Mitigasi Perubahan Iklim, Dosen UGM Kembangkan Metode Pemetaan Padang Lamun

Mitigasi Perubahan Iklim, Dosen UGM Kembangkan Metode Pemetaan Padang Lamun
info gambar utama

Berdasarkan data Climate Watch yang dirilis World Research Institute (WRI) tahun 2018, Indonesia masuk dalam daftar sepuluh negara dengan emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Negara kita menyumbang emisi gas rumah kaca sebesar 965,3 MtCO2e atau setara dua persen emisi dunia.

Mitigasi perubahan iklim menjadi tindakan untuk mencegah atau memperlambat terjadinya perubahan iklim dan mengurangi risiko terhadap peningkatan emisi gas rumah kaca.

Meski tak sepopuler bakau dan terumbu karang, nyatanya padang lamun termasuk ekosistem yang sangat berperan dalam menjaga kelangsungan hidup biota laut, menjernihkan air laut, bahkan mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan dan sebagai mitigasi perubahan iklim.

Padang lamun memang hanya memiliki luasan kurang dari satu persen dari lautan bumi, tetapi ekosistem khas laut dangkal ini menyimpan sekitar 18 persen total karbon di laut. Padang lamun juga dikenal sebagai ekosistem karbon biru di wilayah pesisir yang didominasi vegetasi lamun.

Kemampuannya dalam menyerap karbon dan menguburnya di dalam sedimen mencapai lebih dari 30 kali lipat lebih tinggi daripada hutan hujan tropis, yang selama ini dikenal sebagai eksosistem penyerap karbon paling tinggi.

Berawal dari keprihatinan akan belum optimalnya pengelolaan padang lamun Indonesia, Dosen Departemen Sains Informasi Geografi, Fakultas Geografi UGM, Dr. Pramaditya Wicaksono, M.Sc., dan tim mengembangkan metode pengolahan data pengindraan jauh untuk memetakan padang lamun secara akurat, efektif, dan efisien.

Pentingnya Peran Padang Lamun Sebagai Penunjang Kehidupan Biota Laut

Pemetaan padang lamun

Padang lamun | Wikimedia Commons
info gambar

Padang lamun merupakan wilayah perairan laut yang ditumbuhi lamun dan dapat menjadi sebuah eksosistem tersendiri yang khas. Lamun sendiri merupakan tumbuhan berbunga yang dapat tumbuh di lingkungan laut dangkal.

Lamun dikenal sebagai sumber makanan untuk beberapa organisme. Bulu babi dapat memakan lamun langsung, sedangkan untuk beberapa jenis ikan, penyu, dan duyung akan memakan lamun jika muncul saat laut surut. Lamun juga diketahui berfungsi sebagai stabilisator dasar peraira dan keberadaan kelompok lamun dapat mencegah erosi dan penangkap sedimen.

Pramaditya diketahui telah mengkaji padang lamun sejak tahun 2010 dan saat ini ia mengembangkan sebuah alat pengolahan citra digital pengindraan jauh yang dibutuhkan untuk kebutuhan pemetaan stok karbon atas permukaan dan sekuestrasi karbon ekosistem padang lamun secara otomatis.

Dalam pengembangan metode pemetaan ini, ada banyak pihak yang turut terlibat seperti mahasiswa, dosen, peneliti, dan berbagai institusi seperti Pusat Riset Oseanografi BRIN (PRO-BRIN), Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Informasi Geospasial, Universitas Hasanuddin, dan Pusat Riset Antariksa BRIN.

Selain itu juga melibatkan lembaga luar negeri termasuk The University of Queensland, Wageningen University and Research, dan TH Koeln (Cologne University of Applied Sciences).

PRO-BRIN sebagai walidata padang lamun memanfaatkan data penginderaan jauh (inderaja) dalam memvalidasi luas padang lamun Indonesia hingga tahun 2018. Hal ini sejalan dengan rekomendasi aksi dari PBB mengenai pengelolaan padang lamun.

Penginderaan jauh menjadi pendekatan utama dalam melengkapi global dataset distribusi spasial padang lamun yang masih belum lengkap. Ditambah lagi, pemetaan jasa ekosistem padang lamun saat ini masih sangat terbatas.

“Mengingat luasnya ekosistem karbon biru di Indonesia, apabila informasi tersebut dapat diperoleh dan Indonesia berhasil memasukkan kontribusi ekosistem karbon biru ke dalam NDCs, peran Indonesia dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim akan semakin signifikan,” jelas Pramaditya.

Sebenarnya sejak tahun 2013, Coastal Biodiversity Remote Sensing Research Group Fakultas Geografi UGM terus mengembangkan berbagai metode penginderaan jauh untuk memetakan berbagai macam parameter ekosistem karbon biru termasuk padang lamun dan hutan bakau.

Beberapa di antaranya adalah pemetaan distribusi spasial dan temporal, spesies, persentase tutupan, leaf area index, cadangan karbon, dan serapan karbon padang lamun. Dikhususkan untuk padang lamun, grup riset ini juga telah mengembangkan perpustakaan spektral berbagai spesies lamun di Indonesia.

Grup tersebut bekerja sama dengan Pro-BRIN dan Wageningen University dalam mengembangkan algoritma dan toolbox untuk pemetaan cadangan dan serapan karbon padang lamun secara otomatis. Dalam pemetaan dan pemantauan dinamika padang lamun, dilakukan juga analisa dampak aktivitas manusia terhadap perubahan luas tutupan padang lamun dan runtuhnya ekosistem padang lamun.

Perubahan Iklim di Depan Mata, Kita Bisa Apa?

Pengelolaan khusus padang lamun masih kurang

Padang lamun | Lipi.go.id
info gambar

PRO-BRIN telah memvalidasi estimasi luas padang lamun di Indonesia 2018 yaitu seluas 293.464 ha atau sekitar 16 - 35 persen dari potensi luasan padang lamun di Indonesia. Di sisi lain, 30 persen padang lamun dunia saat ini telah hilang dan diperkirakan luas padang lamun di dunia berkurang hampir 1 hektare setiap 30 menit atau 2-5 persen per tahun.

Jika dibandingkan dengan upaya pemulihan terumbu karang dan hutan bakau, usaha pemulihan padang lamun jauh lebih sedikit jumlahnya. Adanya charisma gaps terkait pentingnya ekosistem padang lamun membuat pengeloaan khusus terkait ekosistem ini masih kurang dan belum optimal, termasuk di Indonesia.

Koordinator dari grup riset tersebut menyatakan bahwa pengelolaan ekosistem padang lamun perlu dikalukan secara berkelanjutan. Adapun usaha yang bisa dilakukan adalah menyediakan informasi distribusi spasial dan temporal padang lamun beserta informasi biofisiknya, seperti variasi spesies, persentase tutupan, biomassa, cadangan karbon, dan laju serapan karbonnya.

Informasi yang tak kalah penting juga soal perubahan dan berkurangnya luas padang lamun serta penyebabnya. Adanya informasi tersebut sangat penting untuk dapat melihat dinamika pada ekosistem padang lamun.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini