Kiprah Keturunan Arab Hadrami dalam Dinamika Keislaman dan Kebangsaan di Indonesia

Kiprah Keturunan Arab Hadrami dalam Dinamika Keislaman dan Kebangsaan di Indonesia
info gambar utama

Keturunan Arab yang berada di Indonesia hampir 90 persen berasal dari kota Hadramaut, Yaman Selatan. Keturunan Hadrami ini ternyata memiliki peran dalam berbagai sektor, antara lain sosial, budaya, politik, dan ekonomi.

Seperti dicatat dalam sejarah, keturunan Hadrami telah banyak memainkan peran di Indonesia di antaranya Wali Songo, Imam Bonjol, Sultan Hamid II, Husein Mutahar, AR Baswedan, Ali Alatas, hingga Alwi Shihab.

Sejak lama, sebelum melakukan migrasi, orang-orang Hadrami sudah dikenal sebagai pedagang dan pelaut. Perdagangan maritim mereka sudah mulai aktif sejak sekitar lima abad sebelum masehi.

Sempat mengalami kemunduran, pedagang Hadrami ini kembali bangkit setelah masuknya agama Islam. Mereka berdagang sambil menyebarkan agama Islam. Rute perdagangan orang-orang Hadrami salah satunya mencapai Nusantara.

Diaspora Arab di Indonesia: Siapa, Kapan, dan Bagaimana

Sejak abad ketujuh, para pedagang Hadrami sudah tampak di wilayah-wilayah Nusantara. Mereka berniaga dan kembali dengan membawa hasil bumi yang nantinya akan diperdagangkan di tempat lain.

Alasan utama orang-orang Arab datang ke Nusantara adalah mencari keuntungan ekonomi, khususnya komunitas Hadrami. Hal tersebut dilakukan karena di negara mereka sangatlah tandus dan gersang.

“Intensitas hujan yang sangat rendah menyebabkan tanah di negara mereka sangat sulit untuk ditanami. Maka dari itulah mereka memilih untuk berdagang ke luar negeri untuk mencari keuntungan yang lebih besar,” tulis Adam Malik dalam Jam’iyyah Al-Irsyad Al Islamiyah.

Para pedagang Arab dari Hadramaut adalah orang pertama yang menyebarkan agama Islam ke Indonesia. Dalam waktu singkat orang Hadrami berubah menjadi da’i untuk menyebarkan Islam ke seluruh tempat yang mereka singgahi.

Ada beberapa faktor yang memudahkan kaum Hadramaut untuk bermukim di Indonesia, yaitu adanya kegiatan perdagangan, sebagian besar dari mereka bermazhab Syafi’i, penguasaan terhadap bahasa dan sastra Arab dan terbukanya masyarakat Nusantara.

Van den Berg, seorang pejabat pemerintah Belanda menyebut orang Hadrami ini bila menetap di Indonesia, akan berbaur dengan masyarakat pribumi. Beberapa dari mereka akan menikahkan anaknya dengan golongan bangsawan atau pedagang besar.

“Bagi golongan bangsawan dan pedagang besar akan sangat bangga jika mereka dapat mengambil menantu atau ipar dari kalangan Arab, terutama dari kalangan Sayyid (keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Husain bin Ali bin Abi Thalib),” jelas Budi Sulistiono dalam Kontribusi Komunitas Arab di Jakarta Abad 19 dan Awal Abad 20 Masehi.

Komunitas Hadrami

Dari hubungan perkawinan ini banyak di antara orang-orang Arab Hadrami yang kemudian diangkat menjadi penguasa daerah, seperti di Pontianak, Demak, Cirebon, dan Mataram. Orang Hadrami lantas masuk dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi di Nusantara.

Disebutkan oleh Van den Berg dalam sensusnya bahwa pada tahun 1885 jumlah orang Arab dan Hadramaut di Jawa dan Madura berkisar 10.888 jiwa, sedangkan di luar Jawa berkisar 9613 jiwa.

Di Batavia sendiri (termasuk Meester Cornelis atau Jatinegara, Bogor, dan Tangerang) terdapat sekitar 1662 orang Arab. Padahal pada tahun 1859, jumlah orang Arab hanya mencapai 312 jiwa.

Keberadaan para sayyid atau habaib di tanah Betawi memiliki peranan sangat penting dalam menyiarkan agama Islam. Para habaib juga mengajarkan ilmu tasawuf dan thariqah alawiyyin, seperti masyarakat Betawi di Batu Ceper.

Peranan ulama dan habib, sangat penting dan menentukan perjalanan sejarah Islam, bahkan bisa dikatakan maju dan mundurnya perkembangan umat Islam tergantung kegiatan dakwah ulama, termasuk peranan habaib.

Contoh aktivitas sebagai ulama dan da’i yaitu strategi yang pernah dilakukan oleh Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus. Dirinya terlebih dahulu membangun masjid pada abad 18 yang kini lebih dikenal dengan nama masjid Luar Batang, di Jakarta.

Pengaruh habaib sebagai pendakwah tidak terbantahkan. Mereka dekat dengan pemerintah kolonial dan penguasa lokal seperti para sultan dan raja-raja, sehingga para habib ini kian disegani.

20 Seniman Bumi Blambangan Sukses Rangkul Pujian di Arab!

Misalnya pada Kesultanan Islam di Kalimantan yang diperintah bangsawan Arab bernama Sultan Syarif Abdurrahman pada abad ke 18. Masuknya Islam di Kalimantan ini juga tidak luput dari perjuangan ayahnya, Habib Husein Alqadrie.

Perlu diketahui bahwa Pemerintah Belanda membagi masyarakat Indonesia menjadi tiga golongan masyarakat Indonesia untuk urusan administratif dan penempatan wilayah, kaum Eropa, Asia, dan warga pribumi.

Seperti kaum pendatang Asia lain, pembagian ini membuat orang Arab Hadrami mulanya cukup susah untuk berdakwah kepada kaum pribumi. Namun mereka diuntungkan karena minimnya konflik, akibat jumlahnya yang minoritas dan persamaan dalam sisi agama.

Para habaib ini mulanya memilih untuk cenderung tidak politis. Selain membawa ajaran syariat Islam, mereka juga memperkenalkan tarekat Alawiyah. Melalui sistem tarekat ini, mereka mendakwahkan ajaran Islam, berinteraksi dengan para ulama lokal.

Bentuk interaksi ini misalnya adalah peringatan maulid Nabi. Tradisi ini penting bagi kalangan Ba’alawi - merujuk pada datuk mereka Alawi bin Ubaidillah -. Melalui maulid ini, ajaran Alawiyyin, serta teladan Nabi Muhammad SAW diajarkan kepada khalayak luas.

Berperan bagi kebangsaan

Kalangan habib yang awal hadir di Hindia Belanda mulanya memiliki kegamangan, pada satu sisi mereka perlu mempertahankan identitas sebagai kalangan Arab Hadramaut yang terpandang.

Namun di sisi lain, mereka berbenturan dengan budaya dan keharusan untuk melebur dalam keindonesiaan yang menjadi tempat hidup. Dalam kegamangan ini, ide Islam reformis dan nasionalis mulai mempengaruhi pemuda keturunan Arab di Indonesia.

Sebagian orang Arab Hadrami ini, salah satunya Ahmad Surkati mendirikan organisasi Al Irsyad pada tahun 1914. Organisasi ini menjadi wadah aspirasi warga Arab, baik dari kalangan sayyid atau non-sayyid.

“Orang-orang Arab reformis ini menyatakan sudah tidak ada lagi darah murni habib, yang ada kini hanyalah peranakan (muwallad),” jelas Muhammad Iqbal Syauqi dalam Kontestasi Pengaruh Kaum Habaib dan Arab Hadrami di Indonesia.

Menurut Iqbal, pernyataan ini cukup menjanjikan dan tampak semacam adu pengaruh di antara keturunan Arab Hadrami. Kesetaraan antar orang Arab, jelasnya, menjadi salah satu isu yang paling disuarakan.

Pada arus nasionalisme, Iqbal menyebut orang-orang Hadrami juga mendirikan Perhimpunan Arab Indonesia (PAI) pada tahun 1934 yang berusaha menyertakan kaum Arab dengan pergerakan nasional, menjadi suatu partai.

Trio habib dari Kwitang, Habib Ali Al Habsyi, Habib Salim bin Jindan, serta Habib Ali Alatas juga memberikan era baru bagi dakwah Islam. Kwitang kemudian menjadi pusat keislaman Betawi bahkan seantero Indonesia.

Pada masa kini politik identitas mengalami penguatan dan beririsan dengan gerakan populisme Islam, salah satunya akibat sepak terjang keturunan Arab Hadrami, Habib Rizieq Shihab.

Menurut guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, Azyumardi Azra menyebut Habib Rizieq memiliki pengaruh kuat, terutama di kalangan bawah karena diyakini memiliki garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW.

“Ini sangat mempengaruhi Muslim lokal, karena dianggap sebagai panutan,” ucapnya yang dilansir dari BBC Indonesia.

Walau begitu, ahli sosiologi dari National University of Singapore, Syed Farid Alatas menyebut masyarakat keturunan Arab di Indonesia, seperti masyarakat pada umumnya, tidak berlabuh dalam satu aliran politik atau keagamaan yang tunggal.

Seperti masyarakat lainnya, Arab Hadrami terdiri dari beberapa aliran, ada yang menganut tarekat Ba’alawi, ada juga yang terpengaruh oleh aliran-aliran lain dalam Islam, ataupun aliran seperti liberalisme atau sosialisme.

Karena itulah, bagi Farid, sikap eksklusif tidak cocok dengan keturunan Arab Hadrami. Menurutnya para pendahulu dari tarekat Alawiyin tidak pernah mendiskriminasi penganut aliran lainnya.

“Jadi memperkokoh identitas tidak semestinya mengakibatkan sikap eksklusivisme,” ujar Farid.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini