Ratu Ageng Tegalrejo Pemimpin Perempuan di Tengah Hegemoni Kolonial

Ratu Ageng Tegalrejo Pemimpin Perempuan di Tengah Hegemoni Kolonial
info gambar utama

Ratu Ageng Tegalrejo (1736-1803) merupakan istri dari Sultan Hamengku Buwono I. Sosoknya dalam sejarah tercatat sebagai pejuang perempuan. Salah satu peran yang menonjol adalah dalam bidang militer.

Selain dikenal agamis, Ratu Ageng merupakan seorang penunggang kuda yang tangguh, sangat mahir menggunakan senjata perang gagrak tradisional maupun modern pada zamannya.

Bakat militernya merupakan warisan dari Sultan Abdul Kahir I, seorang penyebar Islam dan juga Sultan Bima yang bertakhta di Sumbawa pada 1621 - 1640. Dari leluhurnya ini, Ratu Ageng juga banyak terwariskan ilmu agama.

Ratu Ageng yang memiliki nama kecil Niken Ayu Yuwati ini merupakan anak dari Kiai Ageng Derpoyudho seorang ulama terkemuka dari Majangjati, Sragen. Ayahnya juga adalah putra dari Kiai Ageng Datuk Sulaiman atau sering akrab disebut Kiai Sulaiman Bekel.

Peter Carey menyebutnya sebagai sosok perempuan tangguh, dia mendampingi suaminya Sultan Hamengkubuwono I (Pangeran Mangkubumi) dalam Perang Giyanti (1746 - 1755). Setelah perjanjian Giyanti, dia bersama sang suami membentuk Kesultanan Yogyakarta.

Ratu Ageng bukanlah sosok istri raja yang lemah lembut, namun terkenal sebagai perempuan yang perkasa. Ini terlihat dari posisinya sebagai panglima Bregada Langen Kesuma - kesatuan pasukan elit perempuan pengawal raja.

Sejarah Perjanjian Giyanti, Membagi Tanah Jawa Menjadi Dua

Bregada Langen Kesuma merupakan kesatuan khusus pengawal raja yang sangat tangguh. Walau semua anggotanya perempuan, namun pasukan berkuda ini dilengkapi dengan senjata api laras panjang dan pendek, pedang, keris, tombak, trisula, dwisula, dan lain-lain. Keterampilan mereka dalam olah senjata dan kanuragan jangan diragukan lagi.

Ada sebuah kisah yang terjadi pada bulan Juli 1809, Marshall Herman Willem Daendels berkunjung ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Dalam salah satu jamuan penyambutannya diperlihatkan atraksi dari Bregada Langen Kesuma.

“Dia terkagum-kagum melihat atraksi pasukan khusus perempuan ini,” ujar Peter Carey.

Selain menempa pasukan khusus perempuan dengan ilmu perang dan kanuragan, Ratu Ageng juga membekali mereka dengan ilmu agama, hal ini membuat pakaian mereka terbilang sangat sopan dengan tetap mengedepankan kebebasan gerak untuk berperang.

Ratu Ageng yang merupakan permaisuri raja memang sangat peduli dengan nilai-nilai keislaman. Karena itulah, selain menempa Pangeran Diponegoro dengan cara seorang ksatria, dia juga membekalinya dengan ilmu agama yang cukup dalam.

Meninggalkan keraton

Sikap tegas Ratu Ageng terlihat dari keberaniannya meninggalkan kehidupan istana ketika terjadi konflik dengan anaknya, Sundoro (kelak Hamengkubuwono II) yang dianggap telah menyepelekan tatanan dan ajaran Islam.

Sebab itulah, ketika Hamengkubuwono I turun tahta dan digantikan oleh Raden Mas Sundoro yang kemudian dikenal sebagai Hamengkubuwono II di tahun 1792, Ratu Ageng lebih memilih tinggal di sebuah dusun terpencil yang kelak dikenal sebagai Tegalrejo.

Di Tegalrejo, dirinya pun lebih dikenal dengan sebutan Nyai Ageng Tegalrejo. Dirinya giat bertani tanpa meninggalkan ibadah. Tidak hanya itu, dari padepokan Tegalrejo ini, dia membangun kekuatan untuk menyebarkan dan mengajarkan Islam.

Meski dia seorang alim yang menguasai khazanah kitab kuning dan pengamal tarekat yang konsisten, namun sebagai keturunan bangsawan Jawa, kehidupannya juga tidak bisa dilepaskan dari filosofi dan tradisi Jawa.

Ratu Ageng juga tidak canggung untuk bergaul dengan masyarakat kecil. Dirinya ikut terjun langsung bercocok tanam di sawah dengan kaki dan tangan penuh lumpur. Dirinya memang harus giat bekerja untuk menghidupi keluarganya sendiri.

Siapa PNS dengan Nomor Induk Pegawai 1?

Nyai Ageng memang menolak bantuan dari keraton yang dianggapnya telah dikotori oleh kemaksiatan dan kezaliman. Apalagi ketika itu banyak rakyat yang memang tertindas akibat koalisi bangsawan dengan Belanda.

“Akan jauh lebih mulia di hadapan Allah jika aku bekerja dengan tangan dan kakiku sendiri, ketimbang hidup dengan bertumpu pada uang kotor yang berasal dari memeras keringat dan darah rakyat!” tegasnya.

Sebagai perempuan keturunan ulama dari Bima dan istri dari HB I, Nyai Ageng begitu kuat dalam menanamkan basis pendidikan dan ideologi terutama setelah berhijrah di Tegalrejo yang menjadi awal embrio Perang Jawa.

Salah satu upayanya untuk menanamkan pendidikan di Tegalrejo adalah mendatangkan guru agama, khususnya untuk cicitnya Pangeran Ontowiryo atau Diponegoro. Sejak kecil, Diponegoro memang telah diasuh oleh Nyai Ageng.

Peran Nyai Ageng kepada Diponegoro muda memang sangat terlihat saat kondisi Kasultanan Yogyakarta mulai diracuni gaya Eropa oleh Belanda. Ratu Ageng sebagai figur agama memandang perlu menyelamatkan Ontowiryo untuk hijrah ke Tegalrejo.

“Dari situlah Pangeran Diponegoro tumbuh di bawah asuhan Ratu Ageng. Dari situ pula Pangeran Diponegoro bergerak melawan penjajah,” jelas Moh Ashif Fuadi dan Mokhammad Fadhil Musyafa dalam Kepemimpinan Perempuan: Peran Ratu Ageng Terhadap Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa: 1825-1836.

Mendidik Diponegoro

Pangeran Diponegoro sudah tumbuh dalam lingkungan yang sarat tradisi kepesantrenan dan keagamaan kuat. Sejak masa kanak-kanak, dia sudah berbaur dengan kaum santri dan Korps Suronatan (Masjid Suronatan Kasultanan).

Korps ini merupakan sebuah kelompok keagamaan bersenjata di Istana Yogyakarta yang merupakan bagian dari kesatuan militer di kadipaten, tempat kediaman ayah Diponegoro. Kediamanya di sana juga terdapat warga Kauman yang kental nuansa Islam.

Berpindahnya Pangeran Diponegoro ke Tegalrejo, mendorong Ratu Ageng mendidik dan melatih serta mewariskan berbagai keterampilan perangnya kepada cicitnya. Adapun keterampilan perang itu, antara lain menembak, memanah, dan berkuda.

Selain mendapatkan bimbingan dari langsung dari Ratu Ageng. Diponegoro juga dididik oleh beberapa ulama seperti Syekh Taptojani, Kiai Hasan Besari dan Syekh Abdul Ahmad bin Abdullah al-Ansari seorang ulama dari Arab yang menikah dengan putri Pangeran Blitar I.

Selama di Tegalrejo bersama Ratu Ageng, berbagai ragam teks bacaan dipelajari oleh Pangeran Diponegoro. Beberapa karya Islam yang dipelajari antara lain kitab Tuhfah yang menjadi favoritnya, berisi ajaran sufisme tentang “tujuh tahap eksistensi”.

Menelusuri Perbedaan Keraton Solo dan Yogyakarta

Diponegoro juga mengaji kitab-kitab tasawuf, suluk, serat Anbiya, tafsir Alquran. Pada bidang politik, Diponegoro mengaji kitab Siratus Salatin dan Tajussalatin. Sedangkan dalam hukum Islam, mengaji Taqrib, Lababul Fiqih, Muharrar, dan Taqarrub.

“Atas penguasaan khazanah Islam tersebutlah, Diponegoro cukup kritis terhadap reformasi hukum 1812 yang diberlakukan Inggris (1811 - 1816) yang memangkas kewenangan pengadilan agama Jawa (Surambi),” jelas Carey.

Menurut Carey, keunikan pada masa pendidikan dan pengasuhan Pangeran Diponegoro oleh buyutnya Ratu Ageng yang terkenal keras, membuat komitmen pribadi pangeran terhadap Islam begitu kuat.

Selain itu jaringan Nyai Ageng dengan para ulama dan santri, membuat Diponegoro memiliki kontak yang luas terutama dalam kalangan Islam. Misalnya Diponegoro berhubungan dengan Kiai Gedhe Dadapan dekat Tempel.

Sepeninggal nenek buyutnya, sosok penting bagi Diponegoro yang menjadi simpul utama jejaring santrinya adalah Kyai Mojo adalah Kiai Taptojani. Kedua sosok ini memiliki pengaruh untuk mendapatkan dukungan dari kaum ulama Pajang, Madiun, Kedu, Bagelen, Pacitan dan wilayah-wilayah lainnya di pantai utara Jawa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini