Kisah Idjon Djanbi, Bule Mualaf Asal Belanda yang Jadi Pendiri Kopassus

Kisah Idjon Djanbi, Bule Mualaf Asal Belanda yang Jadi Pendiri Kopassus
info gambar utama

Pada masa 1950, Indonesia tengah sibuk memerangi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS). Pemimpin Operasi Koloner Inf. A.E Kawilarang dan Komandan Penyerbuan Kolonel Inf. Slamet Riyadi merasa kewalahan menumpas gerakan separatis itu.

Slamet lalu melahirkan ide untuk membentuk kesatuan dengan konsep pemukul yang tangguh. Namun, Slamet tidak bisa menyaksikan ide mereka menjadi nyata, dirinya gugur ketika memimpin penyerbuan ke pusat pertahanan RMS di Fort Nieuw Victoria, Ambon.

Setelah menyelesaikan tugas menumpas RMS, Kawilarang teringat dengan gagasan membentuk pasukan khusus ketika melawan RMS. Pada 16 April 1952, dia mewujudkan gagasan itu dengan membentuk Kesatuan Komando Teritorium III (Koter III).

Kawilarang lalu membicarakan pembentukan pasukan khusus dengan stafnya, Mayor Soewarto. Mereka teringat dengan bekas anggota Korps Speciale Troepen (KST), Rokus Bernardus Visser yang tinggal di Cisarua, Lembang, Jawa Barat, sebagai petani bunga.

Visser ini adalah warga negara Belanda kelahiran Kanada pada 13 Mei 1914. Dirinya melakoni pertempuran dengan Jerman di usia 25 tahun. Ketika menjadi tentara Belanda, dirinya pernah ditugaskan menjadi sopir Ratu Wilhelmina.

Mengintip Sisi Latihan Ekstrem yang Bentuk Kekuatan Kopassus Selama 70 tahun

Setelah mengikuti latihan komando di Inggris, Visser bergabung dengan Koninklijke Leger (KL). Pengalaman tempurnya antara lain dalam Operasi Market Garden, operasi terjun payung ketika pasukan Sekutu membebaskan Belanda dari pendudukan Jerman.

Karena pengabdiannya, dia dikirim mengikuti pelatihan keahlian bertempur di Skotlandia. Visser memperoleh berbagai keahlian bertempur, seperti membunuh tanpa senjata, membunuh pengawal, penembakan tersembunyi,hingga perkelahian tangan kosong.

Dia mendapat brevet glider (baret hijau), sementara baret merah didapatkannya saat memperoleh pendidikan dari Special Air Service (SAS) Inggris. Dengan segudang pengalaman, dia dikirim Belanda untuk bertempur di Indonesia.

Namun Perang Dunia II keburu berakhir karena Jepang menyerah setelah Hiroshima dan Nagasaki dibom atom. Tetapi Belanda tetap mengirim pasukan karena terbukanya peluang untuk kembali menjajah Indonesia sebagai koloni Belanda.

Seusai perang, dia dikirim ke Indonesia. Dengan pangkat kapten, Visser memimpin Sekolah Pendidikan Terjun Payung (School tot Opleiding van Parachutisten) KNIL, di Cimahi. Ketika itu terdapat dua pasukan elite dalam KNIL.

“Pasukan payung (paratrooper) memakai baret merah yang dipimpin oleh Visser dan pasukan komando memakai baret hijau,” tulis Julius Poor dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan.

Mengabdi ke Merah Putih

Visser kemudian kembali ke Eropa untuk menemui keluarga dan istrinya, seorang wanita Inggris yang dinikahinya saat masa perang dunia. Karena sudah terlanjur jatuh hati dengan Indonesia, dirinya mengajak istrinya pindah dan menetap di Indonesia.

Namun, sang istri menolak. Terjadilah perceraian antara keduanya. Tahun 1947, Visser kembali ke Indonesia. Kali ini, dirinya tidak lagi menuju Papua Barat, karena sekolah militer yang dia pimpin sudah dipindahkan ke Cimahi, Bandung.

Tidak lama berkarir di Jawa Barat, Visser mendapat kenaikan pangkat menjadi kapten dengan jabatan Pelatih Kepala. Dalam kurun waktu selama agresi militer 1947 hingga 1949, sekolah yang dia pimpin banyak menghasilkan pasukan penerjun dalam pertempuran.

Pasca agresi militer Belanda di Indonesia, dirinya memilih keluar dari dunia militer dan beralih profesi sebagai petani bunga di Lembang, Jabar. keputusan ini ternyata banyak mengubah hidup Visser.

Visser kemudian menikahi seorang perempuan Sunda, bernama Suyatni. Dirinya kemudian menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Mochammad Idjon Djanbi. Entah dari mana idenya sehingga dirinya memilih nama yang kurang biasa itu.

Terjun Bebas Kopassus Bersama Satwa. Pecahkan MURI Pada HUT TNI ke-72

Idjon kemudian ditemui oleh Letda Aloysius Soegijanto untuk membahas pembentukan pasukan komando. Sebelumnya Idjon pernah melatih combat intelligence, kesatuan tempur intelijen yang dipersiapkan TNI.

Walau sempat menolak tawaran tersebut, akhirnya Idjon mau juga bergabung menjadi pelatih di CIC II berstatus sipil. Dia bersedia melatih dengan syarat pangkatnya harus setingkat lebih tinggi daripada pangkat tertinggi calon siswanya. Kawilarang memenuhi syaratnya itu.

Setelah melewati latihan dasar komando dengan peralatan sederhana, beberapa bulan kemudian terbentuk satu kompi pasukan Komando Teritorium (Koter) III dengan komandan Kapten Soepomo.

Sebagai pasukan komando, dalam tiap operasi tempur, jumlah personil yang diterjunkan relatif sedikit, tanpa menggunakan ukuran konvensional seperti peleton atau batalyon. Mereka hanya menggunakan istilah unit dan tim.

Dengan makin matangnya pasukan elite ini, pemberontakan DI/TII dan PRRI/Permesta berhasil diatasi. Markas Besar Angkatan Darat di Jakarta mengamati pengalaman Koter III selama operasi itu dan tertarik membentuk pasukan komando.

Bapak Kopassus yang tersingkir

Niat membentuk pasukan khusus di tubuh Angkatan Darat pun semakin besar. Atas keputusan Menteri Pertahanan saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada 1 April 1952, Idjon diangkat menjadi Mayor Infanteri TNI dengan NRP 17665.

Idjon kemudian bertugas melatih kader dari para perwira dan bintara untuk membentuk pasukan khusus. Tanggal 16 April 1952, dibentuklah pasukan khusus Kesatuan Komando Teritorium Tentara III/Siliwangi, disingkat Kesko III.

“Pasukan itu berada di bawah Idjon dan tanggal itulah yang hingga kini diperingati sebagai hari jadi Kopassus,” tulis Petrik Matanasi dalam Sang Komandan.

Tetapi tidak semua orang suka dengan kehadiran Idjon. Walau sudah masuk Islam, menjadi warga negara Indonesia dan menjadi perwira TNI, tetap saja Idjon dianggap sebagai orang Belanda.

Pada periode 1950 an, sentimen terhadap kehadiran orang Eropa memang cukup tinggi. Apalagi Idjon saat itu diangkat menjadi Mayor, pangkat yang cukup tinggi dalam dunia militer kala itu.

Komandan SOCAUST Australia: Kopassus Masih Terhebat di Dunia

Desas-Desus Idjon adalah mata-mata Belanda kerap dihembuskan sejumlah perwira yang iri. Inisial MID, Mohammad Idjon Djanbi sering diplesetkan dengan Militaire Inlichtingen Dienst, dinas intelijen militer Belanda.

“Beberapa anak buahnya yang kurang senang dengannya pernah memplesetkan singkatan namanya, MID sebagai Militaire Inlichtingen Dienst atau Dinas Rahasia Militer,” jelas Firman Lubis dalam Jakarta 1960-an: Kenangan Semasa Mahasiswa.

Soal tudingan mata-mata juga digambarkan dalam buku Inside Indonesia’s Special Forces yang ditulis Ken Conboy. Disebutkan salah satu perwira muda yang tak menyukai Idjon adalah Letnan Benny Moerdani yang baru lulus sekolah jadi instruktur.

Benny disebutkan mencurigai komandannya ini sebagai mata-mata. Tentu tak ada cukup bukti untuk membuktikan itu. Namun tetap saja orang yang tak suka kepadanya terus bergerak.

Setelah Kesko (Kopassus) TNI menjadi besar, keinginan mereka untuk mendepak Idjon semakin kuat. Kesempatan itu datang tahun 1956, Idjon digeser ke posisi yang tidak nyaman di pusat pelatihan.

Karena hal itulah, Idjon marah. Harga dirinya sebagai perwira terusik. Dia meminta keluar dari TNI dan kesatuan yang sangat dicintainya. Padahal susah payah Idjon membangun pasukan komando kebanggaan Siliwangi itu benar-benar dari nol.

Tak lama setelah pensiun, Idjon mengalami masalah pada kesehatannya. Dia diagnosa mengalami usus buntu dan harus dioperasi. Ternyata usus besarnya turut bermasalah sehingga jiwanya tidak tertolong lagi.

Idjon kemudian tutup usia di rumah sakit Panti Rapih pada 1 April 1977. Pihak berwenang sempat alpa, hingga tak disediakan protokoler upacara pemakaman secara militer. Sebagai komandan pertama Kopassus, Idjon dimakamkan tanpa tembakan salvo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini