Mengintip Sisi Latihan Ekstrem yang Bentuk Kekuatan Kopassus Selama 70 tahun

Mengintip Sisi Latihan Ekstrem yang Bentuk Kekuatan Kopassus Selama 70 tahun
info gambar utama

“Lebih baik pulang nama, daripada gagal di medan laga”

Begitu kalimat prinsip yang dipegang teguh oleh para prajurit anggota dari salah satu kelompok militer terkuat di Indonesia, yakni Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Tepat di hari ini, setiap tanggal 16 April diperingati sebagai hari lahirnya salah satu satuan elit milik TNI Angkatan Darat (AD) tersebut, sejak pertama kali terbentuk pada tahun 1952. Jika bicara mengenai kekuatan, eksistensi dari Kopassus sejatinya tidak perlu diragukan lagi.

Sesuai namanya, satuan militer ini memiliki kemampuan lebih di atas rata-rata jika dibandingkan dengan tentara biasa atau reguler. Secara garis besar, mereka memiliki kemampuan khusus seperti bergerak cepat di setiap medan, menembak dengan tepat, pengintaian, dan anti teror.

Menakar Kekuatan Militer Indonesia di Tahun 2021

Pengakuan akan kekuatan Kopassus

Kopassus
info gambar

Tentu kualitas Kopassus tidak hanya diklaim di dalam negeri saja, namun kekuatannya sudah diakui bahkan oleh tentara militer dari sejumlah negara lain. Memiliki ragam kemampuan mulai dari bela diri, penembak jitu, hingga mampu membebaskan banyak sandera. Diketahui jika banyak sejumlah negara yang meminta Kopassus menjadi pelatih militer untuk tentara di negara mereka.

Tercatat jika ada beberapa negara yang pernah dilatih oleh tentara anggota Kopassus RI. Contohnya di masa lampau, Jenderal Kong Le, seorang prajurit tangguh asal Vietnam rupanya pernah dilatih oleh Kopasus saat masih menggunakan nama Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha), pada kisaran tahun 1970-an.

Setelahnya, sejumlah negara lain yang kerap meminta latihan bersama kepada Kopassus kerap datang dari Filipina, Brunei Darussalam, dan Kamboja.

Satu yang juga tak kalah ketinggalan mengakui ketangguhan Kopassus keluar dari pengakuan Komandan Operasi Khusus Australia (Socaust), Mayor Jenderal Jeff Sengelman saat menjalani sesi Latihan Bersama Dawn Komodo 2021 joint exercise Kopassus dan Special Air Service Regiment (SASR) Australia, pada tahun 2019.

"Dari demonstrasi yang dipertunjukkan oleh prajurit Kopassus, saya yakin motto, skill, dan keterampilan prajurit Kopassus masih yang terhebat di dunia," kata Mayjen Jeff Sengelman kala itu, mengutip Merdeka.com.

Komandan SOCAUST Australia: Kopassus Masih Terhebat di Dunia

Latihan ekstrem di balik kekuatan Kopassus

Latihan kopassus
info gambar

Tentu, kekuatan yang dimiliki Kopassus tidak serta-merta diperoleh secara instan, ada keringat dan perjuangan terlewat keras yang dialui oleh para anggota satuan khusus tersebut yang telah dilalui, dan membuat Kopassus dapat terus kokoh beroperasi selama 70 tahun hingga saat ini.

Disebutkan jika secara keseluruhan, siswa komando harus mengikuti sekitar 60 materi pelajaran yang sangat menantang dan berat selama masa pelatihan. Materi tersebut terdiri dari teknik tempur, membaca peta,pionir, patroli, survival, mendaki gunung serta pendaratan dengan kapal motor dan amphibi. Mereka juga dilatih pertempuran jarak dekat, perang kota, teknik gerilya, selam militer, dan juga operasi antiteror.

Lebih lanjut, dijelaskan jika selama ini pelatihan komando berlangsung selama kurang lebih tujuh bulan atau 28 minggu, yang dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama pelaksanaan pendidikan dilakukan selama 18 minggu, tahap kedua semua peserta akan dilepas di hutan dan pegunungan masing-masing dua kali selama 6 minggu, dan tahap terakhir berjalan selama 4 minggu di medan rawa laut.

Lebih detail, untuk tahap satu biasanya para tentara masih menjalani pelatihan yang bersifat keterampilan teknis, dan pendidikan membentuk sikap serta kepribadian. Lain itu, dipelajari juga taktik operasi komando, kemampuan individu dan dasar pertempuran perkotaan, pengetahuan pendukung, manajerial lapangan, dan tes kemampuan individu.

Baru pada tahap kedua, para siswa tentara mulai terjun ke hutan dan gunung dengan berbagai praktik militer yang berat, mulai dari penekanan anti-pemberontakan, perang hutan, praktek raid, menembak, navigasi darat, survival, penjejakan dan anti penjejakan.

Biasanya latihan akan diawali dengan pendakian serbu (panjat tebing) yang memiliki ketinggian 48 meter. Lalu nantinya akan dilanjutkan perang hutan atau gerilya baik pemantapan individu maupun kerjasama tim.

Setelahnya, latihan dilanjut ke sesi bertahan (survival) di hutan. Di mana para tentara tidak dibekali logistik dan senjata apapun selama lima hari, dan mereka harus bertahan hidup melewati segala rintangan dan mara bahaya di hutan.

Terakhir, biasanya sesi latihan diakhiri dengan dengan long march berjarak sekitar 500 kilometer. Dan mereka tentu tidak berjalan dengan tangan kosong, melainkan memikul ransel berbobot sekitar 20 kilogram, ditambah logistik, senjata, helm, dan sepatu boot.

Belum berakhir sampai di situ, masih ada tahap ketiga di mana mereka akan melalui latihan pertempuran di laut. Biasanya sesi ini berlangsung di Cilacap dan Nusakambangan. Yang paling berat, para tentara biasanya diharuskan melalui tahap berenang 1 kilometer dari Cilacap ke Nusakambangan.

Mengutip cerita yang dibagikan oleh salah seorang prajurit Kopassus, saking keras dan ekstremnya latihan yang dijalani dan didapat dari pelatih, di kalangan prajurit muncul istilah "Kami tidak takut setan, lebih takut pelatih," jika sedang dalam masa pelatihan di Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdikpassus).

Kopassus Pertama di Puncak Gunung Everest

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini