Candi Gunung Kawi, Situs Purbakala Peninggalan Dinasti Udayana di Bali

Candi Gunung Kawi, Situs Purbakala Peninggalan Dinasti Udayana di Bali
info gambar utama

Kabupaten Gianyar merupakan salah satu kawasan wisata di Bali yang identik dengan kesenian dan kebudayaan. Daerah ini menjadi pusat seni ukiran dan menjadi "rumah" bagi para seniman terkenal. Di segala penjuru banyak terdapat galeri-galeri seni serta pergelaran seni musik dan tari. Salah satu tujuan wisata terkenal di Gianyar tentunya Ubud, yang populer karena pemandangan alamnya.

Selain wisata seni-budaya dan pesona alam, Gianyar juga memiliki situs arkeologi yang dapat dikunjungi, yaitu Situs Gunung Kawi. Gunung Kawi di Gianyar merupakan situs bersejarah dengan beberapa peninggalan purbakala, berbeda dengan nama gunung yang ada di Pulau Jawa.

Kawasan pura yang kerap disebut candi ini terbilang unik karena biasanya candi berbentuk batuan utuh dari bata merah atau batu gunung, tetapi di Gunung Kawi berupa pahatan di dinding tebing batu padas dan berlokasi di tepi sungai.

Candi Gunung Kawi atau Candi Tebing Kawi merupakan bagian dari cagar budaya yang memiliki arti penting bagi ilmu pengetahuan, pendidikan, sejarah, dan kebudayaan.

Keunikan Pura Goa Gajah dan Peninggalan Sejarah dari Kerajaan Bali Kuno

Menjelajah kawasan Candi Gunung Kawi

Candi Gunung Kawi | Wikimedia Commons
info gambar

Keberadaan Candi Gunung Kawi telah ditemukan sejak tahun 1920 oleh seorang peneliti Belanda, H.T. Damste. Candi ini diperkirakan telah dibangun sejak abad ke-11 Masehi pada masa dinasti Udayana (Warmadewa).

Pembangunan candi diperkirakan telah dimulai pada masa pemerintahan Raja Sri Haji Paduka Dharmawangsa Marakata Pangkaja Stanattunggadewa (944-948 Saka/1025-1049 M) dan berakhir pada pemerintahan Raja Anak Wungsu (971-999 Saka/1049-1080 M). Situs Candi Tebing Gunung Kawi dibangun Raja Marakata sebagai tempat pemujaan untuk arwah sang ayah yaitu Raja Udayana.

Perkiraan itu juga diperkuat dengan temuan pada Prasasti Tengkulak yang berangka tahun 945 Saka (1023 Masehi) yang menyebutkan adanya komplek pertapaan di tepi Sungai Pakerisan dengan nama Amarawati. Kemudian para arkeolog berpendapat bahwa Amarawati merujuk pada kawasan Candi Gunung Kawi berada.

Kompleks Candi Gunung Kawi merupakan situs arkeologi yang juga menjadi salah satu bangunan suci sejak masa Bali Kuni dan terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan.

Candi Gunung Kawi atau Candi Tebing Kawi terletak di Dusun Penaka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali. Situs ini telah dibuka sebagai objek wisata sejak tahun 1970-an dan jaraknya sekitar 40 kilometer dari Kota Denpasar atau dapat ditempuh sekitar satu jam berkendara.

Untuk memasuki kawasan Candi Gunung Kawi, pengunjung sebelumnya harus melewati 315 anak tangga dari batu adas yang tersusun rapi. Karena berada di dekat sungai dan dikelilingi pepohonan, udara di sekitarnya cenderung sejuk dan menyegarkan sehingga perjalanan menuruni tangga tak terasa menyiksa.

Kompleks Situs Gunung Kawi terdiri dari dua area yaitu candi tebing dan ceruk pertapaan. Untuk situs candi terbagi lagi menjadi dua kelompok yang terpisahkan oleh aliran Sungai Pakerisan. Setidaknya ada 10 candi yang tersebar di beberapa titik. Lima candi terletak di sisi timur sungai dan merupakan bagian utama dari kompleks candi, sedangkan lima lainnya berada di sebelah barat sungai dan terbagi jadi dua. Empat candi di sebelah utara dan satu candi ada di sebelah selatan.

Pada candi terbesar, terdapat tulisan Kediri Qwadrat “aji lumah ing jalu” yang artinya adalah raja yang dicandikan di jalu (Pakerisan). Kemudian pada candi nomor dua dari utara, terdapat tulisan “rwa nakira” artinya dua anaknya.

Uniknya, para arkeolog juga mengidentifikasi keberadaan sejumlah ceruk (relung yang masuk ke dinding) sebagai tempat meditasi umat Buddha di sekitar Candi Gunung Kawi yang merupakan candi Hindu. Hal ini menjadi tanda harmoni dalam kehidupan beragama.

Ceruk yang ada di Gunung Kawi itu disebut Amarawati. Bangunan ceruk pertapaan dipahat pada tebing cadas dan memiliki tiga bagian yaitu utara, tengah, dan selatan. Pada ceruk utama berbentuk gua dan di dalamnya terdapat sebuah altar batu memanjang.

Karena termasuk pura dan merupakan tempat yang dianggap sakral, pengunjung wajib menggunakan pakaian yang sopan dan megenakan sarung dengan selempang di pinggang yang sudah tersedia di loket pembelian tiket. Untuk perempuan yang sedang haid, tidak diizinkan masuk ke kawasan Gunung Kawi.

Menurut Laporan YouGov, Bali Jadi Destinasi Wisata Terfavorit Orang Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini