Kura-Kura Duri, Reptil Endemik Indonesia yang Makin Langka di Alam

Kura-Kura Duri, Reptil Endemik Indonesia yang Makin Langka di Alam
info gambar utama

Kura-kura merupakan salah satu keluarga reptil yang umum ditemukan di Indonesia. Kura-kura juga termasuk reptil tertua dan primitif yang telah berevolusi jutaan tahun yang lalu dan ia hidup di seluruh dunia.

Hewan ini memiliki bentuk tubuh yang khas dan terbungkus dalam cangkang keras sebagai pelindung dari pemangsa.Tahukah Anda jika cangkang kura-kura terbuat dari tulang dan tulang rawan? Bagian atas cangkang disebut karapas dan bagian bawahnya disebut plastron. Keduanya bergabung di sepanjang sisi tubuh dan menciptakan kerangka yang kaku.

Salah satu jenis kura-kura langka ternyata bisa ditemukan di Indonesia. Beberapa waktu lalu, petugas Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) menemukan kura-kura duri (Heosemys spinosa) berukuran 7 cm ketika sedang berpatroli.

Kura-kura duri juga dikenal dengan beberapa nama dalam bahasa Inggris, seperti Spiny Terrapin, Spiny Turtle, Cogwheel Turtle, dan Sunburst Turtle. Seperti apa rupa kura-kura langka tersebut?

Dipulangkan dari Singapura, 13 Kura-Kura Leher Ular Rote Kembali ke Tanah Air

Berkenalan dengan kura-kura duri

Kura-kura duri memiliki ukuran tubuh yang tidak terlalu besar. Karapasnya ketika dewasa berukuran sekitar 21-24 cm dan bobot tubuhnya sekitar 1,5-2 kg. Karapas dewasa cenderung berwarna cokelat dengan garis pucat pada bagian tengahnya, sedangkan kepalanya berwarna cokelat kehitaman dan samar-sama bergaris merah.

Ia juga memiliki keping karapas yang bergerigi seperti duri, tetapi aka menghilang sering kura-kura tumbuh dewasa. Duri tersebut berfungsi melindunginya dari predator.

Kura-kura duri merupakan hewan diurnal, ia sangat aktif di siang hari dan termasuk spesies herbivora. Ia banyak makan buah-buahan yang jatih dari pohon dan berbagai tumbuhan hutan lainnya. Terkadang, ia juga memakan beberapa jenis invertebrata.

Seperti kebanyakan jenis kura-kura, ia cenderung hidup menyendiri tetapi mereka tidak teritorial. Tidak jarang beberapa kura-kura duri menempati lahan yang sama, namun jarang berinteraksi di luar kawin. Kehidupannya termasuk crespular, ia keluar selama jam-jam senja untuk mencari makan dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bersembunyi.

Ketika musim hujan tiba, ini akan merangsang kura-kura duri untuk berkembang biak. Kura-kura jantan akan menyenggol betina sebagai ajakan untuk kawin. Jika si betina bersedia, kura-kura jantan akan berenang di atasnya tanpa menggenggam dengan cakarnya. Ini adalah cara kura-kura duri bereproduksi secara tradisional. Sedangkan di penangkaran, kura-kura jantan akan dirangsang dengan percikan air dan mereka akan mengejar betina sebagai ajakan kawin.

Pengamatan di penangkaran menyatakan bahwa reproduksi kura-kura duri akan berlangsung pada bulan Desember dan Februari. Saat hujan atau dilakukan penyemprotan air, kura-kura jantan menjadi lebih bersemangat mengejar betina untuk kawin.

Betina dapat berkembang biak tiga kali setahun dan akan bertelur tiga sampai empat telur per musim. Ketika bertelur, kura-kura muda akan memiliki karapas yang lebih datar dan lebih berduri. Jika merasa terancam, ia akan mengeluarkan kotoran sebagai bentuk pertahanan diri.

Dramatis, 4 Hewan Ini Hanya Kawin Sekali Seumur Hidup Lalu Mati

Persebaran dan habitat kura-kura duri

Kura-kura duri | Wikimedia Commons
info gambar

Kura-kura duri merupakan spesies endemik Indonesia yang dapat dijumpai di beberapa wilayah di Sumatra dan Kalimantan, serta pulau-pulau kecil di sekitarnya termasuk kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Kepulaua Natuna, dan Nias. Namun, spesies ini juga ditemukan di beberapa negara Asia Tenggara seperti Myanmar, Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina.

Termasuk kura-kura air tawar, mereka kebanyakan berada di sungai-sungai dangkal di hutan hujan tropis dataran rendah hingga ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Namun, sebagai hewan semi-akuatik, ia juga sering naik ke daratan dan bersembunyi di antara tumpukan daun, semak-semak, atau rerumputan. Di hutan Sumatra, kura-kura duri juga kerap ditemukan di cekungan tanah bekas pijakan kaki gajah.

Ancaman terbesar bagi kehidupan kura-kura duri adalah manusia. Manusia menjadikan kura-kura duri sebagai hewan peliharaan, mengambil hewan-hewan ini dari habitat aslinya, juga menjualnya sebagai hewan peliharaan atau daging eksotis.

Kura-kura duri telah menyandang status Endangered (Terancam) dalam daftar merah IUCN dan masuk daftar Appendix II oleh CITES. Populasi di habitat aslinya semakin berkurang tetapi jumlahnya belum diketahui secara pasti. Penurunan populasinya disebabkan oleh berkurangnya daerah hunian, serta maraknya perburuan dan perdagangan liar.

Mengenal Febri, Mengapa Ia Begitu Dilindungi?

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini