5 Bangunan Masjid di Indonesia dengan Gaya Arsitektur Khas Etnis Tionghoa

5 Bangunan Masjid di Indonesia dengan Gaya Arsitektur Khas Etnis Tionghoa
info gambar utama

Ketika membahas hal-hal yang berkaitan dengan perpaduan dua kebudayaan atau lebih, seringkali kita mendengar istilah akulturasi. Pada dasarnya akulturasi memang merupakan proses sosial yang terjadi saat kelompok masyarakat dengan budayanya yang khas dihadapkan pada kebudayaan asing. Ketika kedua kebudayaan dipadukan maka akan melahirkan bentuk kebudayaan baru tanpa menghilangkan ciri khas masing-masing.

Akulturasi bisa terbentuk karena berbagai faktor, misalnya kontak dengan kebudayaan lain, sikap menghargai hasil karya seseorang, toleransi, keterbukaan, dan orientasi ke masa depan. Akulturasi juga bisa terjadi pada berbagai aspek, misalnya bahasa, kesenian, makanan, hingga seni bangunan.

Di Indonesia, ada banyak bangunan yang merupakan akulturasi dari berbagai unsur. Salah satunya adalah masjid dengan gaya arsitektur yang mencerminkan budaya etnis Tionghoa.

Jika kebanyakan masjid memiliki kubah dan dicat putih, versi akulturasi ini memberikan pemandangan yang berbeda. Masjid bisa saja memiliki corak Tionghoa seperti dominasi warna merah, berbentuk serupa kelenteng yang merupakan tempat peribadatan umat Konghucu sebagai kepercayaan tradisional Tionghoa, serta diperindah dengan ornamen-ornamen khas seperti lampion.

Sebagai bukti nyata akulturasi, berikut lima masjid di Indonesia yang memiliki gaya arsitektur khas etnis Tionghoa:

Jadi Tempat Ibadah Sekaligus Wisata Religi, Ini 5 Masjid Terapung di Indonesia

Masjid Tan Kok Liong

Masjid Tan Kok Liong berlokasi di Cibinong, Bogor, Jawa Barat, dan didirikan oleh mendiang Ramdhan Effendy yang dikenal sebagai Anton Medan. Ia merupakan mantan ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia. Nama masjid ini diambil dari nama asli sang pendiri yaitu Tan Hok Liang.

Corak bangunan khas Tionghoa bisa dilihat pada pola limas tiga tingkat dengan bagian ujung yang dihiasi relief kepala naga. Pada bagian atap terdapat mustika berbentuk topi Putri Xin Chiang dengan lafaz Allah. Putri Xin Chiang diketahui merupakan perempuan China pertama yang memeluk agama Islam.

Masjid seluas 600 meter persegi ini juga memiliki detail ornamen yang filosofis. Misalnya, miniatur empat burung rajawali di atap teratas dan lima burung perkutut di setiap ujung wuwungan atap dimaknai sebagai harapan agar umat Islam bisa memandang setiap persoalan setajam tatapan rajawali, bukan seperti burung perkutut yang selalu bergerombol namun tak sanggup berbuat apa-apa.

Uniknya, pada proses merancang bangunan masjid ini tidak melibatkan jasa arsitek. Anton sendiri yang mendesain masjid dan menampilkan bentuk Istana Tiongkok pada masa Dinasti Qing.

Beberapa Fakta Mengagumkan dari Eksistensi Masjid di Indonesia

Masjid Cheng Ho

Masjid Cheng Ho | Wikimedia Commons
info gambar

Masjid Cheng Ho merupakan salah satu rumah ibadah bernuansa Tionghoa yang ada di kompleks gedung serbaguna PITI (Pembina Imam Tauhid Islam) Jalan Gading, Ketabang, Kecamatan Genteng, Surabaya. Menurut cerita yang beredar di masyarakat setemat, bangunan masjid ini merupakan bentuk penghormatan pada Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam.

Masjid yang bangunannya serupa kelenteng ini didominasi warna merah, hijau, dan kuning dengan ornamen yang kental nuansa Tiongkok. Pintu masuknya menyerupai bentuk pagoda dan memiliki relief naga dan patung singa dari lilin lilin dengan lafaz Allah dalam huruf Arab di puncak pagoda. Pada bagian gerbang, terdapat pilar merah dan atap limas berwarna kuning emas, juga sebuah papan bertuliskan Masjid Muhammad Cheng Hoo lengkap dengan aksara Mandarin.

Bangunan masjid ini juga mengandung makna yang dalam. Misalnya, ukuran masjid 11 x 9 meter mengikuti panjang dan lebar Ka’bah saat pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim AS dan 9 meter sendiri diambil dari jumlah Wali Songo yang menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa.

Kemudian pada bagian serambi ada lima buah anak tangga yang melambangkan Rukun Islam dan enam tangga di dalam masjid menjadi simbol Rukun Iman. Selanjutnya ada menara setinggi 17 meter yang melambangkan jumlah rakaat dalam salat wajib setiap hari.

Pengadilan Surambi, Ketika Hukum di Tanah Jawa Ditetapkan dari Serambi Masjid

Masjid KH. M. Bedjo Dermoleksono

Mengunjungi Masjid KH. M. Bedjo Darmoleksono di Rumah Sakit Univ. Muhammadiyah Malang, Kota Malang, Jawa Timur, kita dapat melihat bangunan rumah ibadah yang sungguh unik. Dari luar, terlihat masjid ini didominasi warna putih, merah, dan keemasan, sedangkan bagian dalamnya berwarna hijau. Pintu masjid pun mirip seperti bangunan di China dan tulisan nama masjid pun ditulis dalam huruf Mandarin.

Masjid yang didirikan tahun 1999 ini merupakan ide dari Prof. Muhadjir Effendy yang saat ini menjabat posisi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia. Penamaan masjid ini diambil dari KH. M. Bedjo Darmoleksono, salah seorang tokoh yang pertama kali menggagas Muhammadiyah di Malang Raya sekitar tahun 1965. Kyai yang disegani tersebut memang terkenal sering berdakwah ke berbagai tempat dan selalu bersemangat dalam mensyiarkan ilmu fiqih dan aqidah.

Dijuluki Pulau Seribu Masjid, Ini Deretan Masjid Megah dan Bersejarah di Lombok

Masjid Lautze

Masjid Lautze | @haryanta.p Shutterstock
info gambar

Ketika melewati kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, Anda mungkin pernah melihat bangunan masjid unik yang satu ini. Namanya Lautze, masjid ini dikelola oleh Yayasan Haji Karim Oei yang didirikan Abdul Karim Oei Tjeng Hien.

Dari luar, kita bisa melihat tampilan masjid ini yang didominasi warna merah, kuning, dan hijau. Bangunannya pun berbaur dengan ruko-ruko di kawasan pecinan tersebut dan tidak memiliki kubah. Masuk dari pintu depan, pengunjung akan melewati empat pintu utama berwarna merah. Di dalam, ada mimbar dan ruang utama yang bernuansa warna hijau dan kuning. Pada dinding masjid terdapat kaligrafi-kaligrafi dengan huruf Arab dan Mandarin yang tertata rapi.

Masjid ini telah menjadi tempat ibadah sekaligus pusat informasi mengenai agama Islam. Bahkan sejak tahun 1977, lebih dari 1.500 orang menjadi mualaf di Masjid Lautze dan kebanyakan di antaranya merupakan etnis Tionghoa.

3 Masjid Tertua dan Bersejarah di Indonesia

Masjid Lautze 2

Tak hanya Jakarta, Masjid Lautze juga ada di Kota Bandung, Jawa Barat. Memang keduanya dikelola oleh yayasan yang sama dan untuk membedakan, masjid yang ada di Bandung disebut Masjid Lautze 2. Berada di area pertokoan, masjid ini menampilkan keunikan dari tampilannya yang khas dengan wanra merah-kuning serta memiliki ornamen lampion pada bagian luar.

Didirikan sejak tahun 1997, Masjid Lautze 2 merupakan masjid tertua yang dibangun muslim Tionghoa yang bermukim di Kota Kembang. Masjid Lautze menjadi pusat informasi bagi masyarakat Tionghoa, baik mualaf atau yang sedang mempelajari agama Islam.

Di masjid ini juga ada beberapa program yang ditawarkan, misalnya pendampingan mualaf, kursus bahasa Mandarin dan Arab, dan kursus shufa atau seni kaligrafi Tionghoa. Jemaah juga dapat mengikuti kelompok Khalifah Singer, kelompok vokal lagu-lagu religi Islam dengan sentuhan instrumen khas Tionghoa, serta Lautze Publishing yang kegiatannya berfokus untuk mencetak buku-buku tentang Islam dan Tionghoa.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini