Warisan Kiai Sadrach dan Gerakan Pribumisasi Kristen di Jawa

Warisan Kiai Sadrach dan Gerakan Pribumisasi Kristen di Jawa
info gambar utama

Penyebaran agama Kristen di Indonesia memiliki sejarah yang panjang. Bila biasanya misionaris berasal dari kalangan bangsa Eropa, ternyata ada salah satu tokoh penginjil dari kalangan pribumi, dia adalah Kiai Sadrach.

Pria kelahiran Jepara pada 1835 ini dikenal sebagai salah satu misionaris di Pulau Jawa. Meskipun berstatus sebagai misionaris, dia tetap menggunakan gelar kiai, karena dahulunya merupakan seorang Muslim dengan pengikut yang banyak.

Dinukil dari Wikipedia, Senin (18/4/2022) Kiai Sadrach lahir dengan nama Radin. Dia pernah menimba ilmu agama Islam di pesantren yang ada di Jombang, Jawa Tengah. Di antara murid di pondok pesantren itu, Radin termasuk murid yang cerdas dan rajin.

Pada waktu Radin masih sebagai santri di Jombang, ketika liburan, dia pergi ke Mojowarno untuk bertemu dan mendengarkan pengajaran seorang misionaris Belanda bernama Jellesma.

Ini merupakan kontak pertama kali seorang Radin dengan ajaran Kristen dan dengan orang Belanda. Benih ajaran Kristen mulai tertanam dalam hatinya, dia merasa heran ketika mendengar tentang Injil keselamatan dan sangat tertarik untuk mempelajarinya.

Di sini Radin bersedia belajar sebagai murid kepada Jellesma. Namun pertemuan tersebut belum membuatnya menjadi Kristen, karena Radin kemudian melanjutkan perjalanannya ke sebuah pondok pesantren di Ponorogo.

Marbinda, Tradisi Perayaan Natal Khas Masyarakat Batak Toba

Setelah lulus dari pondok pesantren di Jombang, Radin kembali ke Semarang dan tinggal di Kauman. Pada saat itulah, dia menambahkan nama Arab yang telah disesuaikan dengan bahasa Jawa yaitu Abas, sehingga namanya menjadi Radin Abas.

Radin merupakan seorang yang berwatak keras dalam mencari ilmu dan kebenaran. Maka dia terus berusaha mencari guru yang dapat mengajarkan ilmu dan kebenaran kepadanya. Lantas dia beberapa kali belajar kepada guru lintas agama.

Radin berguru kepada Hoezoo, seorang pekabar Injil di Semarang. Dirinya diterima sebagai murid katekisasi dan setiap Minggu, mengikuti kebaktian. Kemudian dia diperkenalkan kepada Kiai Ibrahim Tunggul Wulung, seorang pekabar Injil Jawa.

Setelah mendengar banyak cerita dari Kiai tersebut, Radin sangat tertarik dan ingin belajar menjadi murid. Pertemuan tersebut membuatnya makin terdorong dan condong kepada agama Kristen, sehingga dirinya menyatakan ingin menjadi orang Kristen.

Radin kemudian di ajak ke Batavia bertemu dengan anak mas Anthing. Dia ikut pendidikan Kristen yang didirikan oleh Anthing. Setahun setelah lulus dari pendidikan tersebut, dia memutuskan untuk menjadi Kristen dan dibaptiskan dengan nama Sadrach.

Pribumisasi Kristen ala Kiai Sadrach

Setelah memeluk keyakinan baru, Sadrach diberi tugas untuk menyebarkan brosur dan buku-buku tentang agama Kristen dari rumah ke rumah sekitar Batavia. Setelah tugasnya selesai, dia kembali ke Semarang.

Ketika itu, Tunggul Wulung telah mendirikan beberapa desa Kristen yaitu Banyutowo, Tegalombo, dan yang paling terkenal adalah di Desa Bondo, Jepara Utara. Di sini Sadrach membantu tugas Tunggul Wulung.

Dirinya sempat menjadi pemimpin jemaat Bondo membantu Tunggul Wulung yang berkeliling untuk menarik orang-orang yang tinggal di desa tersebut. Setelah Tunggul Wulung kembali ke Bondo, Sadrach memilih berkeliling ke tempat lain.

Sadrach pergi ke beberapa tempat seperti Tuksongo, Purworejo, selama lebih satu tahun sebelumnya pindah ke Karangjasa. Dari sinilah popularitas Kiai Sadrach sebagai pekabar Injil merangkak naik.

Jan S Aritonang dalam Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia yang dimuat Historia menyebut metode Sadrach mengabarkan Injil sama dengan yang digunakan Tunggul Wulung, yakni berdiskusi dan berdebat, secara terbuka di depan umum.

Sejarah Hari Ini (26 Juni 1835) - Barnstein, Penginjil Pertama di Kalimantan

Sadrach juga memimpin kebaktian dalam bahasa Jawa sehingga mudah dimengerti oleh jemaat. Selain itu, dirinya dikenal mampu mengendalikan roh jahat dan iblis, salah satunya menggunakan keris.

Cara duduk ketika beribadah adalah duduk bersila dan para jemaat Sadrach harus menyentuh dan mencium kakinya. Hal ini seperti ketertundukan para murid terhadap Yesus, dalam kapasitas ini, Sadrach menganggap dirinya sebagai penampakan “sang rasul Yesus ke orang Jawa”.

“Sadrach membangun agama Kristen Jawa yang tetap dekat sekali dengan bentuk-bentuk keagamaan yang dikenal di dalam Islam dan ngelmu. Gedung gereja disebut masjid dan dibangun dengan bentuk masjid di halaman rumah pendeta. Pendeta dijuluki imam dan sebelum kebaktian dimulai sebuah bedug dipukul. Sesudah acara pembaptisan diadakan slametan,” ujar Alle G Hoekema, sebagaimana dikutip Aritonang.

Karangjasa kemudian menjadi tempat berkumpul orang-orang Kristen dari berbagai daerah. Jemaatnya meningkat pesat, bisa mencapai hampir 2.500 hanya dalam waktu tiga tahun (1870-1873), selama waktu itu lima gereja didirikan.

Sesuai tradisi Jawa, Sadrach juga menambahkan nama baru, Surapranata, untuk menunjukkan posisi barunya. Surapranata memiliki arti “dia yang berani mengatur atau memerintah”.

Tetapi bagi orang yang iri, nama itu disalahartikan menjadi “Tuhan yang memerintah”. Pasalnya setelah nama itu, dirinya melengkapi namanya menjadi Raden Mas Ngabehi Surapranata.

Tidak hanya nama, Sadrach tampil bak seorang raja, lengkap dengan dayang-dayang. Bahkan ada yang melaporkan bahwa dirinya sendiri pernah mengaku sebagai Kristus atau Ratu Adil.

Belanda menjadi khawatir

Sejak pertengahan kedua abad ke 19, Karangjasa dikenal sebagai tempat mengabarkan Injil oleh para pejabat kolonial Belanda, misi Gereja-gereja Gereformeerd Belanda (ZGKN), dan orang-orang Kristen Jawa.

Tetapi pemerintah kolonial menganggap Sadrach sebagai pemimpin pemberontak yang mengancam stabilitas, ketentraman, dan ketertiban umum. Sedangkan para Zending Belanda menganggap kekuasaan Sadrach sudah melampaui batas kekristenan.

“Mereka menuduh Sadrach sebagai pemimpin orang Jawa sesat dan menganggap ajarannya sebagai campuran antara pemikiran Kristen dan bukan Kristen. Jemaatnya dianggap orang-orang Kristen palsu atau jemaat Islam yang berpakaian Kristen,” tulis Soetarman Soediman Partonadi dalam Komunitas Sadrach dan Akar Kontekstualnya.

Peningkatan jumlah jemaat Sadrach juga menimbulkan kecurigaan pemerintah setempat. Sadrach dianggap sebagai ancaman politik. W. Ligtvoet, residen Bagelen, mencari cara untuk menyingkirkan Sadrach.

Pengurus NGZV, Bieger mengemban misi besar itu, berkali-kali dirinya meminta Sadrach mempercayakan jemaatnya kepadanya. Karena Bieger gagal, Ligtvoet turun tangan dengan menahan Sadrach sebagai tahanan rumah selama tiga bulan.

Alasan penahanan, Sadrach menolak vaksinasi cacar yang saat itu sedang mewabah, dengan alasan agama. Karena tak cukup bukti untuk mengajukan ke pengadilan, Sadrach dibebaskan dengan keputusan Gubernur Jenderal pada 1 Juli 1882.

Dinamika Penyebaran Agama Kristen dan Munculnya Gereja-Gereja di Jawa

“Takut para Jemaatnya ngamuk,” tulis M, Alie Humaedi dalam Keresahan Sosial dalam Isu Kristenisasi ataukah Islamisasi.

Setelah bebas, dirinya kembali ke Karangjasa, pamor dan wibawanya tak tergoyahkan. Pada 17 April 1883, Sadrach dan para sesepuh setempat secara resmi menamakan diri Golongane Wong Kristen Kang Mardika (Kelompok orang Kristen yang merdeka).

Sejak 1893, dirinya memutuskan hubungan dengan para zendeling, karena tak kunjung diangkat sebagai pendeta sehingga tak berhak menjalankan sakramen. Ternyata sebagian besar warga Kristen Jawa tetap setia mengikutinya.

Selanjutnya sejak 1894, Sadrach resmi beralih ke Gereja Kerasulan yang berpusat di Jawa Barat, dan diangkat menjadi rasul, jabatan yang dipegang hingga meninggal pada tahun 1924. Dia mendapat sebutan khusus kiai.

Jemaat Sadrach mencapai 7.000 pada 1890 dan 20.000 ketika dirinya meninggal. Jemaatnya tersebar di seluruh Karesidenan Jateng. Tetapi perkembangan jemaah ini hanya mampu bertahan hingga kisaran tahun 1939.

Selain di Karangjasa, Gereja Kerasulan yang masih bertahan hanyalah di wilayah Desa Kasimpar Petungkriyono Pekalongan Jateng (sampai tahun 1985), yang pendiri dan majelisnya merupakan generasi langsung dari murid Sadrach.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini