Alternatif Perguruan Tinggi, Ini Deretan Sekolah Kedinasan yang Ada di Indonesia

Alternatif Perguruan Tinggi, Ini Deretan Sekolah Kedinasan yang Ada di Indonesia
info gambar utama

Masih ada di masa-masa menjelang memasuki tahun ajaran baru. Bagi mereka yang lulus di setiap tingkat pendidikan tertentu sudah pasti akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Satu yang paling terasa euforianya adalah peralihan bagi para siswa-siswi di tingkat setara SMA ke jenjang perguruan tinggi.

Bukan hal baru, persaingan menjadi istilah yang lazim didengar bagi seluruh siswa-siswi Indonesia yang ingin berlomba-lomba masuk ke perguruan tinggi terbaik.

Meski di lain sisi, ada juga sejumlah kalangan yang memiliki rencana pendidikan berbeda sesuai dengan jenjang karier yang ingin diraih, salah satunya adalah dengan mandaftar ke perguruan tinggi yang bukan bersifat umum, tapi lebih spesifik ke instansi yang berhubungan dengan bidang yang dimininati. Misalnya sekolah pariwisata atau sekolah kedinasan.

Bicara soal sekolah kedinasan, faktanya pilihan jenis instansi satu ini juga tak kalah diminati di Indonesia. Apalagi jika melihat sejumlah sekolah kedinasan favorit seperti STAN, STIS, IPDN, hingga Poltek Siber dan Sandi Negara.

Bukan tanpa alasan, biasanya banyak kalangan yang memilih untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah kedinasan, karena setidaknya sudah sedikit ada jaminan mengenai jenjang dan peluang karier yang akan diperoleh di waktu yang akan datang. Karena biasanya, lulusan sekolah kedinasan tertentu akan disalurkan ke instansi pemerintah/negara yang menaungai sekolah kedinasan terkait.

Selain STAN dkk yang hingga saat ini menjadi favorit dan juga memiliki persaingan ketat dalam proses penerimaannya, berikut deretan sekolah kedinasan lain yang mungkin bisa menjadi referensi.

Alternatif Perguruan Tinggi, Deretan Sekolah Kedinasan ini Jadi Favorit Bagi Lulusan SMA

Politeknik Transportasi Darat Indonesia (PTDI-STTD)

PTDI STTD by ptdisttd.ac.id
info gambar

Sekolah kedinasan satu ini berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan. Menilik riwayatnya, cikal bakal STTD bermula dari pendirian Akademi Lalu Lintas (ALL) pada tanggal 8 September 1951 oleh Presiden Soekarno.

Dengan alasan tertentu, pada tahun 1964, ALL berhenti dioperasikan dan tidak tidak melakukan kegiatan. Namun karena mempertimbangkan pertumbuhan lalu lintas yang terus terjadi di Indonesia, dan adanya perkembangan teknologi transportasi jalan serta kompleksitas permasalahan lalu lintas, maka lahirlah gagasan untuk mengaktifkan kembali ALL pada tahun 1980.

Bukan menggunakan nama lama, pengaktifannya menggunakan nama Balai Pendidikan dan Latihan Ahli Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya (BPL-ALLAJR), dan saat itu hanya menyelenggarakan program Diploma III Ahli LLAJR.

Baru pada tahun 2000, status BPL-ALLAJR ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) dan ditingkatkan kembali menjadi Politeknik Transportasi Darat Indonesia-STTD. Hingga kini, Politeknik STTD memiliki pilihan prodi jenjang Diploma-III, Diploma-IV, dan S2 yang terdiri dari:

  • Diploma-III Manajemen Transportasi Jalan,
  • Diploma-III Manajemen Transportasi Perkeretaapian,
  • Diploma-IV Transportasi Darat,
  • S2 Pemasaran, Inovasi, dan teknologi, serta
  • S2 Teknik Keselamatan dan Risiko.
Sejarah Kereta Rel Listrik, Moda Transportasi Andal Masyarakat Jabodetabek

Poltekip (Ilmu Pemasyarakatan)

poltekip.ac.id
info gambar

Berada di bawah naungan Kementerian Hukum dan HAM, sekolah kedinasan ini juga dikenal dengan nama Akademi Ilmu Pemasyarakatan (AKIP). Lembaga pendidikan ini didirikan guna menjawab kebutuhan sumber daya manusia di bidang pemasyarakatan.

Lebih detail, mereka yang menempuh pendidikan di sekolah kedinasan ini akan berkarier dalam menjalankan perlakuan terhadap pelanggar hukum di Indonesia, dari Sistem Kepenjaraan menjadi Sistem Pemasyarakatan.

Sementara itu cikal bakal dari Poltekip sendiri bermula dari dibentuknya AKIP pada tahun 1964. Saat ini, Poltekip diketahui memiliki tiga program studi yang ditawarkan dan terdiri dari:

  • Diploma-IV Manajemen Permasyarakatan,
  • Diploma-IV Teknik Permasyarakatan, dan
  • Diploman-IV Bimbingan Kemasyarakatan.
Nostalgia Penjara Glodok, Rumah Tahanan Hatta dan Koes Bersaudara yang Jadi Glodok Plaza

Poltekim (Politeknik Imigrasi)

poltekim.ac.id
info gambar

Sama halnya seperti Poltekip, Politeknik Imigrasi juga berada di bawah naungan Kementerian Hukum dan HAM, yang menyelenggarakan pendidikan profesional kedinasan, dan diarahkan pada penerapan keahlian serta ilmu pengetahuan di bidang keimigrasian.

Membahas cikal bakalnya, sekolah kedinasan satu ini dulunya dikenal dengan nama Akademi Imigrasi (AIM), yang dibentuk pada tahun 1959. Saat itu, pembentukannya menindaklanjuti pengambilalihan tugas keimigrasian oleh Pemerintah Indonesia dari bangsa Belanda pada tahun 1950.

Hanya menghasilkan 3 angkatan, yaitu AIM I, II, III dalam kurun waktu 1962-1976, rupanya akademi ini sempat terhenti selama 23 tahun karena suatu kondisi tertentu. Baru pada tahun 1999, AIM mulai diaktifkan kembali dengan meneruskan pendidikan dan membuka pendaftaran untuk angkatan ke-4.

Sementara itu perubahan AIM menjadi Poltekim dengan jenjang pendidikan terapan (vokasi) Diploma-IV sendiri baru ditetapkan pada tahun 2016, dengan empat program studi yang terdiri dari:

  • Diploma-IV Hukum Keimigrasian,
  • Diploma-IV Administrasi Keimigrasian,
  • Diploma-IV Manajemen Teknologi Keimigrasian, dan
  • Diploma-III Keimigrasian.
Kembali Buka Sekolah di Luar Negeri, Kini Sekolah Muhammadiyah Resmi Buka di Australia

STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran), Jakarta

STIP Jakarta
info gambar

Berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan, keberadaan STIP berasal dari pembentukan Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) pada tahun 1953. Kala itu, baru dua prodi yang tersedia di jenjang D-III yakni Nautika dan Teknika.

Dalam perkembangannya AIP kerap mengalami perubahan struktur dan nama. Misal pada tahun 1983, namanya berubah menjadi Pendidikan dan Latihan Ahli Pelayaran (PLAP) dan diberikan lisensi untuk melaksanakan program studi dengan 4 jurusan yang terdiri dari Nautika, Teknika, Telekomunikasi Pelayaran, serta Ketatalaksanaan dan Kepelabuhanan (KTK).

Di tahun 2000, PLAP kembali berubah status menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran dan memiliki program studi yang lebih luas sampai ke jenjang S1 dan S2. Lebih detail, prodi jenjang Sarjana yang ada di STIP terdiri dari:

  • S1 Bisnis Maritim (Maritime Business),
  • Diploma-IV (Sarjana Terapan) Teknologi Rekayasa Kelistrikan Kapal (Marine Electrical Engineering Technology),
  • S2 Pemasaran, Inovasi dan Teknologi,
  • S2 Teknik Keselamatan dan Risiko.
Mengenal 3 Unit Kapal Bantu Rumah Sakit yang Beroperasi di Indonesia

Akademi Penerbang Indonesia (API), Banyuwangi

Taruna Akademi Penerbang Indonesia
info gambar

Sama-sama berada di bawah naungan Kementerian Perhubungan, jika STIP dikhususkan untuk armada laut dan pelayaran, maka API sesuai namanya dikhususkan untuk sekolah bagi para calon tenaga penerbangan yakni pilot.

Meski jadi sekolah kedinasan yang saat ini paling banyak dikenal, nyatanya API atau yang biasa dikenal juga dengan nama Pilot School Banyuwangi merupakan Sekolah Pilot kedua setelah Politeknik Penerbangan Indonesia Curug di Tangerang, Banten, yang telah lebih dulu berdiri sejak Tahun 1952.

Pendirian API sendiri terbilang masih baru yakni pada tahun 2013, dengan nama awal Loka Pendidikan dan Pelatihan Penerbang (LP3) Banyuwangi. Penetapan nama Akademi Penerbangan sendiri baru digunakan pada tahun 2019, seiring dengan semakin bertambahnya jenjang pendidikan yang ditawarkan.

Hingga saat ini, program studi yang dimiliki oleh sekolah kedinasan API terdiri dari Diploma-III Penerbang Sayap Tetap, Diploma-III Operasi Pesawat Udara, dan program diklat non-Diploma lainnya.

Kalimantan Timur Segera Punya Sekolah Pilot. Di Kabupaten Mana Tepatnya?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini