pekerjaan dan tugas-tugas yang ada. 

Secara umum, orang yang suka melamun juga cenderung sulit memilki tidur yang berkualitas sehingga hal tersebut menurunkan tingkat fokus dan konsentrasi. Oleh karena itulah, kehidupan jadi kurang berjalan baik dan berkualitas karena maladaptive daydreaming.

Baca juga:Jaga Kesehatan Tubuh, Penting Perhatikan Kalori Takjil Puasa

Mengatasi Maladaptive Daydreaming

Hidup sehat dan mindful bisa bantu atasi maladaptive daydreaming | Foto: Ron Lach/Pexels
info gambar

Seseorang yang mengalami maladaptive daydreaming biasanya memiliki gangguan kesehatan mental, seperti depresi, gangguan kecemasan, hingga trauma masa lalu (post traumatic stress disorder). Maka, terapi psikologis menjadi salah satu cara yang manjur untuk menghentikan maladaptive daydreaming.

Tak hanya itu, ada cara lain yang mampu mengurangi kebiasaan ini. Misalnya dengan menerapkan mindfulness dengan cara meditasi atau menulis jurnal.

Bisa juga lebih banyak keluar rumah dan melakukan aktivitas fisik, melampiaskan rasa stres pada hal yang lebih positif, serta mengurangi konsumsi film dan media lain yang selama ini tergunakan untuk membuat lamunan semakin nikmat.

Demikian ulasan tentang maladaptive daydreaming, kondisi melamun yang berlebihan hingga mengganggu aspek-aspek kehidupan. Maka, penting bagi kita untuk membatasi kegiatan melamun dan selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas hidup serta diri sendiri agar terhindar dari gangguan ini.

Referensi: Glamour | Choosing Therapy | Sleep Foundation

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini