Menggali Jejak "Pompeii dari Timur", Peradaban yang Terbenam di Lereng Tambora

Menggali Jejak "Pompeii dari Timur", Peradaban yang Terbenam di Lereng Tambora
info gambar utama

April 1815, Gunung Tambora di Semenanjung Sanggar, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), meletus hebat. Kekuatan letusannya, berdasarkan Volcanic Explosivity Index, berada pada skala 7 dari 8, hanya kalah dari Letusan Gunung Toba, Sumatra Utara.

Ilmuwan Inggris, Charles Lyell dalam Principles of Geology, 1830 menggambarkan dahsyatnya letusan Gunung Tambora melalui catatan saksi mata. Disebutnya, dataran tertutup awan panas, beberapa alirannya mencapai lautan, tsunami menghantam.

"Puting beliung yang kejam menghempaskan orang, kuda, ternak, dan apa saja yang dilintasi ke udara, mengangkat pohon-pohon besar hingga akarnya, dan menutupi lautan dengan gelondongan kayu," tulis Charles yang dimuat dalam buku Seri Negeri Cincin Api: Tambora Mengguncang Dunia terbitan Litbang Kompas.

Letusan Tambora tercatat sebagai letusan gunung paling mematikan. Jumlah korban tewas akibat letusannya mencapai 71.000 jiwa, sebagian ahli menyebut bisa mencapai 91.000 jiwa. Sepuluh ribu orang langsung tewas, sisanya mati karena bencana penyakit dan kelaparan.

Namun letusan ini tidak hanya menyisakan duka, tetapi menghilangkan tiga kerajaan yang berada di lereng gunung itu, yaitu Tambora, Pekat, dan hanya menyisakan Sanggar dalam keadaan yang kritis. Peradaban tiga kerajaan ini pun hilang tertimbun abu vulkanik pada tahun yang disebut zaman ujari au (zaman hujan abu).

Kisah tentang kerajaan di lereng Tambora telah disebutkan dalam sejumlah literatur lama, seperti dalam Bo' Sangaji Kai. Disebutkan dalam buku pusaka Kerajaan Bima itu, hingga sebelum April 1815, terdapat tiga kerajaan di sana.

Misteri Istana Emas Tambora, Kenangan Kisah Kejayaan yang Terkubur Letusan Gunung

Namun cerita tentang kehidupan yang terkubur hampir 200 tahun tersebut hanya dibiarkan dalam kertas. Justru, lereng gunung yang hijau itu hanya menarik bagi perusahaan kayu PT Veneer Products Indonesia yang tergiur dengan hutan hujan yang kaya pohon klanggo (Duabanga Moluccana).

Suparno, Kepala Kebun Kopi Pemerintah Kabupaten Bima di Desa Oi Bura mengingat pada 1979, buldozer PT Veneer menemukan harta karun dari dalam tanah, ketika membuat jalan untuk membawa kayu.

Suparno lantas bersama puluhan warga bergegas menuju ke sana. Mereka menemukan tembikar, pecahan keramik, perhiasan dari emas, permata, cincin, bokor, dan senjata api.

Bahkan ada warga yang menemukan kerangka manusia. Sebagian temuan itu, disimpan warga hingga kini dan sebagian dijual kepada kolektor yang datang.

Kesaksian yang sama disampaikan Indyo Pratomo, ahli gunung api dari Museum Geologi, Pusat Survei Geologi Bandung. Ketika datang pada 1980 an, dirinya banyak melihat barang temuan yang terkubur di lereng Tambora diangkut dengan kapal ke luar negeri.

Memang penggalian situs ini berjalan sangat lambat, dan tersendat, kalah cepat dengan praktik jual beli artefak yang telah berlangsung puluhan tahun. Tak ada tim arkeolog ataupun pejabat pemerintah yang datang ke Oi Bura untuk menelisik lebih jauh.

Penemuan Pompeii dari Timur

Hingga pada 1986, Haraldur Sigurdsson, ahli gunung api dari Universitas Rhode Island, Amerika Serikat, mendengar tentang temuan artefak itu saat berkunjung ke Tambora. Dia pun memimpikan bisa jadi ini adalah Pompeii dari Timur.

Pada tahun 2004, dia kembali ke Tambora dan mengajak peneliti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Igan Sutawijaya, untuk memulai penggalian.

Setelah menggali hingga kedalaman tiga meter, melewati lapisan piroklastik, batuan apung, abu, dan tanah lempung, muncullah jejak bekas rumah dari masa lalu, lengkap dengan perabot dan dua kerangka manusia. Satu kerangka ditemukan persis di depan rumah dalam posisi telungkup.

"Dia seperti hendak berlari ke luar. Namun, tiba-tiba awan panas menyapu, " tulis Sigurdsson dalam laporannya tahun 2007.

Temuan itu mengguncang dunia ilmu pengetahuan. Jejak peradaban di Gunung Tambora yang sebelumnya hanya ada dalam naskah tertulis, muncul ke permukaan. Temuan ini juga mengejutkan para arkeolog Indonesia.

Media-media Eropa kemudian heboh, Pompeii of East Discovered atau Pompeii dari Timur Ditemukan menjadi judul berita media Inggris, BBC, waktu itu. Beragam berita sejenis juga banyak ditemukan di media massa asing.

Terhentinya Langkah Sang Penakluk Eropa Karena 'Sengatan Listrik' dari Sumbawa

"Nyaris semua rumah telah menjadi arang. Namun, di dalamnya ada kerangka yang juga menjadi arang dan harta benda. Sisa kota (Tambora) masih di bawah sana," ucap Sigurdsson.

Kehadiran Sigurdsson yang bukan seorang arkeolog, tetapi melakukan ekskavasi dan membawa sebagian artefak temuannya ke luar negeri dengan alasan penelitian lebih lanjut memang menimbulkan kontroversi.

Walaupun begitu, aksi Sigurdsson telah menampar pemerintah. Akhirnya Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) bekerja sama dengan Museum Geologi melakukan ekskavasi di Tambora pada tahun 2006. Dan Balai Arkeologi Bali mulai menggali kawasan itu pada tahun 2008.

Namun penggalian ini berjalan lambat karena minimnya dana. Tiap tahun mereka hanya menggali tanah seluas 25 meter persegi. Hal ini tentunya berbeda dengan letusan Pompeii yang telah diabadikan dalam museum.

"Kerajaan Tambora baru 200 tahun lalu terkubur, jauh lebih baru dibandingkan Pompeii. Namun, kita hanya tahu sedikit tentang Tambora. Kita memang bangsa pelupa," kata Bambang Budi Utomo, arkeolog dari Puslit Arkenas.

Jejak yang sulit berkisah

Setelah dibiarkan terkubur selama hampir 200 tahun, jejak peradaban di Semanjung Sanggar mulai terkuak. Penggalian terakhir yang dilakukan Balai Arkeologi Bali di Desa Oi Bura pada pertengahan Juni 2011 menegaskan tentang keberadaannya perkampungan yang padat di masa lalu.

Selama tiga tahun penggalian, tim yang dipimpin oleh Kepala Puslit Arkenas menemukan bangunan rumah di tiga lokasi sejajar dengan jarak sekitar 10 meter satu sama lainnya. Bedasarkan temuan artefak, dirinya menyimpulkan masyarakat ketika itu sudah cukup maju, dengan hasil komoditi utama kemiri (Aleurites moluccana).

Selain untuk masakan dan obat tradisional, kemiri diduga juga diperdagangkan. Kerajaan Bima, yang dalam catatan lama menjadi pengekspor kemiri, diduga memperoleh komoditi ini dari Tambora.

Selain itu, jelas Made, ditemukan pula biji kopi dan padi ladang (Oryza sativa) yang nyaris berada di tiap lubang galian. Juga ada ikatan tali tambang dan kerangka kuda ditemukan hampir di semua kotak ekskavasi.

Tali tambang yang dibuat dari batang bambu dari kawasan itu diduga diproduksi cukup banyak karena keberadaan peternakan kuda yang merupakan komoditi unggulan daerah ini. Selain itu ada juga berbagai kerajinan tangan.

Kesuburan Abadi, Buah Petaka Letusan Tambora

Beberapa kerajinan yang ditemukan terbuat dari rotan, seperti lampit, sarung tombak dari anyaman rotan, tangkai tombak yang ditemukan terbuat dari kayu yang dikerjakan secara halus.

Bambang mengatakan keberadaan alat tenun menunjukan kemajuan komunitas tersebut. Adapun keberadaan tembikar yang dibungkus dengan anyaman bambu dan rotan, jelasnya, menunjukan mereka telah mengembangkan kerajinan dengan nilai seni.

Sedangkan untuk ukuran kampung, katakanlah jejak yang digali itu kampung dan baru ditemukan lima rumah, dengan adanya benda-benda temuan yang beragam ini menunjukan taraf hidup mereka yang sudah maju.

“Belum tentu kampung sekarang memiliki indikator kemajuan seperti itu,” ucap Bambang menjelaskan.

Namun begitulah, di depan galian artefak Kerajaan Tambora, Bambang hanya bisa menghubungi beberapa kenalannya, mengajak untuk melakukan penggalian arkeologis besar-besaran.

Tetapi di negeri yang lebih riuh dalam urusan politik ini, peradaban masa silam hanyalah urusan kesekian. Para arkeolog hanya bisa menggali dalam sepi dan jejak peradaban yang terkubur di lereng Gunung Tambora masih harus menunggu kesempatan untuk berbicara.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini