Kisah Wahyu Gagak Emprit, Pembawa Trah Mataram yang Diperebutkan

Kisah Wahyu Gagak Emprit, Pembawa Trah Mataram yang Diperebutkan
info gambar utama

Pada Babad Tanah Jawa, dikisahkan seorang ulama yang berjuluk Ki Ageng Giring III. Dirinya tidak dapat dipisahkan dengan terbangunnya Kerajaan Mataram Islam yang kelak menjadi cikal bakal bersatunya Nusantara.

Ki Ageng Giring diperintah oleh Sunan Kalijaga untuk menanam sepet (sabut kelapa kering) yang kemudian tumbuh menjadi pohon kelapa. Kelak pohon kelapa menghasilkan degan (buah kelapa muda).

Pencarian wahyu keraton juga dilakukan oleh salah satu murid Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan melakukan tirakat di Kembang Semampir (Bang Lampir), Panggang,Gunung Kidul.

Ketika itu Ki Ageng Giring mendapatkan wisik (bisikan gaib) saat sedang memanjat pohon untuk menyadap getah. Di tempat itu, ada sebatang pohon kelapa, dekat pohon yang dipanjat Ki Ageng.

“Pada saat itu buahnya hanya satu dan masih muda (degan). Ki Ageng sedang memasang tabung bambu di atas pohon kelapa, kemudian mendengar suara. Ki Ageng Giring, ketahuilah, siapa yang minum air degan itu habis seketika, kelak seanak turunnya akan menjadi Raja Agung di tanah Jawa,” demikian bunyi dari bisikan gaib itu.

Ki Ageng Giring setelah mendengar bisikan gaib itu, segera turun dari pohon yang dia panjat. Di bawah setelah selesai meletakkan tabung penyadap getah, kemudian cepat-cepat memanjat pohon tadi. Maka dipetiknya kelapa muda itu dan dibawa turun.

Namun ada syarat khusus, bahwa air degan ini harus habis seketika, sedangkan Ki Ageng Giring pada saat itu belum haus sangat, karena itu dirinya memilih meminum air kelapa itu pada siang hari.

Pengadilan Surambi, Ketika Hukum di Tanah Jawa Ditetapkan dari Serambi Masjid

Ketika Ki Ageng Giring sedang pergi ke hutan. Sahabatnya Ki Ageng Pemanahan tiba di kediaman Ki Ageng Giring. Ki Ageng Pemanahan yang sangat haus setelah berjalan jauh lantas menenggak air kelapa ‘gaib’ tersebut.

Ki Ageng Giring ketika kembali dari hutan hanya bisa meratapi saat mendapati air kelapa ‘gaib’ yang dia petik sudah tidak ada di tempatnya. Ki Ageng Pemanahan yang terdapat di situ, mengakui dirinya yang meminum air kelapa muda tersebut.

Ki Ageng Giring setelah mendengar perkataan sahabatnya itu merasa seakan hancur hatinya, sedih dan sangat kecewa. Lama dirinya terdiam. Pupus sudah dirinya menjadi penguasa di tanah Jawa.

Sebagai seorang yang memiliki kelebihan, maka dirinya pun mengetahui akan takdir, sudah suratan dari Tuhan, bahwa Ki Ageng Pemanahan akan menurunkan raja-raja yang menguasai tanah Jawa.

Janji Tujuh Turunan Mataram

Betapa kecewa Ki Ageng Giring, melihat kenyataan yang terjadi sehingga hanya bisa pasrah. Namun dia menyampaikan maksud kepada Ki Ageng Pemanahan agar salah seorang keturunannya kelak bisa turut menjadi raja di Mataram.

Rupanya Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan terlibat dalam pembicaraan penting mengenai “wahyu” ini. Mereka mencari petunjuk dengan melakukan tirakat, berpuasa dan berdoa memohonkan petunjuk serta arahan dari Sang Pencipta Jagad.

Ki Ageng Giring melakukan tirakat untuk memperoleh Wahyu Mataram di Kali Gowang. Istilah gowang konon berasal dari suasana batin yang kecewa (gowang) karena gagal meminum air degan yang diminum Ki Ageng Pemanahan.

Sedangkan Ki Ageng Pemanahan melakukan tirakat di luar rumah Ki Ageng Giring. Hal ini cukup menyita banyak waktu hingga menjelang malam hari itu, keduanya bersepakat menyebut nama wahyu yang diperoleh dengan “Wahyu Gagak Emprit".

Dua sahabat ini kemudian melanjutkan kembali pembicaraan tentang berbagai kisah, cerita-cerita masa lalu dan pengetahuan tentang wahyu. Berlanjut kepada keberadaan sejarah Kerajaan sejak zaman Hindu - Buddha sampai Islam.

Dalam diskusi mengenai wahyu tersebut diakhiri dengan permintaan Ki Ageng Giring agar diberikan jatah mengisi harapan kemulian di masa mendatang. Akan tetapi, Pemanahan masih belum menyetujui permintaan tersebut.

Pada permohonan terakhir itu, Ki Ageng Pemanahan dapat memahami perjuangan Ki Ageng Giring. Akhirnya, Ki Ageng Pemanahan menyetujui bahwa kelak keturunan Ki Ageng Giring akan menduduki tahta di Mataram.

Misteri Bunga Widjojo Koesoemo, Tanaman Penobatan Para Raja Jawa

“Penghargaan itu kemudian menjadi kesepakatan dari mereka bahwa setelah enam generasi pemangku keraton dipegang oleh keturunan dari Ki Ageng Pemanahan, barulah diberikan kepada pemangku keraton yang masih keturunan langsung dari Ki Ageng Giring,” jelas Matheus Nastiti Nurcahyo Widjaja dalam Ritual Nggayuh Wahyu di Pertapaan Bang Lampir: Kajian Foklor.

Pembagian kekuasaan antara keturunan Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring dapat dilihat dari urutan penguasa Mataram:

1. Panembahan Senopati, putra Ki Ageng Pemanahan atau Kiai Ageng Mataram
2. Susuhunan Adi-Prabu Hanyakrawati, putra Panembahan Senopati
3. Panembahan Martapura, putra Hanyakrawati
4. Sultan Agung Hanyakrakusuma, putra Hanyakrawati
5. Amangkurat Agung (Tegal-Arum), putra Sultan Agung Hanyakrakusuma
6. Amangkurat Agung II, putra Amangkurat I

Pada keturunan selanjutnya tahta Mataram ditempati oleh Pangeran Puger atau Pakubuwono I yang konon adalah keturunan KI Ageng Giring. Pada Babad Nitik Sultan Agung, dikisahkan Ratu Labuhan, permaisuri Amangkurat I melahirkan bayi yang kurang sempurna.

Bersamaan itu, istri Pangeran Arya Wiramanggala dari Kajoran, Klaten yang masih keturunan Giring, Gunungkidul melahirkan seorang bayi sehat dan tampan. Amangkurat I yang mengenal Panembahan Kajoran sebagai orang sakti menitipkan anaknya.

Panembahan Kajoran merasa inilah momentum untuk menjadikan keturunannya sebagai raja. Dengan cerdik bayi Wiramanggala (kelak jadi Pangeran Puger) dikembalikan ke Amangkurat I dengan menyatakan upaya penyembuhan berhasil.

Singkat cerita, ketika Amangkurat III naik ke tahta muncul pergolakan yang terjadi dari dalam istana. Rakyat ketika itu juga meyakini bahwa wahyu keprabon (tanda-tanda gaib untuk seorang calon raja) jatuh kepada Pangeran Puger, pamannya.

Amangkurat III juga punya tabiat buruk, dirinya mudah marah, kerap bertindak sewenang-wenang, dan terkenal sebagai seorang hidung belang. Akhirnya dirinya hanya tiga tahun memerintah Mataram dan menyerahkan kekuasaanya kepada pamannya.

Dengan demikian, menjadi benarlah bahwa pada urutan yang ke-7, keturunan Ki Ageng Giringlah yang menjadi raja Mataram. Meskipun silsilah itu diambil dari garis perempuan. Namun tetap saja Pakubuwono I adalah raja yang berdarah Giring.

Janji yang telah ditepati

Pada 2015 silam, Sultan Hamengkubawono X mengeluarkan Sabda Raja yang salah satu poinnya adalah menyatakan perjanjian antara Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring telah selesai.

Dasare perjanjian Ki Ageng Giring sampun rampung, mboten saged dipun ewahi (perjanjian antara Ki Ageng Giring sudah selesai dan itu tidak bisa diubah),” kata Sultan.

Legenda Kanjeng Ratu Kidul, Simbolisasi Indonesia Sebagai Bangsa Bahari

Sultan juga menjelaskan, Mataram Lama adalah dari zaman Ken Arok, Singosari sampai Kerajaan Pajang. Sedangkan Mataram Baru berdasar pada perjanjian antara Ki Ageng Pemanahan.

“Sekarang perjanjian itu sudah berakhir, dan sudah tidak ada lagi perpisahan antara Mataram Lama dengan Baru,” imbuhnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini